Seseorang mengirim pesan di kotak masuk Facebook saya. Ia memperkenalkan diri dari sebuah media online terpandang, dan mengirim pertanyaan-pertanyaan berat berkait keributan seputar wabah yang sekarang sedang menyerang kita. Mereka membutuhkan penjelasan dari saya, dalam kapasitas sebagai “ahli bahasa dan sastra”. Ada lima pertanyaan di sana, dipisah dalam nomor-nomor. Intinya, bagaimana cara agar kita bisa lebih bijak dalam berbahasa berkait dengan bencana ini.

Pertanyaan itu dengan serta-merta mengirim saya kembali ke kelas-kelas linguistik yang penuh penderitaan dua puluh tahunan lalu. Saya segera mengingat kegoblokan dan nilai-nilai buruk saya sekaligus keangkeran guru-guru saya—yang kepada merekalah, atau orang-orang yang menempuh jalan yang mereka tempuhlah, seharusnya pertanyaan-pertanyaan ini diajukan.

Diharapkan sebagai “ahli”, saya mengirimkan jawaban sebagai orang yang tak ingin mempermalukan diri. Untuk mengimbangi pertanyaannya, saya memberikan jawaban dalam nomor-nomor juga. Semua jawaban mengarah kepada simpulan bahwa saya bukan “ahli bahasa dan sastra”, atau setidaknya “ahli bahasa dan sastra” yang mereka butuhkan.

Saya katakan, saya tak akan bisa menasihati orang untuk bijak dalam berbahasa—semisal memilih diksi ini alih-alih anu, lebih persuasif dibanding agitatif, dst.—karena saya sendiri tak pernah bisa bijak dalam berbahasa, dan sepertinya tak hendak. “Saya menulis dengan amarah, dan masih seperti itu sampai sekarang,” saya bilang. Saya tegaskan juga, penulis lebih baik diam, menjaga baik-baik tangannya dari menulis sesuatu yang tak benar-benar dikuasai dan diketahuinya. Kemudian saya pungkasi, “Dalam kondisi wabah seperti ini, penulis sama awamnya dengan kebanyakan orang.”

Berharap jawaban itu menginsafkan si penanya bahwa ia bertanya kepada orang yang salah, ia masih menyusulkan pertanyaan berikutnya: “Lalu apa fungsi bahasa (dan sastra) dalam situasi seperti sekarang ini?” Saya menukas, “Kecuali bahasa medis, semua tidak penting!”

Untuk menutup percakapan, saya melakukan hal yang sangat jarang saya lakukan: saya menasihatinya—benar-benar menasihati. “Untuk pers/jurnalis,” demikian nasihat saya, “jangan memberi panggung kepada orang-orang yang tak kompeten.”

Si penanya bersepakat dengan saya dan mengucapkan terima kasih.

***

“Kenapa Anda menulis?” begitu pertanyaan paling standar yang sering diajukan, baik dalam forum-forum diskusi maupun di kotak pesan media sosial, biasanya diajukan oleh para penulis pemula atau mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, berharap mendapat kata-kata mutiara untuk ditempel di belakang pintu kamar kos atau dikutip di halaman motto tugas akhir mereka. Untuk kebanyakan penulis, mereka mendapatkannya. Bagi saya, pertanyaan kosong macam itu selalu sulit dijawab. Jika sedang bisa menjawab, saya nyaris selalu memberikan jawaban yang mengecewakan.

Hari-hari ini, jawaban atas pertanyaan yang sedang tak diajukan itu berputar-putar di kepala saya. Ini diawali dari tidur pagi yang buruk dan tidak jenak, dan ketika benar-benar bangun di hari yang belum lagi siang saya mendapatkan kalimat itu secara tiba-tiba: saya menulis karena saya adalah pecundang untuk banyak hal.

Kira-kira di umur kurang dari lima tahun, saya adalah salah satu dari sekitar lima anak yang diikutkan lomba lari(-larian) di lingkungan kami dalam sebuah tujuh belasan mini. Lomba lari itu dimenangkan Hendri, satu-satunya anak perempuan di lomba itu. Tapi bukan di situ ceritanya, bukan juga karena saya kalah oleh anak perempuan—toh Hendri memang beberapa tahun lebih tua dari saya. Yang ingin saya ceritakan, saya menolak perlombaan di lomba itu. Ketika Hendri telah jauh meninggalkan kami, saya justru terduduk dan menangis di garis start, menuntut kepada Cak Ot yang memberi aba-aba, “Kok aku ditinggal?” yang tentu saja dijawabnya dengan tawa terpingkal-pingkal.

