Macetnya Jogja akan lebih parah dari Jakarta
Dengan banyaknya manusia yang memadati Jogja, orang-orang Jogja bukan hanya tersingkirkan dari jalanan utama. Mereka yang posisinya dirugikan, dari lokasi rumah, bisa jadi juga tidak bisa keluar dari rumahnya masing-masing.
Seperti Dhanty yang kediamannya berada tidak jauh dari destinasi wisata. Jadilah, dirinya tidak bisa menghindar dari kemacetan Jogja ini.
“Kalau kudu lewat Jalan Mataram yang arah Kotabaru itu biasanya macet,” katanya
“Nah iya, [rumahku] lumayan dekat. Jalan ke arah Kraton itu agak kecil-kecil, jadi ya macet ke arah Kraton dan Alkid (Alun-alun Kidul),” tambah dia.
Akibatnya, Dhanty tidak akan bisa keluar rumah seperti biasanya. Arus jalanan sudah pasti padat, orang-orang memenuhi area sekitar rumahnya, kendaraan tidak bisa bergerak dengan kecepatan normal, dan keluar rumah hanya akan menjadi sebuah kesalahan.
“Aku sudah jarang keluar kalau lagi liburan gede gitu, tapi ya macetnya tuh lama. Bukan kayak macet orang pulang atau berangkat kerja,” katanya.
Dibandingkan dengan arus lalu lintas biasanya, jelas jadinya Jogja akan mengadopsi jalanan Jakarta saat hari libur besar, seperti Lebaran. Memilih untuk melipir ke area yang jauh dari perkotaan pun tidak menjadi jalan keluar. Sebab dalam perjalanan menuju ke sana, Dhanty masih harus bertarung melawan banyaknya kendaraan warlok, serta sewaan wisatawan.
“Biasanya tuh plesir ya sama keluarga biar nggak macet, malah keluar kota sekalian. Tapi kadang ya, semuanya macet, bingung,” akunya sebal.
Maka dari itu, Dhanty menjadi serbasalah. Ia ingin keluar rumah ke perkotaan, tetapi tidak bisa. Mencoba untuk keluar kota, tetap harus melewati jalanan yang dipenuhi wisatawan. Jadilah, sebagai orang Jogja, Dhanty hanya bisa merutuki nasibnya.
Sudah Jogja hanya seluas 3.186,80 kilometer persegi, kedatangan wisatawan dan pemudik dalam rangka libur Lebaran membuat warlok sepertinya merasa sesak.
“Ah, Jogja ki kecil. Nyebai og [Jogja ini kecil, nyebelin],” ujarnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan












