Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bintang Emon Mungkin Bisa Diserang Karakternya, tapi Tidak dengan Humornya

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
15 Juni 2020
A A
bintang emon stand up comedian diserang buzzer video lawakan komentar novel baswedan mojok.co

bintang emon stand up comedian diserang buzzer video lawakan komentar novel baswedan mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada banyak kritik yang lahir, namun kritik melalui video yang dibikin oleh Bintang Emon boleh dibilang menyasar lebih banyak orang.

Seorang guru SD didebat oleh muridnya, “Kok sudah setengah abad merdeka kita cuma punya dua presiden?”

Dengan datar dan sabar, Pak Guru menjawab, “Ah, nggak. Soeharto adalah presiden ke-enam republik ini, Nak. Kabarnya, presiden ke-tujuh nanti namanya sama. Tak tahulah nanti siapa presiden ke-delapan nanti.”

Itulah salah satu anekdot atau lelucon yang ada di buku Mati Ketawa cara Daripada…, sebuah buku kecil yang diterbitkan khusus sebagai media perlawanan terhadap rezim orde baru.

Karena digunakan sebagai sebuah alat perlawanan, maka semua komponen penyusunan di dalam buku tersebut pun mau tak mau harus dirahasiakan. Nama penulisnya dirahasiakan, nama penerbitnya disamarkan menjadi Penerbit Pustaka Goro-Goro, percetakannya pun ditulis Percetakan PT. Manakutahu. Yang paling unik tentu label hak ciptanya: “Hak cipta @rakyat Indonesa yang di tengah tekanan dn penderitaannya masih bisa berhumor ria.

Menurut penyusunnya, terbitnya buku berukuran kecil tersebut merupakan sebuah usaha tersendiri untuk membuktikan bahwa rakyat Indonesia masih bisa melawan rezim dengan perlawanan yang selemah-lemahnya iman. Sebuah bukti bahwa rakyat tak mau tunduk dan tak mau kalah oleh rezim yang semakin represif.

Humor dipilih karena memang itulah satu-satunya senjata (selain tentu saja, doa) yang masih bisa dilakukan dengan risiko yang paling minim.

Boleh jadi pers dibungkam, aktivis prodemokrasi dipenjara, organisasi kemahasiswaan dan pemuda dibonsai, wakil rakyat sejati di-recall, aspiirasi rakyat disumbat, tapi siapa yang bisa melarang orang bikin humor?

Humor adalah katarsis bagi orang yang sudah tidak bisa melawan di dunia nyata. Humor menjadi satu dari sedikit ruang bagi masyarakat untuk menghadapi kehidupan yang keras.

Sejak lama, humor memang menjadi entitas yang halus namun menusuk. Ia bersemayam di dalam ruang antara fakta dan tidak. Antara serius dan tidak. Dan karenanya, ia susah untuk dihadapi secara langsung.

Pada titik tertentu, ia mampu menjadi platform perlawanan yang tajam namun menyenangkan.

Lihatlah bagaimana pengelola akun-akun agama garis lucu mencoba mendobrak hegemoni keberagamaan yang entah kenapa terasa begitu kaku dan keras. Akun-akun agama garis lucu itu, membawa kelenturan dan kelucuan dari agama dan alirannya masing-masing. Dan itu menyenangkan.

Ia seakan mampu menjadi lawan yang tangguh bagi para pemeluk agama yang “garis keras”.

Atau lihatlah bagaimana akun capres fiktif Nurhadi-Aldo yang di Pilpres 2019 mampu menjadi penantang yang serius bagi dua pasangan capres resmi versi KPU. Nurhadi-Aldo, tak bisa tidak, mampu menjadi agitator bagi masyarakat bahwa dua capres yang ada bukanlah pilihan yang bagus dan layak.

Rasanya tak berlebihan jika menyebut banyak orang yang kemudian golput karena munculnya Nurhadi-Aldo.

Humor selalu berhasil melawan dengan caranya sendiri. Dan itu pula yang dilakukan oleh stand up comedian Bintang Emon saat mengkritik isu-isu sosial dan politik dalam video-video singkat yang kemudian ia unggah di akun sosial medianya.

Video kritik lucu yang dibikin oleh Bintang menjadi sangat populer bukan hanya karena konteks isu yang ia usung, lebih dari itu, konten humornya juga segar dan sangat relate dengan kehidupan sehari-hari.

Banyak orang menyukainya. Orang-orang yang ingin berteriak dan mengemukakan kemuakannya terhadap ketidakadilan yang terjadi merasa terwakilkan oleh video yang dibikin oleh Bintang Emon.

Iklan

Ada banyak kritik yang lahir, namun kritik melalui video yang dibikin oleh Bintang Emon boleh dibilang menyasar lebih banyak orang. Sebabnya tentu saja tak lain dan tak bukan adalah karena ia lucu. Orang-orang menyukai kritik terhadap ketidakadilan, orang-orang juga menyukai kelucuan, maka ketika ada yang memadukan keduanya, hanya tinggal menunggu waktu sampai ia menyebar dengan sangat terkendali.

Video-video yang dibikin oleh Bintang Emon hampir tak pernah gagal.

Kita selalu menantikan kritik lucu ala bintang dalam setiap peristiwa sosial dan politik yang membikin kita geram.

Munculnya Bintang Emon sebagai “calon” corong perlawanan terhadap isu-isu yang menyangkut pemerintah pun menjadi semacam harapan dan kesenangan baru. Mungkin berlebihan menganggap Bintang sebagai lawan pemerintah dalam isu komunikasi publik. Namun pada kenyataannya, arahnya memang sedang menuju ke sana.

Ketika kemudian karakter Bintang Emon diserang oleh buzzer-buzzer dengan menyebarkan opini buruk terhadap Bintang, maka sebenarnya itu hal yang memang sudah bisa diprediksi. Akan selalu ada pihak yang tak senang dengan kritik yang licin seperti yang dilakukan oleh Bintang Emon, apalagi dengan impresi yang sangat besar.

Kita tak tahu, akan sejauh mana serangan kepada Bintang, apakah berhenti hanya sebatas serangan karakter di sosial media atau sampai ke arah serangan “pemidanaan”, yang jelas, perlawanan menggunakan humor akan selalu ada dan tak akan pernah bisa dikalahkan.

“Manusia mempunyai senjata yang tak perlu diragukan lagi keampuhannya, yakni tertawa,” kata Mark Twain, “Menghadapi serangan orang tertawa, tak ada yang bisa bertahan.”

BACA JUGA Langkah-Langkah Belajar Menjadi Lucu untuk Orang yang Tidak Lucu dan tulisan Agus Mulyadi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 16 Juni 2020 oleh

Tags: bintang emon
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Yang Fitnah Bintang Emon itu Jangan-jangan Lagi Nyindir Jaksa Kasus Novel Juga

16 Juni 2020
terima kasih komika bintang emon arditerwanda abdurrahim arsyad arie kriting yudha keling fico fahriza lawakannobita shizuka stand up comedy naruto jiraiya #DPO9 mojok.co

Lawak di Tengah Kacaunya Lini Masa adalah Oase. Terima Kasih, Komika

23 Maret 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026
Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.