Fragmen ini tidak diceritakan ulang oleh orang lain kepada saya; saya mengingat sendiri dengan sangat jelas. Kebanyakan orang akan memaklumi, bocah balita tentu saja belum paham benar apa itu perlombaan, kompetisi, atau persaingan; mungkin saja benar begitu, tapi saya tak menunggu lama untuk tahu bahwa saya sangat tidak menyukai (terlibat) kompetisi—meskipun, di usia yang sama, saya sebenarnya mulai memenangkan beberapa lomba.

Ketakbecusan saya dalam perlombaan segera terlihat dari betapa buruknya saya di kancah permainan. Saya pemain kelereng yang payah, sangat payah. Saya terbiasa pulang dari bermain dalam keadaan uringan-uringan bahkan menangis, baik karena kelereng habis atau diejek karena kalah. Hal yang sama juga terjadi dengan dadu wayang umbul. Saya bangkrut atau saya tahu saya dicurangi tapi tak bisa membuktikannya. Maka, untuk mengurangi perasaan kalah, saya mengembangkan cara bermain kelereng tunggal, dengan sebagian diri saya menjadi lawan saya sendiri, yang tentu saja dengan mudah saya kalahkan—biasanya disertai dengan dialog-dialog imajiner di antara tokoh-tokoh rekaan itu. Di sisi wayang umbul, komik dalam format poster berpanel 36 itu saya pelintir dari bahan permainan menjadi bahan bacaan, yang dalam hal ini saya jelas tak punya lawan.

Baca juga:  Menulis dan Jadi Kaya

Mungkin saya sedikit lumayan di permainan gasing, tapi saya punya kekurangan mencolok: saya tak bisa membuatnya sendiri. Jika gasing saya berputar dengan baik, menghabisi lawan-lawannya dengan gesit, saya dan semua orang tahu kalau gasing itu bikinan Bapak.

Bapak juga jadi momok di bidang layang-layang. Ia pembuat layang-layang yang bagus, bahkan pernah membuat layang-layang untuk dijual. Itu membuat saya tak mungkin merengek minta dibelikan layang-layang kepadanya, sebab layang-layang yang dijual selalu terlihat buruk di matanya. Jika sedang lega hati, ia sesekali buatkan layang-layang untuk saya. Tapi karena jarang menaikkan layang-layang, saya tak cepat belajar, dan itu membuat layang-layang itu segera tumpas, entah nyantol di ranting pohon atau rusak karena saya seret di sepanjang badan jalan. Saya baru bisa menaikkan layang-layang dengan baik dan mengembangkan keahlian medioker membuatnya setelah Bapak pergi merantau. Tapi, seingat saya, meskipun saya menggelas benang seperti yang dilakukan semua orang, saya tak pernah melayani tantangan adu layang-layang.

Agar layang-layang saya menang tanpa perlu beradu benang, saya membuatnya mencolok, dengan motif-motif bendera negara-negara kecil, yang saya hapal dari peta dunia di dinding sekolah. Saya pernah membuat layang-layang bermotif bendera Antigua-Barbuda, Greenland, Mozambik, dan beberapa yang lain, tapi yang paling saya ingat adalah layang-layang Zaire. Mungkin karena mesti menambahkan gambar obor dalam genggaman tangan di tengahnya, kertas layang-layangnya menjadi terlalu berat oleh lem, dan akhirnya gagal terbang.

Kepecundangan saya berkait sepakbola tampaknya lebih kompleks lagi. Tak seperti dengan permainan lain, untuk sepakbola saya sulit menerima kenyataan. Saya sering kali menolak bahwa saya sama sekali tak berbakat, dan posisi terbaik saya adalah jadi penonton.

