Wacana:

Karena marah dengan kegagalan misinya di tanah Jawa, Meng Chi dkk. menawan seorang kakek pemabuk, menculiknya ke dalam kapal mereka, dan membawanya sampai ke negeri asal mereka, Mongolia. Kepada Kaisar Kubilai Khan, Meng Chi melaporkan tabiat buruk raja Singasari sekaligus menunjuk si kakek pemabuk sebagai mata-mata yang berhasil ditangkapnya. Panglima Shi Pi, atasan Meng Chi, mengusulkan kepada Kaisar untuk memenggal kepala kakek itu, lalu mengirimkannya kembali ke Jawa disertai surat tantangan perang. Namun, Panglima Khao Sing, pesaing Panglima Shi Pi, mendapat laporan lain: si kakek adalah seorang pandai besi hebat yang menjadi korban fitnah Meng Chi. Panglima Khao Sing memohon kepada Kaisar yang mencintai ilmu pengetahuan dan benda pusaka agar memberi kesempatan si kakek dari Jawa menunjukkan kemampuannya.

Kaisar menerima usul itu. Ia perintahkan pengawal untuk membawa si kakek pemabuk ke ruang pusaka untuk menguji pengetahuannya. “Apa pendapat Anda tentang benda-benda pusaka Kekaisaran Mongolia?” tanya Kaisar. “Rata-rata besinya terlalu muda,” kata si kakek pemabuk, “kecuali dua benda.” Dua benda itu adalah sebuah giring-giring dan sebuah gong kecil. Seorang pejabat bersaksi bahwa dua benda itu adalah hadiah raja Jawa, dulu ketika dua kerajaan masih bersahabat. Kaisar tersinggung dengan penjelasan itu, namun mengakui pengetahuan kakek pemabuk tentang besi dan senjata. Ia kemudian mengalihkan statusnya dari tawanan menjadi tamu, dan memerintahkannya untuk membuat senjata pusaka untuk Kaisar. Memakai giring-giring dan gong, yang kemudian dilebur dengan pisau pahat kecil miliknya sendiri, kesemuanya berbahan besi asli tanah Jawa, si kakek pemabuk meminta waktu 40 hari untuk mencipta senjata pusakanya.

Meng Chi dan Panglima Shi Pi tak menyukai keputusan Kaisar. Mereka bersekongkol untuk melenyapkan si kakek pemabuk. Panglima Shi Pi yang tahu belaka bahwa yang mereka penjarakan adalah seorang ahli senjata pilih tanding juga mengincar senjata pusaka tersebut. Panglima Khao Sing tahu rencana itu dan bermaksud menggagalkannya. Ia meminta bantuan sabahatnya, Pendekar Lao dan istrinya Mei Shin, untuk menculik lebih dulu si kakek pemabuk. Bentrokan antara dua pendekar dan seorang ahli senjata yang mereka selamatkan melawan ratusan pasukan kekaisaran tak terhindarkan. Dalam keadaan terdesak, si kakek pemabuk memutuskan untuk menyerah kepada pasukan Kaisar, agar dua pendekar yang hendak membebaskannya bisa menyelamatkan diri dan, terutama, menyelamatkan pedang pusaka yang baru saja diciptanya.

(Diringkas dari Tutur Tinular eps. 2, “Kisah dari Seberang Lautan”, karya S. Tidjab, std. C. Ispriyono K.)

Berdasar wacana di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Tahukah kamu kisah di atas?
  2. Jika tidak tahu, lalu penderitaan dan nasib buruk macam apa yang mengisi masa kecilmu?
  3. Jika kamu tahu, kenapa kamu tidak memberitahukannya kepada para pembuat film Indonesia yang ngos-ngosan bikin film silat (yang ada ceritanya) itu?
  4. Cerita apa yang kira-kira disimak oleh para pembuat film silat jelek itu di masa kecil? Atau, mungkinkah tak seorang pun punya cerita untuk mereka?

***

Pada sebuah dekade paling tenang di puncak kekuasaan Orde Baru, saat suara-suara ketidakpuasan dari era ’70-an telah dibungkam dan protes-protes cerewet pertengahan ’90-an masih cedal, sebuah wabah menyapu kota-kota kecil dan desa-desa terpencil di seluruh Indonesia. Semua orang mengalami demam sebelum kemudian menunjukkan gejala keranjingan. Wabah itu bernama sandiwara radio.

(Bayangkan jika paragraf di atas dibacakan oleh Maria Oentoe atau Asdi Soehastra….)

