Pekerjaan berujung ditelantarkan
Meski begitu, Lala bilang, pekerjaan akan tetap menjadi prioritasnya. Akan tetapi, ia tidak menampik kemungkinan bahwa dirinya akan lebih bersantai menyikapi pekerjaan ketimbang saat berada di kantor.
Bukan tidak mungkin juga, kata Lala, akan meninggalkan pekerjaan untuk beristirahat. Padahal, dirinya menyadari bahwa harus siap sedia selama jam kerja.
“Tetap [prioritas], tapi biasanya kalau udah kelar ya santai banget,” kata dia.
“Malah kadang kutinggal tidur, padahal harusnya standby ya,” katanya menambahkan.
Tidak hanya Lala, dua pekerja Jakarta lainnya juga mengatakan akan melakukan hal yang sama. Mereka tidak menutupi kemungkinan akan melakukan aktivitas lain, yang berujung menelantarkan pekerjaannya.
Salsa (25) mengatakan, akan bekerja sambil memasak. Ia juga akan melakukan aktivitas selayaknya akhir pekan karena tidak harus pergi ke kantor.
“Aku mau kerja sambil masak,” katanya kepada Mojok, Rabu (25/6/2026).
“Kayak pas weekend, pagi-pagi ke pasar karena nggak perlu ke kantor. Aku bisa multitasking goreng ayam sambil kerja,” tambahnya.
Sementara itu, Nanda (24) bilang akan bekerja sambil bermain video game. “Kerja, sambil main,” ujar dia.
Setidaknya, menurut Nanda, dirinya masih akan berdiam di rumah. Meski untuk itu, Nanda mengatakan tidak hanya sekadar bekerja karena mempunyai kesempatan untuk melakukan aktivitas lain, selain bekerja.
Skema WFH sudah tidak efisien
Rencana bekerja sambil melakukan kegiatan lain seiring dengan adanya wacana WFH bukan tanpa alasan. Ekonom energi sekaligus Dosen UGM, Fahmy Radhi, menilai akan sangat sulit menuntut ASN dan pekerja swasta dalam menerapkan WFH sebab kebijakan ini menyangkut perubahan pola kerja.
Ia menyatakan, dalam skenario WFH 1 hari yang direncanakan akan diterapkan pada Jumat, memungkinkan pekerja tidak hanya bekerja di rumah. Melainkan, mereka bisa work from anywhere (WFA) sekaligus menikmati long weekend, menambahkan hari Jumat pada libur akhir pekan.
“Sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan,” ucapnya seperti dikutip dari Tempo, Rabu (25/3/2026).
Keberhasilan skema WFH menghemat BBM saat pandemi Covid-19 dipengaruhi adanya keterpaksaan agar tidak tertular Covid-19. Sementara itu, Fahmi menilai, variabel ini tidak ada pada kebijakan WFH 1 hari yang akan diterapkan.
Tanpa keterpaksaan seperti sebelumnya, sangat sulit WFH bisa diterapkan dan benar-benar dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Anak Muda Isi BBM Tergantung Antrean SPBU: Pertalite-Pertamax Dianggap Sama, padahal Terbiasa Buru-buru dan “Buta” Kualitas dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














