Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 Februari 2026
A A
Gabung LPM/Persma demi jadi wartawan/jurnalis karena tampak keren. Kini menyesal setelah kerja di media online daerah dengan gaji rendah MOJOK.CO

Ilustrasi - Gabung LPM/Persma demi jadi wartawan/jurnalis karena tampak keren. Kini menyesal setelah kerja di media online daerah dengan gaji rendah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dulu di zaman kuliah—masa aktif-aktifnya di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM/Persma), Hari Pers Nasional selalu memberi suntikan energi besar bagi Delano, bukan nama asli, untuk meniti “jalan perjuangan jurnalisme”: menjadi seorang wartawan/jurnalis di media pers.

Bahkan, di awal kariernya menjadi seorang wartawan/jurnalis, semangat itu masih membara dalam dirinya. Entah kenapa, “wartawan/jurnalis” terasa menjadi atribut keren yang melekat dalam dirinya. Bahkan dia selalu bangga ketika menuliskan “wartawan” di kolom “profesi” KTP. 

Namun, realitas hidup sering kali tidak sejalan dengan gambaran ideal di kepala seseorang. Termasuk bagi Delano. Di usianya yang menjelang 30-an tahun, dia toh tidak beranjak ke mana-kemana. Karier stuck, gaji stuck, hingga harus menahan sakit hati karena cap “gagal”, bahkan dari keluarga sendiri. 

Bayangan keliru soal wartawan/jurnalis: profesi keren, pasti gaji tak main-main

Delano tidak menampik bahwa motifnya menjadi seorang jurnalis sebenarnya berkelindan antara dua hal: pengaruh ketokohan dan pelarian dari tujuan utama yang gagal tercapai. 

Pengaruh ketokohan: ada sosok-sosok hebat dalam dunia jurnalisme kita. Sebut saja Najwa Shihab. Bekerja dengan nurani demi membela kepentingan publik, terdengar amat luhur dan keren bagi Delano. 

Pelarian: Delano sebenarnya lebih ingin menjadi seorang kolomnis atau esais. Namun, berkali-kali tulisannya ditolak media massa, pada akhirnya menjadi wartawan/jurnalis adalah pilihan yang lebih masuk akal: karena basic-nya sama-sama menulis. Toh dia sudah terbiasa menulis berita bekal yang dia dapat dari gabung dengan LPM/Persma. 

“Maka bayanganku, gaji yang bakal diterima juga nggak recehan. Karena di masaku itu wartawan dipandang sama aja kayak pekerja kantoran,” ungkap Delano, Senin (9/2/2026) malam. 

Ditambah lagi, pemuda asal Jawa Tengah itu terpengaruh oleh film-film dengan tema “jurnalisme”. Digambarkan betapa kerennya profesi seorang pewarta itu, dan tampak tidak ada keluh kesah soal gaji rendah. 

Realitas wartawan/jurnalis di media pers daerah, keren enggak gembel iya

Delano menelan ludah ketika memulai kariernya di sebuah media pers online kecil di Jawa Tengah pada awal 2019. Bagaimana tidak. Gambaran gaji yang bakal dia terima: Rp15 ribu perberita, dengan beban harian 4 berita dan waktu kerja Senin-Sabtu (6 hari kerja). 

Namun, Delano sudah kepalang bingung. Sejak zaman kuliah terlanjur lebih fokus di LPM/Persma, tidak mengembangkan skill lain. Hanya skill menulis dan memberitakan saja yang dia punya. 

“Rp15 ribu kali 4 berita Rp60 ribu. Jika dikali sebulan (pakai asumsi full kerja) itu saja cuma dapat Rp1,8 juta,” ungkap Delano. 

“Nggak ada lah bayangan bisa kritis-kritis ala Najwa Shihab. Cuma memberitakan peristiwa. Nggak keren lah, apalagi gajinya,” sambungnya. 

Dan mirisnya, di daerah kecil, wartawan/jurnalis itu tidak lebih dari “gembel” yang perlu ditolong. Setidaknya di mata para birokrat. Tidak ada harga dirinya. 

Bahkan, amat mudah mulut wartawan disumpal atau dipesan untuk membranding birokrat, hanya dengan amplop berisi Rp50 ribu atau sekadar traktiran makan siang. 

Iklan

Delano awalnya sangsi dengan praktik semacam itu. Bertentangan dengan Kode Etik Jurnalistik yang dia pelajari. Namun, omongan sengak salah seorang rekannya menyadarkannya akan realitas yang dia hadapi. 

“Nggak usah naif. Jurnalis sejahtera itu cuma ada di Pusat (media-media besar yang sudah mapan secara bisnis). Gajinya tetap. Mungkin juga dapat BPJS Ketenagakerjaan. Kamu? Kita? Gembel,” ucap rekan Delano. 

Menyadari realitas tersebut, Delano pun pada akhirnya menjadi sering berburu amplop dari pejabat. Lumayan untuk bensin atau sekadar kopi dan rokok. 