Tutur Tinular, ditulis oleh S. Tidjab, adalah headliner kedua demam sandiwara radio setelah Saur Sepuh. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat, sandiwara radio ini disiarkan pertama kali sejak 1 Januari 1989 oleh seluruh anggota Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), meski dalam ingatan saya sepertinya disiarkan lebih awal dari itu, mungkin setahun sebelumnya. Diklaim sebagai “berlatar belakang runtuhnya Kerajaan Singasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit”, seperti yang katakan oleh Nusri Nurdin, sang pembawa cerita di seri-seri awal, Tutur Tinular sebenarnya mengikuti liku hidup Arya Kamandanu, tokoh utamanya, seorang yang digdaya sebagai pendekar namun malang sebagai lelaki.

Bisa saya katakan, jika kesan saya begitu kuat terhadap sandiwara radio, maka Tutur Tinular ada di pusatnya. Serial ini ada di puncak kejayaan sandiwara radio, dan bertepatan dengan usia terbaik saya sebagai penggemar, yaitu antara delapan hingga sepuluh tahun. Maka, dibanding sandiwara lain, bahkan dengan Saur Sepuh yang merupakan cinta pertama saya, ingatan saya jauh lebih jernih tentangnya.

Membandingkan Saur Sepuh dan Tutur Tinular sebenarnya tak terlalu adil, apalagi jika saya yang bicara. Kita tak bisa bersikap adil terhadap kesan pertama, kan? Saya sudah melihat demam Saur Sepuh menguasai seluruh radio di seluruh kampung di puncak ketenaran Brama Kumbara, yaitu di episode “Satria Madangkara”, tapi saya benar-benar mulai tak berdaya menghadapi sihir serial ini saat masuk episode “Pesanggerahan Keramat”. Pokok cerita episode ini sebenarnya tentang pembangunan infrastruktur (jalan dan bangunan) menuju dan di sekitar Pesanggerahan Keramat, bekas padepokan dan kemudian menjadi kuburan Kakek Astagina, guru Brama. Namun, pendengar setia Saur Sepuh pasti akan mengingat episode ini karena munculnya Kijara dan Lugina, duo penjahat sakti asal Kerajaan Kuntala, yang sanggup mengalahkan Brama dengan ajian Waringin Sungsang-nya. Dan sejak itu, saya tak bisa lepas dari sandiwara radio ini—dan sandiwara radio lain yang menyusul sesudahnya.

Baca juga:  Kolom: Tiga Jumat

(Ah, saya sudah memulai perbandingan tersebut, jadi mari kita teruskan saja….)

Yang bisa saya ingat, ketika para guru sekolah dan guru mengaji dibuat geregetan karena menghadapi kegilaan para murid mereka terhadap Saur Sepuh dan Brama Kumbara, raja “kerajaan Medangkrang”, “raja Hindu yang ingin mendangkalkan akidah generasi muda Islam”, hal yang sama tak saya dengar berkait Tutur Tinular dan Arya Kamandanu. Boleh jadi karena resistensi dan keengganan itu sudah semakin melemah, karena memang tak efektif, dan memang tak sepatutnya. Tapi, bisa juga karena Tutur Tinular memang memiliki hal yang tak dipunyai Saur Sepuh, yaitu konteks sejarah yang solid. Dengan hal terakhir ini, bocah yang di sekolah paling goblok dengan sejarah kini punya dalih ketika orang tuanya menghardiknya sedang buang-buang waktu mendengar orang berbual. Dengan bangga ia akan bilang: “Ini ada di sejarahnya, Mak. Bisa dipakai untuk ngisi soal THB!”

Sementara Saur Sepuh mengawang-awang di antara puncak kejayaan Pajajaran dan masa perpecahan Majapahit dan tak memberi perhatian yang memadai untuk peristiwa sejarah (kecuali sedikit berkait peristiwa Bubat), Tutur Tinular memberi porsi yang sangat besar bagi “Runtuhnya Kerajaan Singasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit” seperti yang diklaimnya. Tokoh-tokoh sejarah seperti Ranggalawe, Sora, Nambi, Kebo Anabrang, dan Ramapati dielaborasi dengan baik, dan dipertemukan secara rapi dengan para tokoh fiksinya. Bahkan, peristiwa penting bagi seluruh kisah Tutur Tinular, yaitu dibuatnya Pedang Nagapuspa, terselip dengan bagus di antara peristiwa historis kedatangan utusan Mongol ke Jawa (seperti yang saya ringkas di awal tulisan).

