Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Setelah Ibu Meninggal

Ananta Listya Kirana oleh Ananta Listya Kirana
2 Januari 2025
A A
Rumah Setelah Ibu Meninggal MOJOK.CO

Ilustrasi Rumah Setelah Ibu Meninggal. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tak berselang lama, ibu meninggal menyusul bapak. Tidak sampai 20 hari, daya hidup ibu menghilang dan beliau tenggelam dalam kesedihan.

Sebelum masuk ke cerita, pertama-tama, izinkan saya mengenalkan latar belakang cerita ini. Pembaca boleh memanggil saya Cia. Semua ini berawal dari bapak saya yang sakit-sakitan.

Awalnya, rumah yang kami tinggali ya biasa saja. Seperti rumah pada umumnya. Tidak ada cerita seram dan semuanya tampak normal.

Sejak bapak sakit

Situasi rumah berubah setelah bapak mulai sakit-sakitan. Beberapa saudara dan tetangga mulai mengeluh. Mereka tidak betah ketika bertamu atau menginap di rumah kami. Bahkan beberapa keluarga juga takut sendirian berdiam diri di rumah terlalu lama.

Suasana semakin memburuk ketika bapak masuk ICU selama beberapa waktu. Rumah seakan-akan jadi bangunan yang “mati”, terasa sunyi. Saat itu, saya berusia 15 tahun. 

Selama bapak di ICU, saya hampir selalu menjenguk dan menjaga. Sebelumnya, saya “biasa saja” sama hal-hal mistis. Namun, selama beberapa hari di ICU, entah kenapa suasana rumah sakit jadi terasa mencekam melebihi biasanya. 

Ketika melihat bapak terbaring di ICU, tiba-tiba muncul firasat soal ajal yang semakin dekat. Rasanya sangat nyata dan agak mengganggu. Itulah pertanda yang pertama.

Pertanda kematian

Semakin lama, saya semakin tidak betah di ICU. Antara tidak tega melihat bapak terbaring di ICU dan suasana rumah sakit makin mencekam, saya memutuskan pulang. Entah kenapa, saya malah ingin menjaga rumah malam ini. Rasanya saya harus pulang. Dorongan untuk pulang begitu kuat.

Sekitar pukul 23 malam, saya sampai di rumah. Di kota kecil ini, selepas pukul 21:00, kehidupan seperti menghilang. Sepi. Perjalanan saya sampai ke rumah terasa sangat singkat. Begitu singkat.

Sesampainya di rumah, dengan badan yang terasa sangat capek, saya malah merasakan dorongan yang agak aneh. Di kepala, saya ingin berbaring dan istirahat. Namun, saya malah langsung membersihkan rumah dan merapikan segala hal yang berserakan. Rasa-rasanya saya harus menyelesaikan tugas ini secepat mungkin.

Setelah cukup lama membersihkan rumah, ruangan yang sebelumnya tampak tak terurus, akhirnya kembali rapi dan bersih. Kegiatan ini berakhir tepat pukul 01:00 dini hari. 

Selepas membersihkan diri dan menuju kamar, pandangan saya tersedot ke kamar bapak. Di sana, ada sebuah lemari baju yang pintunya, secara tiba-tiba terbuka sendiri dengan pelan.

Tidak mungkin angin bisa membuka pintu lemari yang terbuat dari pohon jati. Namun, anehnya, saya tidak kaget atau takut dengan keanehan itu. Saya malah mendekat dengan tenang dan menutup pintu lemari jati itu. Setelahnya, saya beranjak ke kamar dan langsung tertidur.

Bapak meninggal dan firasat ibu

Saat itu saya merasa sudah tertidur cukup lama. Ketika tiba-tiba ponsel saya berdering. Ibu menelepon. 

Iklan

“Nduk, omahe ndang diresik lan ditata.” 

Saya mendengar suara ibu dengan setengah kesadaran. Agak kesal juga karena saya merasa lagi enak dan sudah lama tidur. Namun ternyata, saat itu baru pukul 01:00 lebih dikit. Artinya, saya baru tertidur beberapa menit.

Karena sangat mengantuk, saya tidak menghiraukan kalimat ibu. Saya tidak mau mendengarkan firasat ibu dan memilih untuk tidur karena mata saya terasa sangat berat.

Satu jam kemudian, ada yang menggedor pintu rumah dengan keras. Saat itu pukul 02:00 lebih sedikit. Setelah saya buka, ternyata saudara saya datang dengan tergesa-gesa. Dia mengabarkan kalau bapak baru saja meninggal. Tepat pukul 02:00. 

