MOJOK.CO Katanya, Cebong dan Kampret sebaiknya “dikubur” saja. Tapi, apa mereka-mereka itu nggak tahu betapa penting keduanya dalam kehidupan politik Indonesia???

Jika kita peduli pada masa depan Indonesia dan memiliki cita-cita mewujudkan Total Destruction masyarakat madani, mari kesampingkan dulu sentimen terhadap Cebong dan Kampret. Sebab, nasib mereka kini sedang berada di ujung tanduk, mylov, dan ini serius.

“Sudahlah. Kehendak rakyat sudah ditentukan di 17 April kemarin, di hari pencoblosan, sudah. Nah setelah itu, sudahlah, nggak usah ada lagi istilah Cebong-Kampret. Stop,” ucap Pak Jokowi saat ditanya tanggapannya tentang dua kubu ini, demikian juga dengan Kiai Ma’ruf Amin yang bilang sebaiknya dua kubu ini dikubur saja.

Tapi monmaap, nih, Pak—memangnya Cebong dan Kampret ini kenangan bersama mantan, sampai harus dikubur segala???

Saya jadi khawatir, setidaknya karena dua hal.

Pertama, pasti saya akan selow saja dan tak mau ambil peduli jika perintah itu datang dari sobat misqueen macam kalian. Nah masalahnya, pernyataan ini datang dari ulama dan umara sebagai pemuka masyarakat yang paling utama. Kalau enggan menerima arahan dari mereka, jelas kita bakal auto-dilaknat dunia dan akhirat oleh segelintir orang. Kedua, kalau mencermati bangunan logika yang dipakai sebagai kredo untuk menghentikan kedua kubu ini, kok rasanya wagu betul, ya?

Alasan Pakde Jokowi dan beberapa orang lainnya, sih, sederhana. Cebong dan Kampret—seperti kita tahu—dianggap telah memecah belah tali persaudaraan bangsa Indonesia, menjadi penerima dan penyebar hoaks, pelaku fanatisme, penyuka senja,  penikmat kopi dan pemuja satan. Tapi, tunggu dulu—benarkah begitu?

Omong-omong soal memecah belah tali persaudaraan, yang harus diberikan kepada masyarakat Indonesia sesungguhnya hanya satu: pengajaran soal prinsip dasar perbedaan, bukannya malah menyuruh Cebong dan Kampret berhenti.

Memangnya, kalau ada orang berantem gara-gara yang satu makan soto campur nasi, sementara yang satunya dipisah, terus yang mau diberhentikan warung sotonya? Nggak, kan??? Harusnya, mereka itu justru diberi tahu bahwa setiap orang memiliki metode berbeda untuk menikmati soto dan—yang paling penting—mereka harus bayar!!!1!!!!1!!

Baca juga:  Jokowi Dapat Dukungan dari Ulama Alumni Mesir, Trisakti, dan Alumni IKJ

Ketika warga negara sudah dewasa, lalu mengerti bahwa semua orang tidak melulu lahir dengan latar belakang yang sama, perbedaan tentu bakal menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak patut dirayakan dengan gradak-gruduk.

Masalahnya, selama ini kita justru selalu rusuh dan gugup menghadapi perbedaan. Beda klub bola, berantem. Tak sepakat soal cara beribadah, ribut. Sungguh, Cebong dan Kampret hanya buih di tengah samudera perbedaan.

Iya, sih, beberapa kali, keduanya memang semarak menyebar berita palsu. Tapi nih, ya,  jauh sebelum ada Cebong dan Kampret, hoaks sudah menjadi salah satu  produk unggulan kebudayaan kita. Contohnya beragam, mulai dari persoalan  penyayatan anggota tubuh tertentu di lubang buaya oleh kelompok Gerwani—yang filmnya setiap tahun ditonton berjamaah—azab anak durhaka dikutuk menjadi ikan pari, hingga Mbaknya yang bilang sayang padahal nggak.

Intinya, menyuruh Cebong dan Kampret untuk stop itu tidak otomatis menurunkan angka penyebaran hoaks. Duh, logika gini aja nggak paham. Dasar Noob!!!!1!!