Mungkin karena “ada pelajaran sejarahnya”, saya ingat Bapak, yang mengajarkan sejarah Islam di sekolah, sampai menyarankan saya untuk mendengarnya—hal yang tidak terjadi untuk Saur Sepuh dan kebanyakan judul sandiwara radio lain. Maka, diterbitkan atau tidak (baik skrip maupun bentuk prosanya), saya kira saya bisa membayangkan tempat terhormat Tutur Tinular dalam khazanah fiksi sejarah kita, lebih-lebih yang mekar di masa lebih belakang ini.

Keunggulan Tutur Tinular yang sulit ditandingi oleh sandiwara lain, terutama bagi saya personal, adalah perasaan keterhubungan. Waktu yang definitif (“antara keruntuhan Singasari dan berdirinya Majapahit”), dan tempat-tempat yang jelas dan kami kenali dengan baik, bahkan intim, sebagai orang Jawa Timur (mulai dari Tuban, Bengawan Solo, Kali Brantas, Pasuruhan, Madura, nama-nama candi yang cukup populer di buku pelajaran sejarah, dst.), kadang masih ditambahi dengan unsur-unsur yang bahkan masih hidup di antara kami (saya masih ingat seri yang menceritakan Kamandanu dan ponakannya Panji Ketawan mampir di sebuah kedai dan minum legen, minuman yang sangat populer di tempat kami, terutama di saat berbuka puasa), membuat bocah macam saya merasa sangat terlibat dengan serial ini. Dalam pada inilah, saya mendengar tuturan Bapak tentang asal-usul nama desa di sebelah desa kami beserta batu pertapaan besar yang jadi penandanya. “Desa itu disebut Wide karena Banyak Wide alias Arya Wiraraja, ayah mertua Ranggalawe dari Tuban, pernah singgah dan bertapa di sana.” Anda tak akan bisa tak tertarik dengan cerita macam itu, bahkan jika itu tak benar-benar terjadi.

Mungkin karena keseriusannya dengan konteks sejarah, ada hal menyenangkan dari Saur Sepuh yang tak ditemukan pada Tutur Tinular: humor. Soal nada didaktisnya saya kira sama, sebagaimana semua budaya pop yang muncul di masa Orde Baru. Namun, S. Tidjab rasanya terlalu serius jika dibanding Niki Kosasih, penulis Saur Sepuh, yang punya sisi cengengesannya. Niki Kosasih jelas sangat dipengaruhi tradisi wayang Sundanya ketika memberikan punakawan kepada tokoh utama. Ia bahkan melakukannya dua kali. Pertama, ketika ia memunculkan Bongkeng dan Merit, dua “sahabat” Brama yang konyol. Yang kedua, ia memberi kepada Permadi, seorang pangeran Kuntala yang menyamar, yang menjadi tokoh antagonis di masa-masa akhir serial, dua punakawan bernama Dawala dan Saliwang—nama-nama yang pasti familier bagi orang orang yang sedikit saja mengenal wayang golek Sunda. Bongkeng dan Merit ngawur dan jorok, sementara Dawala dan Saliwang masing-masing goblok dan tuli. Tapi, Saur Sepuh tak hanya kocak karena para punakawannya, serial ini memang jauh lebih rileks. Anda jelas punya cukup selera humor jika bisa menciptakan karakter-karakter macam Bu Kamana dan Paman Amburadul.

Baca juga:  Kolom: TV Rusak

Bukan saja tak punya Bongkeng-Merit dan Dawala-Saliwang, S. Tidjab juga tak menyisakan sedikit pun keceriaan untuk ceritanya. Nyaris. Tokoh-tokoh cecunguk seperti Kebo Kluyur dan Jaran Lejong, yang berkumpul di sekitar si tokoh jahat Mpu Tong Bajil, atau kuartet Rawedeng-Rayuyu-Rabanyak-Rapangsa, para gedibal Ramapati, bukan hanya tidak lucu, tapi bahkan sangat menjengkelkan sejak dari karakter suaranya. Mpu Tong Bajil yang cebol seharusnya bisa berpotensi kocak, tapi ia kejam minta ampun, juga mesum dan bermulut kotor—sehingga kepadanyalah bocah-bocah desa kelahiran ’80-an berutang makian-makian aneh dan khas sandiwara radio. Mpu Ranubaya, seorang pembuat senjata pembangkang yang suka mabuk, suka tertawa dan punya sedikit sisi konyol, mengingatkan kepada sosok pendekar tua gila di film-film kungfu; ia diculik oleh Meng Chi dan diangkut ke Mongolia setelah mengejek sang utusan Kaisar itu dengan batu ukir berbentuk zakar; sayangnya, durasi kemunculannya teramat pendek, dan sudah dimatikan di episode kedua.

