Seorang pemilik kos di Jogja mengaku resah dengan tingkah laku mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN atau PTS Jogja dan menyewa kosnya di Depok, Sleman. Tapi ia hanya bisa memendam kesal sembari menerima teguran demi teguran dari tetangga, belum bisa berbuat lebih banyak.
***
Pada malam setengah gerimis di penghujung Januari 2026 lalu, saya bertamu ke kediaman Bendi (40) di Depok, Sleman, Jogja. Saya datang untuk pijat capek karena tubuh yang rasanya agak remuk setelah perjalanan demi perjalanan lintas kota.
Bendi membuka praktik pijatnya di sebuah kamar berukuran 2×3. Kamar itu terhubung langsung dengan bangunan rumah yang ternyata difungsikan untuk kos.
Kata Bendi, rumah tersebut merupakan bangunan kos peninggalan mendiang sang ibu. Sejak sang ibu meninggal pada 2022 lalu, Bendi mendapat tanggung jawab untuk mengurusnya.
“Ada empat kamar, nanti rencana ada kamar baru lagi. Perkamar sejak masa ibu dikasih harga Rp550 ribu. Bisa sendiri, bisa berdua. Kalau berdua ya jadi Rp800 ribu. Kebanyakan mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja,” jelas Bendi.
Ada beberapa kelakuan para mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja selama menyewa kamar di kos milik Bendi (ya semoga hanya oknum, karena Bendi yakin tidak semua mahasiswa asal Jakarta seperti itu, hanya yang sewa di kosnya saja yang begitu), antara lain:
#1 Mahasiswa Jakarta terkesan tak punya sopan santun di Jogja, sekalipun dengan pemilik kos
Bendi mengakui, sebagai warga asli Jogja, ia masih memegang teguh nilai sopan santun dan tepa selira (toleransi sosial). Di mana bumi dipijak, situ langit dijunjung. Itu peribahasa yang Bendi pegang betul.
Oleh karena itu, ia mengaku tidak bisa bersikap biasa saja ketika mendapati ulah-ulah tidak menyenangkan dari para mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN atau PTS Jogja tersebut. Walaupun sebenarnya banyak pemilik kos lain yang menganggapnya biasa saja.
“Sesimpel menyapa, menundukkan kepala, senyum kalau ketemu orang yang lebih tua. Itu penghuni kos saya nggak bisa. Sementara lingkungan sini padat,” ujar Bendi.
Lha kok ke warga sekitar, ke pemilik kos sendiri saja mereka cenderung cuek dan jutek. Tone bicara juga tidak bisa halus, tapi selalu agak tinggi. Memberi kesan tidak nyaman bagi Bendi.
“Misalnya, kalau mereka mau komplain apa soal fasilitas kos di grup WA, menyampaikannya juga nggak enak. Mungkin karena saya terbiasa dengan kalau mau apa-apa diawali dengan, minimal, ‘Nuwun sewu, atau mohon maaf, matur nuwun, atau terima kasih’,” ucap Bendi.
#2 Mahasiswa Jakarta di kos Jogja: tidak bisa atur omongan
Selama memijat punggung saya, dari bangunan kos terdengar teriakan-teriakan dari dua orang mahasiswa asal Jakarta tersebut. Teriakan penuh umpatan, dari “ngentod”, “anjing”, “bangsat”, “tolol”, dan sejenisnya. Kalau dari kebisingannya, sih, mereka sedang sibuk mabar Mobile Legend (ML).
Sekali lagi, Bendi mengakui, barangkali ia lah yang terlalu kolot. Karena sekarang mabar ML sudah menjadi kelaziman di kalangan anak muda, apalagi sambil teriak-teriak dan mengumpat.
“Kenapa saya terganggu? Karena kata-kata yang keluar kasar dan itu terdengar kencang. Maksud saya, kalau mau ngumpat-ngumpat ya mbok yang lirih-lirih (pelan-pelan),” keluh Bendi.
Mungkin karena di Jakarta, umpatan yang dilontarkan terang-terangan oleh anak muda di lingkungan yang sebenarnya banyak orang tuanya dianggap hal biasa. Sementara di lingkungan Bendi tidak demikian.
Bendi sendiri sudah beberapa kali menerima teguran dari tetangganya di kawasan Depok, Sleman, tersebut. Apalagi, teriakan-teriakan yang mengganggu tersebut tidak hanya soal kata-kata kasar, tapi juga soal waktu.
#3 Tak tahu waktu, tak peduli jika mengganggu
Lalu lalang di kos milik Bendi di Depok, Sleman, tersebut terbilang nyaris tanpa jeda. Ada saja penghuni kos yang dihampiri oleh teman kuliahnya dari PTN/PTS di Jogja tempat mereka kuliah.
Sekadar untuk mabar ML, gitaran, atau sekadar diskusi. Tidak hanya sesama jenis, tapi juga lawan jenis pun masuk.
Masalahnya, mereka kerap tidak tahu waktu. Sebab, sering kali keramaian di kos milik Bendi tersebut berlangsung hingga lewat tengah malam. Sementara di atas jam 10 malam, lingkungan kos di Depok, Sleman, tersebut sudah lengang.
Kebiasaan yang, mungkin normal di Jakarta, tapi kalau dibawa di tengah sebuah perkampungan seperti Depok, Sleman, menjadi agak mengganggu kenyamanan warga setempat.
Mau negur takut kehilangan penghuni
Agak dilematis bagi Bendi untuk menegur atau membuat aturan yang lebih ketat pada kosnya. Sebab, pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja, itu mempertimbangkan risiko yang bakal ia hadapi setelahnya.
Misalnya, jika ia membuat aturan jam malam. Bisa jadi penghuni yang sekarang memilih mencari kos lain yang jamnya lebih leluasa, sementara para pencari kos tidak akan meliriknya. Karena memang kos model begitu lah yang banyak dicari: yang menawarkan fleksibilitas jam.
Apalagi jika ditambahi aturan “dilarang berisik di atas jam 12 malam” (misalnya). Malah tidak akan ada yang tertarik buat ngekos di kos milik Bendi.
“Dulu zaman ibu itu kayaknya masih sopan-sopan dan tahu aturan. Sejak setelah pandemi, penghuninya kan mahasiswa-mahasiswa generasi baru yang kuliah di PTN/PTS Jogja. Yang asal Jakarta juga beda dengan dulu di zaman ibu masih hidup,” kata Bendi.
Jika dulu mahasiswa asal Jakarta masih berupaya tahu tempat, generasi yang sekarang cenderung lebih bodo amat, cenderung persetan dengan norma atau aturan sosial di bumi yang mereka pijak.
“Ya nanti ada waktunya saya tegur mereka,” tutur Bendi. Di saat bersamaan, suara “Goblok!” terdengar berulang-ulang dari area kos milik Bendi. Menggoblok-goblokkan rekan mabar yang dianggap tidak becus. Saya tersenyum menatap Bendi, sedangkan Bendi menghela napas berat membalas tatapan saya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