Di tahap bola plastik di lapangan sekolah, meski bukan paling menonjol, saya tak buruk-buruk amat—setidaknya saya bukan jenis anak yang dihindari oleh rekan setim, yang sering dipaksa jadi kiper. Saya biasa main di sayap, mengadu lari cepat dengan bek di tepi garis lapangan, dan kemudian mengirim umpan ke penyerang; saya akan sulit berlari seelegan Steve McManaman, tapi jadi seperti Andrei Kanchelskis pun bolehlah. Tapi, begitu masuk tahap bola kulit dan bermain di lapangan sungguhan, saya segera terlihat payah: bola kulit selalu terlalu besar untuk kaki saya yang mungil; napas saya terlalu pendek untuk lari saya yang cepat; dan saya tak pernah bisa mengatasi demam lapangan, lebih-lebih di pertandingan serius. Saya bagian penting dari tim hebat yang memenangkan pertandingan antarkelas di SMA ketika pertandingan dilakukan di atas lapangan basket, tapi saya adalah pemain cadangan plonga-plongo di pertandingan-pertandingan latihan di ekskul sepakbola. Ketika teman-teman setim (dan sekelas) mulai beredar dari satu tarkam ke tarkam lain, saya justru tengah tenggelam menghapal nama-nama pemain Cremonese atau Hercules Alicante. Pada akhirnya, saya bernasib seperti Galeano, yang “melakukan dengan tangan apa yang tak bisa saya lakukan dengan kaki”.

Tapi, tak ada kepecundangan yang lebih meyakinkan dibanding apa yang pernah saya alami di Jakarta, di sebuah kos-kosan karyawan, di gang sempit dan padat di Utan Kayu, di akhir 2004. Berita tentang tsunami Aceh membuat kami semua tercengang di depan televisi; saya bahkan menangis tersedu-sedu ketika itu. Ketika kami masih ribut memperbincangkan bencana itu, seakan kami adalah orang paling berduka di hari itu, seorang teman datang membawa formulir pendaftaran relawan. Ia akan berangkat ke Aceh dan berharap bisa mengajak beberapa teman lainnya. “Mau ikut, Fud?” tanyanya. “Ada fee-nya kok,” tambahnya, mencoba meyakinkan. Saya tercekat beberapa lama, sebelum akhirnya menggeleng. Bukan karena mempertimbangkan jawaban ya atau tidak, bukan juga memikirkan tidakkah fee-nya akan lumayan untuk saya yang baru saja kehilangan pekerjaan; saya hanya sedang mencari kata paling tak memalukan untuk menolak.

Bagaimana lagi? Saya tak bisa apa-apa. Bukan saja tak punya keterampilan menangani kedaruratan, saya juga tak punya keberanian; jangankan menghadapi ratusan mayat, menghadapi korban kecelakaan lalu lintas saja saya hanya sanggup mengamankan sepatunya yang terpental, itu pun dengan tangan gemetar. “Saya hanya bisa menulis,” jawab saya kepada diri sendiri. Dan saya tahu betapa payahnya saya.

***

Teman-teman yang mengenal baik saya mungkin akan mudah menambahkan kepecundangan-kepecundangan lain yang bisa dilekatkan kepada saya. Tapi saya akan menambahkan satu lagi saja: saya pernah membakar dangau milik tetangga, dan saya tak meminta maaf—sampai sekarang.

Baca juga:  Dilema Lelaki Pemalu di Acara Bedah Buku

Waktu itu musim kemarau. Kebun-kebun sedang bera dari tanaman, kambing tak diliarkan, sementara rumput di atas bukit-bukit kecil mengering dan sangat menggoda untuk dibakar. Itu saat yang tepat untuk kami berlomba membuat bekas pembakaran seluas mungkin dalam sekali sulut. Untuk itu kami harus mempertimbang bentangan rumput kering dan arah angin, yang digabung dengan keterampilan melindungi api. Afnan, sepupu saya, bocah yang paling menguasai medan, mendominasi “lomba” sepanjang pagi itu. Bekas bakarannya mengorak hitam, membentuk totol-totol besar di tengah hamparan rumput kering yang cokelat, di antara bukit-bukit. Sementara saya bahkan sering kali gagal menjadikan titik api saya membesar, apalagi meluas. Sampai kemudian, saat pagi jadi lebih terik, dan angin lebih kencang, saya menemukan lereng bukit dengan rumput kering yang tinggi. Begitu saya membakarnya, saya segera melihat api membumbung, dan sebentar kemudian, seluruh bukit terbakar. Saya tersenyum lebar melihat apa yang saya perbuat, sampai kemudian Makruf, sepupu saya yang lain, berteriak: “Cak!” Saya lupa ada sebuah dangau yang berlindung di sisi barat bukit. Dangau itu beratap genteng, tapi api yang besar cukup kuat untuk menghajar dinding bambunya, dan pondok panggung itu segera ditelan kobaran. Saya panik, Makruf juga, dan kami melemparkan apa pun untuk coba menghentikannya. Ketika genteng pertama jatuh, yang segera disusul genteng-genteng berikutnya, lalu separo atap ambruk, saya tahu saya tak akan bisa mengatasinya. Begitu tak melihat ada orang lain di sekitar kejadian, saya kabur, pulang, langsung lari ke dapur, makan, dan sebaik mungkin mempersiapkan wajah tak bersalah.

