Bagi perantau, apalagi yang merantau di kota besar seperti Jakarta, mudik ke desa naik motor adalah simbol kegagalan. Pasalnya, desa punya standar dan ekspektasi sukses yang sulit dikejar.
***
Setiap lebaran, Sholeh (45) sudah pasti akan mudik dari Jakarta ke desanya di Rembang, Jawa Tengah. Dan memang hanya itu momen Sholeh bisa pulang ke desa. Di luar Ramadan, Sholeh akan fokus bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari anak dan istri.
Mudik ke desa naik motor, melelahkan tapi hanya itu yang bisa diupayakan
Sedari masa lajang hingga berkeluarga dan hidup di Jakarta, Sholeh memang selalu mudik ke desa naik motor. Menyusuri pantura yang panjang dan padat dengan kendaraan roda dua tentu saja melelahkan. Akan tetapi, hanya itu yang bisa Sholeh upayakan.
Pertama, naik motor membuat pengeluaran untuk transportasi jauh lebih hemat. Sebab, jika digunakan untuk membeli tiket bus pergi-pulang Jakarta-Rembang, akan habis jauh lebih besar.
“Dulu pas zaman lajang sendiri, pas beristri ya sama istri. Malah seru di jalan. Melewati banyak daerah dengan ragam ciri khas. Kalau capek berhenti di masjid atau pom bensin buat rebahan. Itu seru, walaupun capek sekali,” ucap Sholeh.
Ketika sang anak masih kecil pun, Sholeh dan istri tetap nekat mudik ke desa pakai motor: anak dijepit di tengah. Seiring anak tumbuh besar, baru lah Sholeh membagi dua model perjalanan: istri dan anaknya akan naik bus, sementara Sholeh tetap naik motor.
Jelas dihina saudara dan tetangga, dianggap gagal di perantauan
Bertahun-tahun merantau di Jakarta dan hanya pulang setahun sekali, lantas dikira banyak masyarakat desa: Sholeh sudah mengantongi uang banyak. Sudah sukses di perantauan.
Karena memang begitu lah anggapan orang desa terhadap para perantau. Kalau sudah merantau lama, dikira punya uang banyak dan kaya. Jika sudah kaya, maka harus menunjukkan standar-standar perantau sukses ala masyarakat desa Sholeh.
“Standar sukses di desa itu kan kamu harus bisa bangun rumah besar, punya aset tanah, dan kalau kendaraan ya bisa beli mobil,” ucap Sholeh.
Memang, di desa Sholeh di Rembang, perantau yang pulang-pulang bisa langsung beli mobil itu akan sangat dielu-elukan.
Baca halaman selanjutnya…
Harga diri diinjak-injak, kecuali…. (ada kecualinya)














