Dunia Akbar Guritno seolah runtuh usai hubungannya dengan kekasih berakhir. Namun siapa sangka, momen itu justru menjadi titik balik dirinya dalam meniti karier ke luar negeri. 6 bulan yang lalu, pemuda asal Kediri itu diterima kerja di luar negeri sebagai tukang cukur. Tepatnya di Selandia Baru dan memutuskan slow living di sana.
Kirim 200 lebih lamaran kerja
Perjumpaan Akbar dengan negara Selandia Baru bermula dari kesedihannya yang baru putus cinta hingga berakhir melancong ke luar negeri. Belum pulih dari masa lalunya, Akbar masih harus kelimpungan mencari kerja.
Ia kemudian mencari lowongan kerja di beberapa aplikasi. Salah satu situs yang Akbar kunjungi adalah SEEK. Pasar lowongan kerja online yang tersebar di Australia, Selandia Baru, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina. Sejak didirikan tahun 1997, perusahaan asal Melbourne, Australia ini telah berkembang menjadi perusahaan teknologi multinasional yang terdaftar di Bursa Efek Australia.
“Setidaknya, aku daftar ke 200 lowongan berbeda termasuk di situs Indeed. Terus aku cari lowongan di grup Facebook khusus profesi yang aku minati (barber),” kata Akbar saat dihubungi Mojok, Kamis (5/3/2026).
Tanpa diduga, dari ratusan lamaran itu, Akbar mendapat kabar di salah satu tempat potong rambut pria untuk wawancara secara online. Hingga akhirnya Akbar lolos sebagai tukang cukur alias barber di New Plymouth, Selandia Baru.
Tak perlu waktu lama bagi Akbar untuk memutuskan kerja di luar negeri guna menata hati dan pikirannya. Ia pun bergegas mengurus visa sponsorship di website resmi Imigrasi Selandia Baru.
“Aku langsung urus paspor, SKCK, sertifikat profesi, surat pengalaman kerja (CV), medical check up dan beberapa berkas lain,” ucapnya.
Menemukan titik terang di Selandia Baru
Beruntung bagi Akbar sebab keputusan itu tak pernah ia sesali. Kerja di luar negeri terutama di Selandia Baru justru membuatnya perlahan pulih dari masa lalu. Alih-alih galau, Akbar memutuskan bangkit sembari mempelajari banyak hal.
Tak pelak, ada banyak pengalaman baru yang Akbar temui saat di Selandia Baru. Salah satunya soal budaya kerja di luar negeri. Berdasarkan cerita teman-temannya dan pengalamannya kerja di Surabaya, Akbar sudah muak sebagai karyawan gaji imut (karjimut) yang selalu dituntut lembur.
“Aku lebih cocok dengan dunia barat yang lebih adil secara aturan maupun budaya kerjanya. Tidak seperti negara-negara Asia Timur yang banyak lembur, senioritas, bullying, dan kurang manusiawi,” jelas Akbar.
“Orang-orang di Selandia Baru juga sangat disiplin, cara bercanda mereka juga beda, tidak banyak drama seperti di lingkungan sekitarku dulu,” lanjutnya.
Di sisi lain, Akbar ingin membuktikan bahwa masih ada pekerjaan dengan prinsip work life balance walaupun harus mengambil risiko dengan peluang kerja di luar negeri.
“Ada loh kehidupan di luar sana yang kerjanya ‘sewajarnya’ tapi tanggal 20 tiap bulan nggak harus bingung cari pinjaman uang, tanpa harus membuang potensinya berkembang,” ucapnya.
Work life balance di Selandia Baru
Secara kualitas hidup, Akbar juga tidak mempermasalahkan keputusannya kerja di luar negeri. Gajinya lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan ia tidak khawatir jika ingin mengembangkan potensinya, sebab proses belajar yang bagus akan lebih dihargai dengan peningkatan upah.
“Aku merasa hidup di sini jauh lebih stabil baik secara mental, keuangan, dan kesehatan.
Akbar berujar kerjanya kini lebih santai tanpa ada masalah dengan teman kerja maupun atasan. Aktivitasnya pun terjadwal dengan baik. Mulai pukul 05.30, Akbar sudah bangun lalu lanjut ibadah, dan sarapan. Pukul 06.00 ia berangkat ke tempat gym untuk olahraga. Lalu, pulang jam 08.00 untuk persiapan bekerja yang mana barbershop-nya mulai buka pukul 09.00.
“Jam 18.00 aku baru selesai kerja. Biasanya kalau nggak nongkrong sama teman ya belanja mingguan. Terus lanjut masak buat seminggu atau nggak biasanya main sepak bola sampai maksimal jam 20.00, lalu lanjut bersih-bersih dan makan malam. Pukul 22.30 aku baru tidur,” jelas Akbar.
Selain itu, kerja di Selandia Baru, kata Akbar, juga membuka pikiran bahwa umur bukan batasan untuk meraih mimpi.
“Sepengamatanku, sebagian orang di sini punya kesempatan yang sama berapapun usianya. Jadi aku pun lebih legowo untuk meniti karier.” Lanjutnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Lepas WNI karena Hidup Ribet dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













