Pura-pura baik-baik saja padahal berantakan
Urusan warisan utang orang tua tersebut membuat kehidupan Shofwan dan sang adik benar-benar berantakan.
Sebelum sang bapak meninggal, Shofwan sebenarnya sudah merencanakan untuk melamar sang kekasih, untuk nantinya lanjut ke jenjang pernikahan. Namun, acara lamaran tersebut dibatalkan.
“Di tengah jalan juga aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Umur udah kepala tiga, dia perempuan, dikejar-kejar keluarga buat segera nikah. Nunggu hidupku membaik dalam situasi seperti itu rasa-rasanya nggak mungkin. Jadi kuminta dia buat cari yang lebih mapan aja lah,” tutur Shofwan.
Sementara sang adik, yang harusnya punya banyak kesempatan atau melakukan banyak hal di remaja seusianya, harus turut kalut dalam beban seberat itu.
Tidak ada yang baik-baik saja antara Shofwan dan sang adik. Jelas sangat capek dan sumpek. Tidak jarang Shofwan dan sang adik saling meratap dan menangis saat sedang ada momen berdua: entah di kursi Indomaret atau di tepi kali saat mereka mancing berdua.
“Tapi di hadapan ibu, kami sepakat untuk jangan sambat apapun. Harus kelihatan baik-baik saja. Bikin hati dia ayem,” ucap Shofwan.
Sering kali sang ibu, karena merasa bersalah, menangis dan meminta maaf karena alih-alih memberi warisan harta, orang tua justru membebani dengan utang besar. Nyesek, jelas. Tapi Shofwan mencoba menghibur sang ibu, mengatakan kalau semuanya bakal teratasi. Utang-utang bapak bakal lekas lunas.
Minimal belum mantap bunuh diri
Ada masanya ketika Shofwan dan adiknya merasa marah meletup-letup kepada sang bapak yang sudah terbaring di liang lahad. Kemarahan yang sulit dijelaskan.
Di momen itu, tidak jarang Shofwan berpikir untuk mengakhiri hidup saking tidak kuatnya memanggul beban utang tersebut.
“Ya butek aja pikiranku. Kalau lagi jernih ya mikir lagi, kasihan ibu dong kalau aku bunuh diri. Apalagi dia juga sama kayak aku, nggak tahu menahu utang bapak semasa hidup itu dibuat apa saja.
“Kalau adikku lebih dewasa lagi. Dia mengasumsikan, utang-utang bapak itu ya buat biaya kuliahku dulu, biaya sekolah adik, dan keperluan rumah tangga lain. Itu yang membuat kami dan ibu nggak merasa kekurangan ekonomi. Jadi ya kalau memang akhirnya begini, mau diapain lagi kalau nggak dijalani?” lanjut Shofwan.
Sampai saat ini, Shofwan mengaku masih kerap mendapat bisikan untuk mengakhiri hidup. Terutama saat pundaknya terasa semakin berat dan pikirannya teramat butek. Untungnya, minimal hingga saat ini, bisikan itu belum berhasil membuatnya merasa “mantap” untuk menenggak racun serangga. Dorongan untuk melanjutkan hidup masih lebih kuat meski harus dengan tubuh “terkoyak-koyak”.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik “Hama”, Tapi Tetap Dihina Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













