Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 April 2026
A A
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Ilustrasi - Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Etos kerja orang Purwokerto bikin pekerja Jogja kaget: tidak ada santai-santainya

Pindah kerja di Purwokerto dengan bayang-bayang slow living membuat Echa kaget dengan etos kerja teman-temannya. Pekerja Jogja itu bahkan mengaku sempat agak kepontal-pontal mengikuti etos kerja mereka. 

“Kelihatannya mereka ini santai, guyon-guyon. Tapi kalau soal kerja memang sungguh-sungguh. Gaji kecil itu urusan lain, tapi kerja tetap harus disiplin dan kerja sungguh-sungguh,” beber Echa. 

Iklan

Itu berbeda dengan apa yang Echa pernah alami di Jogja. Sebab, ada saja temannya di tempat kerja lama yang kalau kelihatan santai, ya santai saja. Kerja sekadarnya karena mengukur gaji yang terima. Sederhananya: kalau gaji kecil, ngapain kerja sungguh-sungguh. 

Tapi di lingkungan pertemanannya di Purwokerto: teman-teman Echa percaya kalau disiplin dan etos kerja yang baik suatu saat akan mengantarkan pada jalan rezeki yang lebih baik. Sekarang gaji boleh kecil, tapi dengan sungguh-sungguh bekerja, siapa tahu ada skema—walaupun agak aneh—si bos bakal menaikkan gaji. 

“Tapi itu skema jeleknya. Skema bagusnya, modal etos kerja semacam itu bisa bikin dia punya catatan bagus. Sehingga kalau suatu saat pindah kerja di tempat yang lebih bagus, orang nggak akan ragu merekrut dia,” papar Echa. 

Dalam jurnal Beberapa Karakter Orang Banyumas, Sugeng Priyadi menyebut, orang Banyumas punya ungkapan: ibarat endhas enggo sikil, sikil enggo endhas (ibarat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala). Ungkapan itu adalah gambaran betapa dalam bekerja orang Banyumas—termasuk Purwokerto—siap jungkir balik. 

Tidak menye-menye: gaji kecil buat bercanda, mengurangi potensi makan hati

Dan, kata Echa, berbeda dari pekerja Jogja yang kerap mengeluh dengan UMR kecil, orang Purwokerto menolak untuk itu. 

Mengeluhkan gaji kecil sebenarnya sah. Tidak ada yang salah. Hanya saja, ketika kerja di Purwokerto, Echa memiliki cara baru dalam menghadapi gaji kecil atau nasib tidak menyenangkan lain: jadi candaan. 

“Ya memang bosnya kere, jadi bisanya ngasih gaji seupil. Misalnya jadi guyonan kayak gitu di teman-temanku,” kata Echa. “Kalau mau gaji besar, ya jangan ke Purwokerto buat slow living-slow living itu.” 

Contoh lain, misalnya seorang karyawan habis ditegur atau bahkan dimarah-marahi bos, tidak lantas menye-menye dan kena mental. Tapi malah jadi candaan di tongkrongan. 

Bukannya tidak sakit hati. Tapi, kata Echa, lebih baik jadi candaan daripada makan hati terus-menerus. Malah bikin sumpek. 

Memahami cara pandang lain soal slow living 

Pada akhirnya, Echa mendapat pemahaman lain soal narasi slow living di Purwokerto. 

Bagi Echa, sebenarnya Purwokerto tidak istimewa-istimewa amat. Kecuali kamu adalah seorang pensiunan yang jaminan hari tua aman. Tapi bagi pekerja biasa seperti Echa dan teman-temannya, hidup lama-lama di Purwokerto tanpa beban finansial sama sekali agaknya mustahil. Sebab, gaji kecil di sana benar-benar terasa tidak ada nilainya di tengah kondisi ekonomi yang terus memburuk. 

“Slow living mereka lebih ke keberanian menghadapi kenyataan. Survive dan berani menekan banyak hal untuk mencukup-cukupkan gaji. Tapi kalau kamu berharap lepas beban, nggak serta merta begitu,” kata Echa. 

Karena narasi biaya hidup murah di salah satu kecamatan di Banyumas itu tidak sepenuhnya besar. Bahkan cenderung beda tipis dengan Jogja yang sudah masuk kategori tinggi.

Oleh karena itulah, karena ujung-ujungnya Echa harus tunduk pada kebutuhan finansial dan tuntutan gaya hidup, setelah 1,5 kerja di Purwokerto ia pun memutuskan pindah lagi ke Jogja. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Iklan

BACA JUGA: Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 7 April 2026 oleh

Tags: banyumasgaji purwokertoJogjakarakter orang banyumaskarakter orang purwokertokerja di jogjakerja di purwokertopekerja jogjapilihan redaksiPurwokertoslow livingslow living di banyumasslow living di purwokertoumk purwokerto
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.