Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Februari 2026
A A
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Ilustrasi - Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi perantau, apalagi yang merantau di kota besar seperti Jakarta, mudik ke desa naik motor adalah simbol kegagalan. Pasalnya, desa punya standar dan ekspektasi sukses yang sulit dikejar. 

***

Setiap lebaran, Sholeh (45) sudah pasti akan mudik dari Jakarta ke desanya di Rembang, Jawa Tengah. Dan memang hanya itu momen Sholeh bisa pulang ke desa. Di luar Ramadan, Sholeh akan fokus bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari anak dan istri. 

Mudik ke desa naik motor, melelahkan tapi hanya itu yang bisa diupayakan

Sedari masa lajang hingga berkeluarga dan hidup di Jakarta, Sholeh memang selalu mudik ke desa naik motor. Menyusuri pantura yang panjang dan padat dengan kendaraan roda dua tentu saja melelahkan. Akan tetapi, hanya itu yang bisa Sholeh upayakan. 

Pertama, naik motor membuat pengeluaran untuk transportasi jauh lebih hemat. Sebab, jika digunakan untuk membeli tiket bus pergi-pulang Jakarta-Rembang, akan habis jauh lebih besar. 

“Dulu pas zaman lajang sendiri, pas beristri ya sama istri. Malah seru di jalan. Melewati banyak daerah dengan ragam ciri khas. Kalau capek berhenti di masjid atau pom bensin buat rebahan. Itu seru, walaupun capek sekali,” ucap Sholeh. 

Ketika sang anak masih kecil pun, Sholeh dan istri tetap nekat mudik ke desa pakai motor: anak dijepit di tengah. Seiring anak tumbuh besar, baru lah Sholeh membagi dua model perjalanan: istri dan anaknya akan naik bus, sementara Sholeh tetap naik motor. 

Jelas dihina saudara dan tetangga, dianggap gagal di perantauan

Bertahun-tahun merantau di Jakarta dan hanya pulang setahun sekali, lantas dikira banyak masyarakat desa: Sholeh sudah mengantongi uang banyak. Sudah sukses di perantauan. 

Karena memang begitu lah anggapan orang desa terhadap para perantau. Kalau sudah merantau lama, dikira punya uang banyak dan kaya. Jika sudah kaya, maka harus menunjukkan standar-standar perantau sukses ala masyarakat desa Sholeh. 

“Standar sukses di desa itu kan kamu harus bisa bangun rumah besar, punya aset tanah, dan kalau kendaraan ya bisa beli mobil,” ucap Sholeh. 

Memang, di desa Sholeh di Rembang, perantau yang pulang-pulang bisa langsung beli mobil itu akan sangat dielu-elukan. 

Harga diri diinjak-injak perkara pekerjaan dan standar sukses yang tidak terkejar

Awal merantau ke Jakarta, Sholeh bekerja sebagai pedagang pakaian di Tanah Abang. Karena bisnis tersebut tidak berjalan lancar, akhirnya Sholeh dan istri banting setir jualan makanan. 

Semenjak diluncurkannya ojek online (ojol), Sholeh kemudian bekerja sebagai driver ojol. Pekerjaan yang masih dia jalani sampai sekarang. 

“Seperti yang kamu baca di berita-berita. Mana ada kesejahteraan bagi driver ojol? Nggak ada. Cuma, cari kerja kan susah. Menjadi driver jadi satu-satunya pilihan untuk tetap bisa hidupi keluarga,” ungkap Sholeh. 

Iklan

Karena gambaran betapa struggle Sholeh dan anak-istrinya di Jakarta, tak pelak jika kemudian keluar kalimat-kalimat tidak menyenangkan dari tetangga di desa, bahkan saudara pun ikut-ikutan, misalnya: 

“Lah iya, bertahun-tahun di Surabaya hasilnya juga gitu-gitu aja. Malah hidup susah, nggak punya rumah (karena ngontrak). Mbok sudah pulang saja tinggal di desa.”