Saya langsung bergegas ke rumah sakit ditemani saudara saya. Sesampainya di sana, saya sangat terpukul oleh kenyataan. Bapak yang selalu terlihat kuat, kini kaku dengan tubuhnya yang sangat kurus setelah 2 bulan lamanya berjuang melawan penyakit ginjal.

Pertanda kematian yang lain

Saya selesai mengurus administrasi pukul 09:00 pagi. Jenazah bapak segera dimandikan untuk dikebumikan. 

Cuaca yang mendung dan berangin bagaikan menambah suasana sedih dalam proses pemakaman. Ibu tak sanggup mengantar bapak ke tempat peristirahatan terakhir. Ibu seperti tidak punya daya hidup lagi.

Selama proses penguburan, saya mencoba mengurai lagi apa saja yang terjadi tadi malam. Salah satu yang saya sesali adalah tidak mendengarkan firasat ibu. Pukul 01:00 dini hari, ibu menyuruh saya untuk membersihkan rumah. Pukul 02:00, bapak meninggal. Yang saya tidak tahu, saat itu, ada pertanda kematian lain yang muncul.

Jadi, desa saya punya fasilitas dan alat-alat untuk keluarga mendiang untuk mengurus pemakaman. Biasanya, ada tenda, kursi, selang untuk memandikan jenazah, dan lain sebagainya. 

Saat para pemuda karang taruna datang untuk membereskan dan mengambil peralatan tersebut, sepertinya mereka melewatkan sebuah kursi. Bagi saya, kursi yang “tertinggal” tidak memberi kesan tertentu. Namun, lagi dan lagi, saya tidak sensitif dengan hal-hal seperti ini.

Di desa saya, ada kepercayaan bahwa kalau ada benda, yang berkaitan dengan prosesi duka, tidak dibereskan atau tertinggal, artinya mendiang “ingin ditemani”. Seakan-akan kursi yang tertinggal menggambarkan dalam waktu dekat warga akan kembali melayat di tempat yang sama.

Daya hidup ibu yang mulai redup

Hari demi hari berlalu. Lampu di rumah mulai redup dan bahkan putus satu per satu secara bergantian. Banyak serangga seperti kecoa dan kelabang yang mulai memenuhi beberapa ruangan tertentu. Bahkan kursi roda bapak berpindah sendiri. 

Saat itu, saya juga melihat daya hidup ibu mulai meredup. Saya melihat ibu memiliki wajah yang berbeda, tampak seperti wajah orang lain. Setelah 14 hari kepulangan bapak, aura kesedihan dalam raut wajah ibu tidak juga mereda. Apalagi ketika ibu menatap kursi hijau khas acara hajatan itu.

Sebenarnya, beberapa saudara sudah menyarankan kami untuk segera mengembalikan kursi layatan yang tertinggal agar tidak membawa “teman”. Namun, belum sempat mengembalikan, ibu saya menyusul bapak. Meninggal. 

Kursi yang seharusnya hanya satu, tepat pada hari ke-20, kembali lengkap dan memenuhi halaman depan rumah.

Jadi, begini kesedihan mendalam ditinggal kedua orang tua

Suasana rumah semakin suram. Sunyi. Sepi sekali. Setelah ibu tiada, rumah ini seperti kehilangan jiwanya. 

Selama beberapa waktu, banyak saudara yang menenami saya di rumah ini. Yang bisa saya lakukan hanya merelakan kepergian bapak dan ibu yang sangat dekat. Para saudara juga berusaha kuat untuk menjaga perasaan dan mental saya. 

Ditinggal kedua orang tua, rasanya seperti hanya ada kehampaan hari demi hari. Seakan-akan kamu tidak punya tujuan lagi di dunia ini. Kadang, saya tidak merasakan apa-apa ketika mengamati seisi rumah. Kata orang, inilah kesedihan paling dalam. Ketika kita kehilangan rasa dan yang ada hanya hampa. 

Penulis: Ananta Listya Kirana

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Tidak ada Tanggal Kadaluarsa untuk Duka dan pengalaman kelam lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Terakhir diperbarui pada 3 Januari 2025 oleh

Tags: berita dukaibuibu meninggalkabar dukaMalam Jumatmeninggal
Ananta Listya Kirana

Ananta Listya Kirana

Penulis yang kadang-kadang menulis.

Artikel Terkait

Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO
Catatan

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

9 Februari 2026
ibu dua anak, SMA Internasional Budi Mulia Dua, sekolah islam yang tidak mewajibkan siswinya berjilbab.
Ragam

Ibu Dua Anak Nekat Balik Masuk SMA Demi “Memutus Kemiskinan”, Cita-Cita Ingin Kuliah Kedokteran

29 Januari 2026
Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO
Esai

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

27 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.