Selama ini, kita terus-menerus dicekoki satu mitos: pergaulan di Jakarta itu sangat toksik. Kita selalu diwanti-wanti bahwa orang ibu kota, khususnya anak-anak muda di kawasan Jakarta Selatan (Jaksel) itu egois, individualis, dan serba transaksional.
Pokoknya, kalau merantau ke sana, siapkan mental baja agar tidak terbawa arus pergaulan yang merusak.
Di satu sisi, mitos itu memang benar. Namun, bagi Esa (23), setelah empat tahun merantau dan berkuliah di salah satu kampus negeri di Jakarta, ia justru punya pandangan yang bertolak belakang.
Sebelum bercerita lebih jauh, pemuda asal Purworejo memberikan satu catatan penting. Ia sebenarnya sangat malas menggunakan istilah “orang kabupaten” atau “orang desa“. Baginya, istilah itu terlalu klasis alias mengotak-ngotakkan kelas sosial, dan terkesan merendahkan.
Namun, untuk mempermudah mengartikulasikan cerita dia, sebutan “orang kabupaten” terpaksa dipakai sekadar untuk membedakan orang yang berasal dari daerah dengan gaya hidup orang di kota metropolitan.
Individualisme anak Jakarta justru lebih baik, ketimbang suka ikut campur
Dari pengamatannya, Esa sampai pada satu kesimpulan yang mungkin membuat sebagian orang tidak terima: sifat orang kabupaten nyatanya jauh lebih toksik dan merusak mental daripada gaya hidup anak Jakarta, khususnya Jaksel.
Selama ini, sifat individualis di kota selalu dilabeli sebagai sesuatu yang buruk. Sebaliknya, di daerah, gotong royong selalu dipuji.
Namun, setelah lama tinggal di kota, Esa sadar bahwa kehidupan di kampung halamannya menyimpan banyak sisi gelap. Kepedulian, yang berlabel “guyub” atau “srawung”, seringkali kebablasan menjadi sifat suka ikut campur urusan pribadi orang lain.
“Di kabupaten itu privasi ditabrak habis-habisan atas nama srawung,” ungkapnya, Sabtu (16/5/2026).
Esa merasakannya sendiri setiap kali pulang kampung. Ia selalu dibikin tak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang menabrak batas privasinya. Tanya-tanya soal kehidupan asmara, hingga kehidupan “nakal” di kos.
“Mungkin mereka mau basa-basi. Cuma caranya nggak gitu, ada banyak topik yang bisa dibahas, nggak melulu masalah personal,” kata dia.
Sifat-sifat seperti ini, bikin dia tidak nyaman.
Bandingkan, misalnya, dengan teman-teman Jaksel-nya. Teman kampus Esa mungkin terlihat apatis. Namun, di balik sikap cuek-bebek itu, mereka sangat menghargai privasi.
Orang Kabupaten suka ikut campur sekaligus suka gasligting
Sifat suka ikut campur itu makin parah karena seringkali berlindung di balik tameng tradisi dan budaya. Di sinilah letak toksiknya orang daerah yang paling halus, tapi mematikan.
Ketika perekonomian keluarga Esa lesu, ia sempat cuti kuliah dan coba-coba kerja sampingan. Namun, tekanan berat itu bikin ia mengalami burnout, dan akhirnya memutuskan pulang selama beberapa hari buat menenangkan pikiran.
Alih-alih mendapat dukungan, Esa justru disalahkan habis-habisan. Ia dicap lemah. Penderitaan mentalnya diremehkan dengan kedok “nasihat”.
“Halah, kamu itu cuma kurang bersyukur. Makanya ibadah yang rajin, jangan main HP terus. Ingat orang tua di kampung banting tulang! Itu belum seberapa” cecar kerabatnya, yang masih membekas di kepala Esa.
Di lingkungan seperti itu, kelelahan mental tidak diakui dan dianggap sebagai kelemahan. Berbeda jauh dengan teman-teman kampusnya di Jakarta. Ketika Esa mengeluh capek, mereka akan memvalidasi perasaannya, menyuruhnya istirahat, atau minimal mengajaknya mencari udara segar.
“Di Jakarta, rasa lelah diakui sebagai sesuatu yang wajar. Manusiawi. Di desa, nggak bisa ngeluh dikit.”
Crab Mentality orang kabupaten sangat mengerikan
Di desa, kalau kamu kere, kamu akan jadi bahan gunjingan. Tapi jangan kira kalau kamu sukses, kamu akan dibiarkan hidup tenang.
Di lingkungan kabupaten, berlaku sebuah prinsip yang disebut crab mentality. Ibarat tumpukan kepiting di dalam ember, siapa pun yang mencoba naik ke atas akan ditarik jatuh oleh kepiting lainnya.
“Crab mentality, di desa, itu nyata lho. Jangan salah, bahkan parah banget,” jelasya.
Esa memberikan satu contoh nyata. Suatu hari, dari hasil menabung uang kerja lepas di Jakarta, Esa berhasil membeli sebuah HP baru. Barang itu ia bawa saat pulang kampung.
Apakah tetangganya ikut senang melihat anak muda desanya bisa mandiri? Tentu tidak. Bukannya mengapresiasi kerja keras Esa, tetangga di sekitar rumahnya justru mulai berbisik-bisik, menyebar gosip.
“Di desa, mari jujur saja, kesuksesan yang melampaui rata-rata tetangga tidak selalu dianggap sebagai prestasi. Malah dicurigai. Kamu miskin dihina, kamu sukses difitnah.”
Di Jakarta, tinggal cut off kalau tak cocok. Di desa, mana bisa?
Pada akhirnya, tingkat bahaya dari sebuah lingkungan toksik diukur dari seberapa mudah kita bisa melarikan diri darinya. Di poin inilah, pergaulan kabupaten benar-benar tidak ada tandingannya.
Hal ini diafirmasi oleh Savira (25), seorang perempuan yang sudah dua tahun bekerja di Jakarta. Bagi Savira, berhadapan dengan teman kantor atau anak Jaksel yang toksik itu perkaranya sangat mudah.
“Kalau muak sama teman kantor, atau circle pergaulan di Jakarta, ya udah, tinggal blokir nomornya, unfollow media sosialnya. Kelar urusan,” kata Savira.
Namun, cara tegas ini sama sekali tidak bisa diterapkan untuk kerabat di kampung. Savira pernah mencoba cut off dari beberapa saudara di daerah asalnya yang luar biasa toksik. Mulai yang dari hobi meminjam uang tapi nggak mau melunasi, hingga yang suka membicarakan ibunya di belakang.
Hasilnya? Bukannya hidup tenang, Savira malah dihakimi satu keluarga besar. Ia dicap sebagai anak durhaka, perempuan sombong yang lupa daratan, dan dituduh memutuskan tali persaudaraan.
“Di desa mah nggak mungkin bisa cut off saudara, yang ada kita dianggap anak Dajjal,” geramnya.
Sebagai orang yang juga lahir dan besar di desa, saya harus mengakui kebenaran pahit dari cerita Savira ini. Cut off saudara di desa, sama saja dengan bunuh diri. Kita bakal dicaci, dimaki, bahkan dianggap jahat ke keluarga besar. Meskipun, kita paham, menjalin tali silaturrahmi dengan mereka juga tak ada gunanya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