Tak pernah ingin tinggal di desa meski selalu menyempatkan pulang

Sholeh tentu saja tersinggung dengan merasa tersakiti. Apalagi, setiap pulang, keluarganya (Sholeh dan anak-istri) kerap dibanding-bandingkan dengan saudara yang sama-sama merantau tapi jauh lebih sukses: punya mobil dan sudah beli rumah di perantauan. 

Karena itu lah Sholeh tidak punya keinginan sama sekali untuk tinggal di desa. Istrinya pun akan menolak keras jika tiba-tiba Sholeh mengajak mereka pindah ke desa. 

“Kalau istri saya, lebih ke tidak kuat dengan kemungkinan hidup yang saling mencampuri urusan satu sama lain. Urusan kita, tapi orang lain (saudara atau tetangga) ikut campur,” kata Sholeh.

“Istri juga tidak siap dengan model hidup seperti itu: dibanding-bandingkan, diinjak-injak hanya karena tidak bisa memenuhi standar sukses perantau ala desa,” imbuhnya. Masa perkara mudik pakai motor saja bisa ke mana-mana. 

Selain itu, bagi Sholeh pribadi yang lahir dan tumbuh di desa, kehidupan di desa bukannya lebih baik dari kota. Hidup di desa tidak lantas membuat ekonomi Sholeh aman. Pertama, mau kerja apa selain bertani yang hasilnya tidak menentu? Kedua, dalam situasi cari pekerjaan yang tak pasti itu, hidup di desa tetap menuntut biaya operasional besar melalui “pajak sosial” (dalam bentuk acara-acara berkedok tradisi yang dipaksakan). 

“Aku sampai sekarang masih pulang ke kampung halaman karena di desa masih ada bapak, masih hidup. Ya buat ketemu bapak. Beliau juga bisa ketemu cucunya,” ucap Sholeh. 

Mudik naik motor: bakal diwajari, tapi…. (ada tapinya)

Hingga saat ini, saya masih kerap mudik ke desa saya di Rembang menggunakan motor. Apa yang dirasakan Sholeh juga saya rasakan. 

Saya seorang sarjana. Merantau di kota besar seperti Surabaya (sebelum akhirnya ke Jogja). Tapi orang desa nyaris tidak menunjukkan tanda-tanda sukses dari saya. Di mata mereka, saya terlihat menyedihkan karena tidak tampak sebagai orang berduit.

Alih-alih punya rumah sendiri, saya masih tinggal satu atap dengan orang tua. Jangankan mobil, motor saja saya tak pernah tampak bisa membeli yang baru.

Sejak 2016 saya bertahan dengan satu motor (Honda Vario 150) yang kini sudah tampak compang-camping. Wajar saja jika orang desa menganggap saya sebagai salah satu kategori perantau gagal: merantau ke kota bertahun-tahun, tapi tidak ada wujud barang berharga yang bisa ditunjukkan.

Beda soal kalau: oke, mudik ke desa memang pakai motor, tapi karuan motor keluaran terbaru yang harganya mahal. Kalau begitu, masih bakal dimasukkan dalam kategori perantau sukses lah. 

Kalau saya sih tak begitu peduli. Karena sejak nyantri saya dilatih tidak terikat materi. Kalau memiliki materi harus berdasarkan pada fungsi dan kebutuhan. Kalau kebutuhan mobilitas saya sudah cukup dengan fungsi Honda Vario 150 rompal saya, ya untuk apa terpancing untuk membeli baru demi dianggap sukses?

Berikutnya: oke, mudik ke desa pakai motor butut. Tak masalah. Masih akan dianggap sukses jika tampak “berduit”. Artinya, loyal dan lhas lhos saat bagi-bagi THR ke saudara. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2026 oleh

Tags: Desajakartamerantaumerantau ke jakartamerantau ke kotaMudikmudik ke desamudik pakai motorperantaustandar suksesstandar sukses desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.