Berdasarkan pengalaman saya berpindah-pindah tempat tinggal, menyewa kamar di kos campur adalah opsi terbaik bagi perantau. Terutama bagi mereka yang sudah bekerja.
Dulu, saat masih kuliah, saya termasuk orang yang tidak gampang betah. Saya selalu pindah kos nyaris setiap enam bulan sekali.
Saya terus mencari tipe kos yang memang sesuai dengan kebutuhan. Saya pernah mencoba kos yang lokasinya dekat kampus, jauh dari kampus, kos khusus putra, hingga kos yang satu bangunan dengan bapak dan ibu pemiliknya agar merasa lebih aman.
Menemukan kedamaian di kos campur
Namun, sejak tinggal di kos campur di Jogja pada 2019 lalu, saya menemukan “kedamaian” tersendiri. Tentu saja, ini bukan tanpa alasan. Bagi pekerja, kos campur menawarkan harga sewa yang rasional tapi dengan fasilitas kamar yang memadai.
Rata-rata kos campur sudah menyediakan kamar mandi dalam, dan terkadang AC. Harganya jelas lebih masuk akal dibandingkan jika harus menyewa atau kos eksklusif.
Alasan paling kuat mengapa kos campur banyak dicari adalah aturannya yang longgar. Tidak ada jam malam di sini.
Masing-masing penghuni diberikan kebebasan. Bagi pekerja yang sering dituntut lembur atau baru pulang larut malam, aturan bebas jam malam ini sangat memudahkan aktivitas harian. Kita tidak perlu merasa sungkan karena harus membangunkan penjaga atau pemilik kos hanya untuk membukakan pagar depan.
Akan tetapi, kebebasan ini tetap ada harganya. Tinggal di kos campur berarti kita harus siap menghadapi dan menoleransi “kelakuan minus” dari para penghuni lainnya.
Bikin susah karena menuhin-menuhin parkiran
Sisi tidak enak dari kos campur ini sangat dirasakan oleh Erwin (28). Ia adalah seorang karyawan swasta yang tinggal di kos campur setelah mulai bekerja.
Alasan ia memilih kos jenis ini sama seperti kebanyakan pekerja. Jam kerjanya panjang, dan ia butuh akses keluar masuk 24 jam.
Awalnya Erwin merasa nyaman. Namun, setelah beberapa bulan tinggal, ia mulai merasakan imbas negatif dari kebebasan yang tidak dibarengi dengan pengawasan tersebut.
“Ya mungkin ini udah jadi konsekuensi kos nggak ada yang jaga. Bebas bawa pasangan mereka masuk kapan saja, bahkan sampai menginap,” Sabtu (2/5/2026).
Dampak langsung dari kelakuan ini, kata Erwan, terlihat jelas di area parkir. Hampir setiap hari, lahan parkir motor di kos selalu penuh oleh kendaraan milik tamu.
“Capek banget, tiap pulang kerja larut malam, tiba kos malah nggak kebagian tempat parkir.”
Alhasil, untuk bisa memasukkan motornya, Erwin terpaksa harus menggeser-geser deretan motor milik tamu orang lain. Kadang, karena ruang parkir sudah benar-benar rapat, ia terpaksa memarkir motornya di luar pagar kos.
Kos campur bikin serba salah, apalagi suara berisik berantem dan “hubungan intim”
Urusan parkiran ternyata belum seberapa. Erwin bercerita mengenai masalah yang secara langsung mengganggu ruang privatnya.
Di kos campur, penghuni bebas membawa pasangannya masuk ke dalam kamar. Sayangnya, kebebasan ini seringkali mengganggu ketenangan penghuni kamar di sebelahnya.
“Jujur, aku yang sering dirugikan oleh situasi ini.”
Momen yang paling menyiksa, misalnya, saat malam hari ketika butuh tidur lelap, ia “terpaksa” mendengar jelas berbagai suara dari kamar sebelah. Mulai dari suara tertawa keras, suara orang mengobrol, hingga “suara aneh” dari aktivitas intim.
“Yang paling ngeselin suara orang yang sedang bertengkar,” jelasnya.
Erwin bercerita, ia pernah terbangun pada jam dua dini hari karena mendengar suara bentakan dari kamar sebelahnya. Pertengkaran itu berlanjut dengan bunyi barang yang dibanting, bahkan suara perempuan menangis.
“Jujur, terganggu dan serba salah,” kata dia. “Mau ikut campur nggak enak. Kalau nggak negur kok kasihan, tapi kayak bukan urusanku.”
Apalagi urusan penghuni lain yang jorok dan suka nyolong
Jika keluhan Erwin berkutat pada urusan kenyamanan, cerita dari Siska (25) memotret masalah yang berbeda. Siska adalah penghuni kos campur yang harus berbagai fasilitas umum dengan tetangganya, khususnya area dapur dan kulkas.
Siska menceritakan kekesalannya terhadap kebiasaan jorok penghuni lain di area dapur bersama. Seringkali, Siska menemukan tumpukan piring, sendok, dan wajan kotor yang dibiarkan tergeletak di wastafel, selama berhari-hari.
“Ngeselinnya, nggak ada satu pun penghuni yang mau mengaku siapa yang numpuk piring,” ujarnya.
Bekas makanan itu dibiarkan begitu saja sampai mengering, mengeluarkan bau busuk, dan akhirnya ditumbuhi jamur. Jika Siska butuh menggunakan wastafel, ia harus meminggirkan kotoran milik orang lain terlebih dahulu.
Selain dapur, kulkas umum adalah sumber emosi Siska yang paling besar. Kulkas yang fungsinya untuk menyimpan bahan makanan justru rawan pencurian. Siska mengaku sudah berkali-kali kehilangan makanan dan minumannya.
“Bukan nggak mau berbagi, cuma kesel aja kalau makanan hilang tapi nggak ada yang izin.”
Misalnya, pernah susu kotak miliknya yang baru diminum sedikit, tiba-tiba isinya sudah habis keesokan harinya. Di lain hari, makanan ringan miliknya hilang tanpa sisa dari dalam kulkas. Ada penghuni lain yang sengaja mengambil barang milik Siska tanpa izin dan tanpa merasa bersalah.
Mendengar cerita Siska, saya sangat membenarkan keluhan tersebut. Berdasarkan pengalaman saya selama tinggal di kos campur, ujian sebenarnya memang berada pada cara kita menyikapi fasilitas umum ini.
Bagi saya, urusan suara berisik dari tetangga kamar atau area parkir yang penuh karena tamu masih bisa ditoleransi. Tetapi, jika urusannya sudah bergeser pada kebiasaan memakan atau mengambil barang orang lain di kulkas tanpa izin, serta membiarkan sampah sisa makanan sendiri membusuk di dapur umum, itu sudah jauh berbeda.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA: Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
