MOJOK.CONgana merasa nggak sih, akun bot tukang fitnah Bintang Emon sefrontal itu menunjukkan keabsurdannya? Kayak berada di kubu A, padahal sebenarnya nggak?

Beberapa hari sebelum Bintang Emon dituduh sebagai pemakai sabu-sabu, Fadjroel Rachman menampik tuduhan random bahwa Istana memelihara buzzer yang kerap melakukan doxing kepada para aktivis dan oposisi. Anggapan ini memang sudah lama bergulir, dan masih dipercaya oleh banyak orang—bahkan sampai saat ini.

Juru bicara kepresidenan itu, kepada jutaan penonton Rossi di Kompas TV, termasuk saya, mengatakan, yang jika dikutip secara verbatim, “Saya pastikan Istana tidak memelihara buzzer apapun, apalagi akun bot.”

Saya sepakat pada Pak Fadjroel, meski air mukanya dipenuhi oleh rasa bimbang dan canggung. Pemerintah yang baik dan senantiasa saya dokooong selama dua periode ini—dan bila perlu pada periode mendatang hingga kelak di akhirat—paling banter memelihara fakir miskin dan anak terlantar (sebagaimana amanat konstitusi) bukan buzzer.

Lagian, Pak Presiden Jokowi seingat saya juga cuma punya hobi memelihara anakan katak alias cebong, bukan akun bot di Twitter. Jadi, tolong jangan muncul tudingan seenak jidat begitu dong, Gaes.

Fakta bahwa orang-orang yang vokal menggencarkan kritik (atau, dalam kamus orang-orang sinis biasa disebut SJW) kerap kali mendapat perlakuan tak menyenangkan sesaat setelah melempar suara kritik atau sindiran, itu tak melulu otomatis ada kaitannya dengan pemerintah.

Boleh jadi ada turut campur semesta di belakangnya, atau serentetan kebetulan yang tak disengaja belaka. Semuanya serba kebetulan, dan tak disengaja—sebagaimana dalih tuntutan untuk terdakwa penyiraman Novel Baswedan.

Sebab, saya yakin, tak semua hadir dengan komposisi biner belaka. Ada kritik, ada counter. Ada yang nyindir, ada yang nyerang pakai fitnah. Dunia tak selalu hitam putih, perwujudan cinta yang uwuwuw tak selalu soal Rangga dan Cinta, bisa juga di tengahnya nyempil Mili dan Mamet. Dunia terlalu kompleks untuk model penalaran hitam-putih macam begitu.

Baca juga:  Iqbal AJi Daryono, Buzzer 200 Juta per Posting: Saya Punya 7 Admin

Ada saja kelompok abu-abu nggak jelas, persis kayak akun bot tukang fitnah Bintang Emon itu. Seperti berada di kubu A, padahal sebenarnya mendukung kubu B—atau sebaliknya. Dan itu yang bikin saya curiga akun ini bukan berada di pihak pemerintah atau kepolisian.

Saya ambil satu contoh untuk menjelaskan kecurigaan saya ini. Yakni; soal perkara durasi serangan ke Bintang Emon.

Gini. Ngana bayangkan coba, Negara butuh waktu yang tak sebentar untuk mengusut kasus Novel Baswedan. Sekitar dua tahun lebih sejak pertama kali kasus bergulir. Nasib buruk itu berlaku juga dengan mandeknya beberapa kasus pelanggaran HAM, yang tak menunjukkan progres sedikit pun.

Sementara para pemfitnah Bintang Emon ini malah berlaku sebaliknya. Mereka begitu tangkas dan terlatih saat dihadapkan dengan musuh. Ada sentilan dikit dari Emon, langsung gerak.

Cukup satu dua kali ngetwit untuk menerkam mangsanya, dengan tudingan tak main-main; sabu-sabu. Bukan bertahun-tahun, tidak juga berbulan-bulan, langsung garcep meski cuma sekadar bikin meme dengan desain sangat ambyar.

Kalau memang benar ini adalah akun yang terafiliasi dengan pemerintah atau kepolisian, seharusnya meme ini telat datangnya. Nggak yang tepat waktu begini.

Lah iya dong, untuk investigasi kasus Novel aja perlu waktu dua tahunan lebih kok, antisipasi pandemi lelet berbulan-bulan, masak iya yang ini jadi garcep? Dapani?

Dengan garcepnya para pemfitnah Bintang Emon, kita kayak dikasih ilustrasi bagaimana bedanya tipikal akun bot ini; garang dan ogah kompromi dengan musuh. Satu perangai yang jadi barang gaib di pemerintahan dan kepolisian kita, wabilkhusus dalam penanganan kasus Novel Baswedan.

Kecurigaan kedua saya; tanpa diduga fitnah dari akun ini justru menggerakkan banjir simpati untuk Bintang Emon dan Novel Baswedan. Dukungan jadi semakin meningkat berlipat-lipat ganda.

Baca juga:  Memahami Logika Jaksa Kasus Novel Baswedan: Pelaku Tak Sengaja Siram Air Keras ke Kepala

Bukannya menyebarkan citra buruk untuk Bintang Emon, yang terjadi malah mencoreng wajah pemerintah, citra kepolisian, dan juga institusi kejaksaan di Indonesia. Ibarat menepuk air kencing, terpercik muka sendiri jadinya.

Lagian ya, pemerintah itu kan isinya orang-orang pinter semua, masak iya memerkerjakan orang pegang akun bot untuk bikin fitnah tanpa riset dulu? Ya, seburuk-buruknya fitnah, hambok cari relasi yang agak relevan. Nggak yang tiba-tiba main tuduh pakai narkoba. Saking nggak punya bahan atau gimana sih, Bos?

Dengan kebodohan yang terlalu mindblowing itu pula saya justru makin ragu kalau akun ini betulan lagi nyerang Bintang Emon. Dari twitnya yang nggak masuk akal itu, pihak yang diserang menurut saya malah pemerintah dan kepolisian sendiri.

Sebab dengan fitnah yang ujug-ujug dan sangat absurd itu, saya justru sungujon, jangan-jangan tukang fitnah Bintang Emon sebenarnya sama-sama nggak suka dengan pemerintah dan kepolisian kayak kita?

Jadi bukan tidak mungkin pemakai akun ini pakai narasi seolah-olah berada di pihak pemerintah dan kepolisian, padahal sedang ngancurin citra mereka dari dalem. Lagian, asal ngana tahu aja, nggak mungkin banget rasanya kalau akun yang dicurigai berafiliasi dengan polisi atau pemerintah segoblok itu bikin fitnah.

Di balik kegelisahan tersebut, sejujurnya saya malah jadi kepengin angkat topi pada akun tukang fitnah Bintang Emon ini. Paling tidak, mereka justru berhasil menggencarkan dukungan untuk Novel Baswedan dengan cara yang begitu sublim.

Plus justru mendorong seluruh netijen di Indonesia untuk makin memerhatikan perkara kebebasan berbicara dan berpendapat.

Sebuah cara tak tertebak yang saya sebut sebagai… “(rencana) buzzer yang tertukar”.

BACA JUGA Bintang Emon Mungkin Bisa Diserang Karakternya, Tapi Tidak dengan Humornya atau tulisan M. Nanda Fauzan lainnya.