• 154
    Shares

MOJOK.CO – Ah, kata siapa suster hantu di film The Nun itu horor? Horor itu kalau dipanggil menghadap suster kepala waktu kamu masih sekolah.

Harus diakui, film The Nun membuat orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Katolik jadi bernostalgia ramai-ramai. Menurut mereka, ketakutan akibat suster hantu di film yang disutradarai Corin Hardy itu tak ada apa-apanya dibanding ketakutan yang dialami ketika dipanggil Suster Kepala ke ruangannya.

Kalau boleh protes terhadap film tersebut, yang saya ingin kritisi justru karena The Nun dan film-film sejenis (termasuk Harry Potter) citra bahasa Latin makin dikenal sebagai bahasa mantra dari antah-berantah, sedangkan dalam bahasa yang sama Ars Poetica dari Horatius, puisi 16 Catullus yang pembukaan dan penutupnya begitu cabul, dan literatur-literatur ilmu pengetahuan dan seni ditulis dan disebarkan secara luas pada masa jayanya.

Kembali ke soal lembaga pendidikan Katolik. Kalau mereka, orang-orang yang bilang Suster Kepala lebih menakutkan dari suster hantu The Nun itu, pernah mengenyam pendidikan di seminari, mereka juga mungkin akan bilang bahwa Pastor Kepala Buntung di film Hantu Jeruk Purut tidak ada apa-apanya ketimbang pastor-pastor Praeses dan Prefek di seminari-seminari.

Nah, karena pernah mengalami keduanya, izinkan kali ini saya hanya akan bercerita soal seramnya dipanggil Suster Kepala ke ruangannya.

Namanya Suster Maria Antonia Mamoh, SSpS. Kami sapa beliau Suster Antonia. Beliau adalah Kepala SMP St. Theresia. SMP Katolik paling disiplin pada masanya (karena bahkan untuk urusan jajan pun kamu tak diperbolehkan beli di luar pagar sekolah), dan termasuk paling terkenal di Kota Kupang.

SMP St. Theresia bernaung di bawah Yayasan Regina Angelorum yang dikelola suster-suster dari kongregasi SSpS (singkatan dari Servae Spiritus Sancti) atau suster-suster Misi Abdi Roh Kudus. Selain menjabat sebagai kepala sekolah, Suster Antonia mengampu pelajaran Matematika untuk kelas tiga.

Baca juga:  Merayakan Ramadan dan Idul Fitri sebagai Seorang Katolik

Apakah diajari Matematika oleh Suster Kepala pada jam terakhir di hari-hari menjelang ujian nasional (tentu saja dalam kondisi lapar dan setengah mengantuk) berarti mengalami penampakan dua hantu di waktu yang tidak tepat? Tidak. Artinya bisa lebih buruk, bisa juga lebih baik. (Ampun, Suster Antonia. Semoga sehat selalu).

Sebentar, sebentar, mengapa bisa lebih buruk?

(1) Dari dulu saya tak takut hantu. (2) Ketika rumus-rumus, gambar bangun datar dan bangun ruang di papan tulis berganti dengan coretan-coretan melingkar dan suara yang mulai meninggi, itu artinya kamu tidak boleh ribut dan mesti pasang perhatianmu lebih saksama.

Jangan bikin kegaduhan apa pun yang menyebabkan garis-garis lingkaran makin tebal dan suara makin melengking. Semua siswa di St. Theresia sudah tahu apa yang akan terjadi jika kamu melamun dan kehilangan konsentrasi; Suster Antonia tak akan tiba-tiba menyambitmu dengan spidol atau menjewer kupingmu seperti yang dilakukan guru-guru lain, melainkan kamu tak bakal tahan dengan kata-kata Suster yang begitu menusuk dan membuatmu merasa begitu sia-sia sudah pernah dilahirkan ke dunia.

Untuk urusan menajamkan kata-kata, saingan Suster Antonia hanya Ibu Tinik, guru Seni Rupa yang lebih pandai menggunakan ironi dari semua guru Bahasa Indonesia di St. Theresia.

Cara Suster Antonia biasanya berhasil. Nilai-nilai yang jelek di masa try-out pasti terdongkrak ketika ujian nasional. Saya mengalaminya sendiri, memperoleh nilai ujian nasional Matematika sembilan koma sekian setelah dua kali memperoleh nilai merah saat try-out.

Selain karena cara mengajarnya efektif dan intimidatif (kami boleh saja menggunjingkan guru-guru lain ketika mereka kesal, tetapi tak ada satu pun yang berani melakukan hal itu terhadap Suster), sebab yang tak kalah penting adalah lebih banyak waktu yang diluangkan para siswa untuk belajar (diselingi berdoa, atau mungkin mengulang-ulang doa Yesus di Getsemani, “Biarlah cawan derita ini berlalu dari hadapan kami, ya Bapa!”).

Baca juga:  Pengalaman Menjadi Indigo: Aku Bisa Menyaksikan Kelahiranku Sendiri

Meski suasana kelas Matematika lumayan mencekam, saya jamin tak akan ada siswa yang mau berurusan dengan Suster Antonia di luar jam pelajaran Matematika. Sebab itu artinya cuma ada dua kemungkinan: pertama, kau melakukan kesalahan dan mesti menemui beliau di ruangannya karena bahkan guru BK-mu pun menyerah, dan kedua, jika perlu, hanya surat panggilan orang tua yang bisa menebus kesalahanmu.

Yang kedua tentu saja lebih buruk dari yang pertama, atau kedua-duanya bisa berakhir sama buruknya jika pada poin yang pertama ada tambahan kalimat, “Suster boleh minta bapa deng mama pung nomor HP?”

Suasana menunggu di luar ruangan kepala sekolah tentu saja tak kalah mencemaskan. Kamu sudah tahu kesalahanmu, tapi tak tahu hukuman apa yang akan ditimpakan kepadamu. Seperti pendosa infernal yang berdiri di hadapan Minos untuk menanti berapa belitan ekor yang akan mengirimnya ke tempat hukuman.

Mengapa lebih baik?

Kamu toh sesekali merindukan ketakutan-ketakutan itu. Bahkan kadang mengenang mereka bersama hal-hal konyol lain yang telah berlalu dengan perasaan yang bercampur aduk. Kalau manusia biasanya berterima kasih untuk hal-hal yang ia anggap menjadikannya lebih baik, tulisan ini adalah ungkapan terima kasih untuk Suster Antonia dan semua guru di St. Theresia.

Tentu saja itu kalimat agar saya tidak tiba-tiba dipanggil ke ruangan Suster Kepala, meski jelas-jelas sudah lulus.