MOJOK.COAldi Taher itu kompleks. Dari aktor serba-bisa sampai politisi Golkar penggubah lirik lagu orang. Religius lagi… feed Instagramnya.

“Cinta ‘kan membawamu…,” Aldi Taher bernyanyi cover lagu legendaris sembari menekan-nekan tuts piano, mulut saya tak sabar untuk menggemakan sing a long. Lalu tiba-tiba… i didn’t see this coming.

“…kembali ke Golkar…”

Suara Aldi kemudian menukik tajam, hati saya remuk redam. Nggak deh tahu kalau Mz Ahmad Dhani atau Mz Ari Lasso denger lirik lagu mereka dipakai sembrambangan buat kampanye gini gimana.

Kalau kamu pengen denger juga perasaan barbar kek gini, kamu bisa cek di bawah ini dan langsung menuju menit ke 1:16.

Kaget?

Wah, wah, kamu kayaknya perlu deh sesekali mampir ke kanal-kanal media sosial Aldi Taher. Pertama-tama untuk mengukur gairah spiritual yang terkubur dalam diri, selebihnya upaya mempelajari taktik kampanye yang beradab.

Untuk kemudian, kamu akan masuk pada dunia paradoks, merasa bingung menentukan kedudukan dan peran Aldi Taher sebagai figur publik.

Kalau dulu, pas zaman saya masih sering beli rokok ketengan dan segelas Ale-ale, mudah saja mendefinisikan Aldi Taher.

Bagi abang-abangan saya di tongkrongan, dia adalah laki-laki beruntung yang berkesempatan goyang bareng Dewi Perssik di atas panggung dan ranjang, dia juga membintangi banyak film horor yang hantunya melecutkan gairah.

Di mata saya Aldi Taher merupakan musisi paling melek soal pentingnya mendukung produk UMKM—jauh lebih dulu sebelum Negara mulai melirik mereka. Sebab lagu yang dia ciptakan, “Pemberi Harapan Palsu”, dinyanyikan oleh Pecel Lele Band, grup musik yang juga memilih Aldi sebagai produser.

Tapi kini soalnya jadi lain.

Di Instagram, Aldi Taher tampil sebagai buzzer religius.

Baca juga:  Guyon Bapak-bapak Politisi Demokrat dan Niat Tulus di balik Twit ‘Paha Mulus’

Aldi selalu mengajak kita untuk menggerakkan tagar #Belajar_Baca_Alquran_Rekam_Posting, guna mengubah tampilan lini masa menjadi sesejuk wajah akhi-akhi yang dibasahi air wudu selepas Jumatan.

Aldi juga menggawangi Gerakan Millenial Mengaji (GMM), biar generasi ini tidak hanya bersungut-sungut mikirin KPR.

Feed Instagram Aldi jauh dari kesan estetik—memang, tapi isinya didominasi oleh adegan pembacaan Al-Quran di pelbagai tempat. Di atas bukit dengan lanskap alam yang membuai, di tengah gemercik arus sungai, di dalam mobil yang pasti kaca belakangnya ada stiker happy family, di mana-mana.

Selagi ada kesempatan, maka lantunkanlah ayat suci, rekam, dan posting. Keren.

Orang awam mudah saja menuding yang bersangkutan abai terhadap pentingnya dimensi visual. Namun taktik Aldi Taher menyampaikan pesan religius toh akhirnya mendapat panggung yang sepadan. Strategi ciamik menggulung atensi, khas buzzer jempolan.

Aldi Taher mengembalikan definisi buzzer—yang selama ini telah direcoki oleh ambisi politis—kembali pada makna asalnya.

Buzzer, pendengung, singkatnya individu yang tergerak untuk menyampaikan isu atau produk—umumnya di media sosial. Blio sejatinya praktisi yang netral. Artinya buruk atau tidaknya ditentukan oleh kesesuaian konten.

Dan Aldi Taher pada akhirnya mengampanyekan sesuatu yang penting, meski rentan dianggap norak dan caper oleh banyak pihak. Bayarannya? Tentu sudah diatur dalam klausul yang ditulis di lauhulmahfuz; pahala dan surga. Sungguh mulia.

Problemnya adalah: Aldi Taher kini sudah resmi jadi politisi yang lagi berusaha mendulang suara.

Orang tentu boleh memiliki identitas ganda, menjadi PNS sekaligus melancarkan kritik pada negara, umpama. Tetapi Aldi Taher seolah bertolak belakang. Jadi buzzer religius dan pada saat bersamaan kampanye pakai jas Golkar.

Baca juga:  Risa Santoso Izinkan Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi: Antara Latihan Jadi Buzzer dan Go Green

Bebas saja, sih, tapi gimana, yha~

Kayak orang habis salat tahajud terus bertapa cari pusaka di bawah pohon beringin gitu.

Awal 2020, Aldi Taher mendaulat diri akan maju sebagai wakil gubernur Sumatera Barat mendampingi Mayjen TNI DR. Syamsu Jalal. Tapi, sebagai calon independen, blio gagal karena tak memenuhi persyaratan administrasi—seperti pemenuhan target jumlah KTP.

Sekarang—hanya beberapa bulan setelah gagal di Sumbar—Aldi Taher maju bareng Rusli Baco Daeng Palabbi, di ajang pilkada Sulawesi Tengah. Perpaduan antara kader beken milik PAN dan sosok saleh dari Golkar. Jadinya pasti akan membahana.

Kok kesannya Aldi Taher ini ngebet betul. Ngotot cari pusaka kemenangan politik, tapi pakai koar-koar dakwah agama. Kan rasanya jadi kayak makan es krim dicocol pake saus pedas ABC. Anyep iya, pedes iya.

Seandainya blio terpilih, bisa dibayangkan bagaimana Sulawesi Tengah akan berubah seperti Depok si Kota Islami. Makan pakai tangan kanan, LGBT harus selalu dicari dan dicurigai, usahakan anti-riba, dan tentu saja gemar membaca kitab suci.

Satu gambaran wilayah madani nan sejahtera. Kita patut memberi dukungan terbaik.

Cuma, Mas Aldi Taher, tolong tentukan dulu, sampean ini sebetulnya pengen dikenal dengan citra apa dulu? Ini penting untuk bahan kampanye tim sukses Anda dan calon pemilih Anda nanti soalnya.

Mantan penyanyi dangdut yang kebetulan (pernah) jadi suaminya Dewi Perssik? Politisi yang memanfaatkan panggung politik untuk dakwah di jalan Tuhan? Penggubah lirik lagu legendaris yang kebetulan lagi jadi politisi Golkar?

Atau malah sebaliknya?

BACA JUGA Soal Wiranto, Hanum Rais Harus Belajar dari Poyuono atau tulisan Muhammad Nanda Fauzan lainnya.