Di jagat cerita tanpa humor ini, S. Tidjab mencipta Arya Kamandanu yang tanpa humor pula. “Kau keras seperti batu, Kakang,” demikian keluh Nari Ratih soal Arya Kamandanu. Mungkin inilah yang membuat ia sangat berbeda dengan Brama, meski punya karakter yang mirip dan diperankan oleh orang yang sama, sang superstar Ferry Fadli. Saya masih terus terngiang tawa renyah dan merdu Brama sampai hari ini, baik saat ia mengejek lawan-lawannya maupun saat sedang bercanda dengan sahabat. Sementara Arya Kamandanu… apalagi kalau bukan keluhan dan gugatannya yang terlalu sering diulang-ulang: “Oh, Jagat Dewa Batara….” Juga, tentu saja, lolongannya yang putus asa dan penuh rasa bersalah itu. “Mei Shiiinnn!!!”

Sedikit menyakitkan bagi saya yang memujanya, tapi tepat benar apa yang pernah dibilang Muhidin M. Dahlan soal karakter Arya Kamandanu: “Nelangsa betul!”.

***

Tapi Tutur Tinular punya Arya Dwipangga.

Ini tokoh yang tak bisa Anda temukan padanannya di seluruh sandiwara radio lain. Juga di 1.440 seri Tutur Tinular dan sekuelnya, Mahkota Mayangkara. Ya kompleksitasnya, ya kekuatan karakternya—juga termasuk di dalamnya tingkat keberhasilan akting suara oleh M. Aboed. Arya Dwipangga adalah sebuah ikon. Ia, untuk beberapa hal, adalah Arthur Fleck kita.

Ada beberapa tokoh jahat di Tutur Tinular. Mpu Tong Bajil bukan main jahatnya; ia membakar hidup-hidup ayah dan pengasuh Kamandanu, juga memberi kesengsaraan yang tak habis-habis kepada pasangan Mei Shin dan Arya Kamandanu. Ramapati culas dan menjijikkan; pejabat ambisius Majapahit ini menghabisi satu demi satu orang baik di sekitar Arya Kamandanu dengan fitnahnya, dan terus-menerus membuat Arya Kamandanu tak betah hidup di lingkungan istana. Tapi keduanya adalah karakter satu dimensi, tunggal, datar, seperti rata-rata para tokoh antagonis di sandiwara radio.

“Penjahat super” kita yang satu ini sedikit berbeda. Arya Dwipangga bejat dan durhaka di awal cerita: menggasak dua perempuan yang dicintai adiknya, lalu menjual nyawa orang tuanya demi dendamnya kepada adiknya. Di paro akhir cerita, ia adalah Pendekar Syair Berdarah yang dingin dan bengis: membunuh semua orang yang dijumpainya dengan sukacita, nyaris tanpa motif, cenderung anarkis, mengacau hanya untuk mengacau. Dendamnya kepada Kamandanu sublim, tak bendawi seperti Mpu Tong Bajil yang menginginkan pedang pusaka atau Ramapati yang memimpikan pangkat jabatan.

Dan ia bersajak. Salon dan penuh berahi saat masih jadi perayu; suram dan magis ketika jadi pembunuh. Dulu saya menganggap sajak-sajaknya, terutama di fase Pendekar Syair Berdarah, jauh lebih baik dibanding sajak-sajak Taufiq Ismail yang dicetak di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia SMP. Sekarang, anggapan saya masih sama.

“Belajarlah menekuni sastra, Adik Kamandanu,” kata Dwipangga suatu ketika, yang saya dengar puluhan tahun lebih awal dibanding guru-guru saya di Bulaksumur. Ia mudah dibenci, tentu saja, tapi sangat sulit menolak bahwa ia istimewa. Ia keren. Dan, boleh jadi, ia mengilhami.

Saya sering membayangkan andai saja saya menemukan Tutur Tinular dalam bentuk novel tebal, dan syair-syair Arya Dwipangga saya baca dalam buku kumpulan puisi terjilid. Tapi, setiap mendengarkan ulang sandiwara radio, saya tahu kami adalah anak-anak beruntung, yang berkesempatan memperoleh cerita dalam format terbaiknya.

Mengenang:
S. Tidjab (14 Mei 1946 — 1 Maret 2019)
M. Aboed (w. 14 Juni 2019)

BACA JUGA Awam dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.