Saya selalu mengenang pembakaran dangau itu sebagai kenakalan kanak-kanak yang agak keterlaluan. Tapi, setelah menulis, saya menemukan ironinya. Lebih-lebih setelah kepada banyak orang, di banyak kesempatan, saya sering menyebut-nyebut motto penting dalam kepenulisan saya: “Api dilahirkan oleh api. Kita tak dapat menyalakan obor dengan menyelupkannya di tumpukan abu yang dingin.” Kalimat itu saya ambil dari novel favorit saya, Pater Pancali, karya Banerji.

Motto itu saya utarakan di kelas-kelas menulis untuk menanamkan kesadaran bahwa semua penulis baru tak lebih dari peminjam api para penulis lama, dan itu saya pakai untuk mendorong para penulis pemula untuk membaca. Tapi, tak bisa dimungkiri, siapa pun bisa menangkap semangat Promethean dari kutipan itu—lebih-lebih jika mengingat bahwa Banerji, sebagaimana juga Tagore, nama besar lain yang hidup sezaman dengannya, sembari menggenggam erat tradisi Bengalinya, adalah seorang yang sangat bersemangat menyongsong Pencerahan Barat; lebih-lebih jika itu didengar oleh para penulis Indonesia, yang di kanon sastranya punya “nabi Pencerahan” macam Sutan Takdir Alisjahbana. Prometheanisme bisa mewakili sikap kepahlawanan dan pengorbanan, tapi pada saat yang sama, seperti kita temukan pada sains, ia sangat mudah terjebak pada kecongkakan: bahwa dialah (satu-satunya) pembawa api bagi manusia yang berada dalam kegelapan.

Sangat mudah menemukan para penulis jenis ini di antara kita, lebih-lebih di kalangan pemula; lebih-lebih lagi di era media sosial; lebih-lebih ketika semua orang merasa bisa menulis dan harus menulis. Sebanyak kita menemukan orang-orang baru hijrah yang mengajak kepada kebenaran dengan bilang “sekadar mengingatkan”, sebanyak itu pula kita akan menemukan para penulis (baru) yang akan meluruskan dan bilang “jadi begini”, atau semacam itu. Sementara para penghijrah baru begitu khawatir orang-orang akan tersesat, para penulis ini tak bisa tinggal diam melihat orang-orang tetap bodoh. Itulah kenapa—jika Anda tidak tahu, saya beri tahu—media sosial kita terasa begitu bising.

Para penulis itu merasa mereka adalah titan-titan yang mewajibkan diri mencuri api para dewa untuk diberikan kepada manusia awam, dan sering dengan gagah menyiapkan diri untuk menerima hukuman. Tak terpikirkan, tentu dengan sedikit kerendahan hati, bahwa mereka boleh jadi tak lebih dari bocah nakal yang mencuri korek api dari dapur ibunya untuk mencari rumput kering yang bisa dibakar hanya untuk bersenang-senang—seperti yang dulu pernah saya lakukan. Alih-alih membawa terang, mereka sangat mungkin mencipta kebakaran. (Bedakan ini—karena memang sangat berbeda—dengan para penulis besar yang sejak awal berniat untuk mencipta kebakaran.)

Mereka mendaku: “Saya adalah penulis”. Padahal, yang sering terjadi, kami hanya bisa menulis. Dan, boleh iadi, seperti yang terjadi pada saya, mereka menulis dan menjadi penulis karena mereka adalah pecundang di banyak hal lain.

BACA JUGA Beradab dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.