Coba, dong, dalam menyelesaikan problem itu mbok ya sesekali runut gitu, loh. Sampai ke akar, sampai ke inti. Jangan malah berenang-renang di permukaan doang, dong. Kalian, kan, bukan ikan cupang aduan, hadeeeeeh~

Hoaks mudah dikonsumsi karena pendidikan kita masih asing terhadap cara berpikir kritis. Akhirnya, masyarakat terkepung ketidakmampuan menggunakan daya nalar, dalam menyeleksi pemberitaan antara mana yang penuh dengan rekayasa dan mana yang faktual.

Selama kita enggan menerapkan pendidikan kritis (critical pedagogy) dan adem ayem saja dengan kurikulum dogmatis. Jadi, yaaa, nggak usah sok heroik ngomongin pencegahan hoaks, deh.

Lagi pula, Kampret—dengan nama apa pun—memiliki peran penting dalam demokrasi. Sebagai pihak oposisi, ia adalah fragmen yang bisa mencegah pemerintah untuk memberikan satu kebenaran tunggal. Ia sekaligus menjadi pengingat di kala rezim berada dalam jebakan mayoritarianisme. Dengan catatan, ia harus sehat dan cekatan. Kalau yang sekarang sakit, ya dibikin sembuh. Bukan dibunuh.

Demikian pula dengan Cebong—ia harus tetap ada agar perbincangan di ruang publik tentang politik menjadi semarak. Bagaimanapun juga, membahas politik di warung kopi itu cukup seru, ketimbang main PUBG, kan? Jadi, sekali lagi, monmaap, nih Bapak-Bapak sekalian, sebaiknya Cebong dan Kampret jangan disuruh udahan, dong. Memangnya mereka sepasang kekasih yang berantem terus dan salah satunya ternyata selingkuh, sampai-sampai disuruh udahan?

Keberadaan mereka adalah fenomena baru, lebih tepatnya mulai muncul pada tahun 2014 dan kian memanas beberapa tahun belakangan. Memang, satu-satunya yang paling saya khawatirkan adalah kecemburuan sosial dari hewan lain, itu saja. Kenapa, misalnya, nama mereka tidak mengambil dari spesies ikan di laut?

Baca juga:  Resmikan Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, Jokowi Sebut Patung Ini Lebih Tinggi dari Liberty

Oh, mungkin takut ngabisin stok sepeda Pak Jokowi, ya? Hehehe.

Jika Cebong dan Kampret adalah sepasang manusia kembar, barangkali tahun ini mereka menjelma anak mungil berusia lima tahun yang menggemaskan, baru daftar PAUD, dan bisa dijadikan aset keluarga sebagai selebgram, seperti Rafatar. Sisi menyebalkan dari mereka, paling banter, ya merengek di depan kasir minimarket, minta dibelikan Kinderjoy. Itu saja.

Tapi kita tahu, Cebong dan Kampret dalam bentuk nyata tidak berwujud wajah polos anak-anak. Ia tampil sebagai identitas pilihan politik atau kadang sejenis makian “Cebong mana ngerti!” dan “Kampret mulai panik!” yang mudah kita temui di kolom komentar.

Sebagian ada yang tampil mendongkak sambil menepuk dada dan berkata tegas, “KALAU AKU CEBONG/KAMPRET, MEMANG KENAPA, HAH? ”. Sungguh, mereka adalah seorang patriot pilih tanding sebab berani menunjukkan sikap politis di tengah kejumudan bangsa Indonesia yang selalu alergi terhadap perbedaan. Sebagian lain, tentu saja, berbeda—mereka tak berani menunjukkan posisi di antara keduanya: Cebong atau Kampret.

Dan, yah, kita tahu, hal semacam itu adalah selemah-lemahnya iman. Sialnya, saya masuk kelompok terakhir ini.

Akhir kata, semestinya kita sama-sama memahami bahwa, baik Cebong maupun Kampret, adalah wujud perbedaan yang tidak lantas membuat kita memiliki hak untuk membungkam keduanya. Toh, manusia, sejatinya, memiliki konsep ideal tentang suatu sistem di tempurung kepala masing-masing dan ini wajar.

Yah, nggak mungkin juga isi kepala kita semuanya sama persis, kan? Memangnya seragam anak SD???



Loading...



No more articles