Batu loncatan, tapi ambles

Pada mulanya Delano hanya ingin menjadikan media pers online di daerah sebagai batu loncatan. Siapa tahu, jalan hidup dan sedikit keberuntungan menyeretnya ke Ibu Kota: ke media-media besar yang bisnisnya lebih mapan. 

Namun, bukannya menjadi batu loncatan, batu tersebut justru semakin ambles. Tidak bisa melontarkan Delano ke mana-mana, berhenti di tempat.

“Ada lowongan kerja di media besar, kucoba ternyata gagal. Mungkin karena tempat kerja asalku adalah media yang nggak diperhitungkan. Wong emang media kecil daerah,” ucap Delano. 

Hingga kini, dia sudah tiga kali pindah media. Setidaknya saat ini dia mendapat gaji tetap (di angka Rp2,2 juta). Lebih beruntung dari sejumlah temannya, wartawan/jurnalis daerah yang harus menerima gaji di bawah UMP. Walaupun memang masih pas-pasan untuk sewa kos dan kebutuhan. Jadi jangan harap bisa punya tabungan. 

Jelas masih belum sejalan dengan cita-cita Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang berharap gaji wartawan ada di angka Rp8 jutaan atau seminimal-minimalnya seangka UMP/UMK, atas risiko kerja dan peran vitalnya sebagai salah satu pilar demokrasi. 

Cap gagal dan tak berguna dari keluarga sendiri

Delano nyaris jarang pulang. Dia selalu takut tiap sesekali harus pulang ke rumahnya, kendati jarak rumah dengan tempat kerjanya hanya 2 jam. Karena kalau pulang, pasti dia akan kembali ke kos dengan dada sesak hingga cemas berlebihan. 

Orang tua Delano memang sudah berkali-kali meminta Delano untuk mencari pekerjaan lain yang lebih pasti secara ekonomi. Setelah tahu honor perberita yang Delano terima sejak awal kariernya. 

Masalahnya, seperti yang Delano singgung di awal, dia merasa tidak punya keahlian lain selain menulis berita. Alhasil, kalau tidak dibanding-bandingkan dengan anak tetangga atau saudara yang sudah mapan, ya orang tua pasti menjadikan Delano sebagai sasaran kekesalan. 

“Umur 30 tahun sudah nikah, sudah bisa beli ini, beli itu. Sama orang tua bisa ngasih. Sementara aku, belum bisa ngasih apa-apa dan nggak jadi apa-apa,” ungkap Delano lesu. 

“Dikuliahkan mahal-mahal. Kerja bertahun-tahun kok nggak ada hasilnya,” kalimat itu paling sering terlontar dari sang ibu. Perkaranya, tidak jarang Delano memang masih meminta bantuan uang dari orang tuanya. Misalnya, sesederhana bayar pajak motor, sementara uang Delano kurang. Mau tidak mau dia harus minta tambahan dari orang tua. 

Nyaris tidak ada kebanggaan dari orang tua terhadap Delano. Sebab, Delano mendengar sendiri, betapa orang tuanya sering merendahkan Delano di hadapan orang lain: tetangga atau saudara. Disikapi seperti anak gagal dan tidak berguna. 

“Sedih, sih. Tapi juga burem, entah sampai kapan kayak gini. Apalagi, makin banyak media pers bertumbangan kan, langsung badai PHK. Di titik ini, aku merasa wartawan/jurnalis ternyata bukan profesi yang recommended, bahkan untuk opsi pelarian sekalipun,” beber Delano. 

“Aku juga bener-bener ngelarang adikku ngikuti jejakku. Walaupun dia juga suka menulis. Tapi aku arahkan dia buat pragmatis. Kita butuh uang. Bukan untuk sekadar hidup, tapi juga nggak direndahkan,” tutupnya nanar. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh

Tags: gaji jurnalisGaji Wartawanjurnalisloker wartawanlpmmedia onlinePersmapilihan redaksiWartawanwartawan amplopwartawan daerah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pekerja muda hobi bikin kue
Sehari-hari

Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada

10 Februari 2026
Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
s2, kicau mania mojok.co
Sehari-hari

Lulusan S2 di Jogja Memilih Jadi “Kicau Mania” karena Susah Dapat Kerja, Memelihara Burung Obat Stres Terbaik Saat Nganggur

10 Februari 2026
Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO
Catatan

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Terbaik Toyota dan Zenix Tetap Menyedihkan MOJOK.CO

Innova Reborn Mobil Terbaik Sepanjang Masa, Toyota Saja Tidak Rela Menyuntik Mati dan Zenix Tetap Saja Menyedihkan

10 Februari 2026
tunadaksa lulusan S1 universitas terbuka (UT). MOJOK.CO

Lulus SMA Cuma Diterima Kerja Jadi Babu dan Dihina karena Fisik, Kini Malah Jadi Asesor Sertifikasi dengan Gelar S1 UT

10 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
tan malaka.MOJOK.CO

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.