“Sebanyak apapun teman sekampung kita di Jakarta, kalau kehabisan uang, atau amit-amit jatuh sakit ujung-ujungnya bakalan sadar kalau kita itu cuma sendirian.”
Kalimat itu meluncur dari mulut Adnan (28), saat membagikan ceritanya, Minggu (2/8/2026). Baginya, pembuktian bahwa ia benar-benar sendirian di Jakarta justru terjadi saat ia jatuh sakit.
Bulan lalu, badannya ambruk karena demam. Ia terbaring lemas di kamar kosnya. Dari ratusan kontak WhatsApp tak satu pun yang ia hubungi. Ketimbang merepotkan orang yang punya kesibukannya masing-masing, Adnan memilih memesan obat dan makanan lewat aplikasi ojek online.
Pemuda asal Jawa Tengah ini sama sekali tidak sedang mendramatisir nasib. Sepuluh tahun merantau telah mengajarinya realitas hidup di ibu kota.
Lulus SMA langsung merantau ke Sumatra hingga Jakarta
Perjalanannya Adnan dimulai tepat setelah lulus SMA, sepuluh tahun lalu. Berbekal nekat, ia mencicipi kerasnya tanah Sumatra selama kurang lebih setahun.
“Ikut saudara, coba-coba jaga toko di sana,” kata dia.
Tak menemukan apa yang dicari, ia menantang beringasnya Jakarta selama lebih dari lima tahun. Fase kelelahan mental yang akut sempat membuatnya menyerah. Adnan pernah mengemasi barangnya dan pulang ke desa, berharap menemukan kembali kewarasan dan ketenangan batin.
Namun, realitas kampung halaman tak seindah bayangan. Kedamaian tak bisa ditukar dengan gaji. Minimnya lapangan kerja memaksanya menelan ludah sendiri, membunuh gengsi di hadapan tetangga yang mencibir, lalu kembali lagi ke Jakarta.
“Selama sepuluh tahun itu saya sudah tiga kali ganti tempat kerja. Dulu saya pikir, makin sering ganti lingkungan, makin banyak teman-teman baru. Ternyata saya salah besar. Ujung-ujungnya, di kota orang, kita ini nggak punya siapa-siapa, Mas,” ceritanya.
Omong kosong solidaritas teman sekampung halaman
Dulu, saat awal-awal menginjakkan kaki di perantauan, Adnan punya pemikiran yang sangat naif. Ia mengira keberadaan “orang sekampung”–tetangga desa yang sama-sama merantau ke kota–akan bikin dia merasa nyaman.
Logikanya, sesama orang daerah pasti akan saling menjaga di tanah rantau.
Realitasnya malah jauh panggang dari api. Bagi Adnan, solidaritas kedaerahan di kota besar sering kali hanyalah ilusi.
Adnan merasakan sendiri bagaimana kedekatan di kampung halaman justru disalahgunakan saat berada di perantauan. Di kota, orang bisa berubah wujud menjadi siapa saja, termasuk menjadi benalu.
Ia teringat kejadian tahun lalu, saat seorang teman sekampungnya tiba-tiba mengetuk pintu kosnya malam-malam. Sambil menangis sesenggukan, teman itu meminjam uang dengan dalih untuk membayar uang pinjaman orang tuanya di desa.
Merasa iba dan mengingat keakraban keluarga mereka di desa, Adnan memberikan sebagian besar sisa gajinya yang sebenarnya sudah mepet.
“Tapi apa balasannya? Sebulan kemudian dia menghilang tanpa jejak. Nomor WhatsApp diblokir,” ujarnya.
Belakangan ia tahu dari kawan yang lain, uang pinjaman itu ternyata dipakai untuk judi online. Sejak saat itu, Adnan sadar, kawan akrab di desa bisa menjadi lawan yang paling tega saat terhimpit kerasnya biaya hidup Jakarta.
Kepedulian bisa saja terbentur kerasnya Jakarta
Tentu saja, tidak semua orang sekampung berubah menjadi benalu. Adnan masih memiliki beberapa teman rantau yang sifatnya tetap baik dan peduli. Namun, di kota yang ritmenya secepat Jakarta, niat baik saja tidak pernah cukup. Kepedulian sering kali terbentur oleh penderitaan masing-masing.
Adnan menceritakan sebuah momen ketika motor tuanya turun mesin, tepat di tanggal tua. Ia berniat menelepon teman satu desanya yang juga merantau di daerah yang berdekatan.
Namun, Adnan teringat cerita temannya minggu lalu. Temannya itu sedang stres berat karena terancam PHK. Bagaimana mungkin ia tega menambah beban pikiran temannya itu untuk urusan motor.
Ia menyadari bahwa di Jakarta, semua orang sedang bertarung mati-matian dengan masalahnya sendiri. Barangkali ada yang benar-benar peduli pada nasib kita, tapi mereka tidak bisa hadir dan membantu karena tenaga dan mental mereka sudah habis dikuras oleh kesulitan mereka sendiri.
Haram mengabarkan berita buruk ke orang rumah
Di titik terendahnya, insting seorang anak adalah mencari perlindungan kepada orang tuanya. Adnan pun demikian. Dalam kondisi terburuknya, ingin rasanya jemarinya itu mengetik pesan panjang di WhatsApp ibunya.
Ia ingin sambat. Ia ingin bercerita betapa lelah badannya, betapa hancur perasaannya, dan betapa ia ingin menyerah lalu pulang saja.
Namun, semua itu ia abaikan karena ada sebuah pantangan tak tertulis yang selama ini ia percaya.
“Haram hukumnya membiarkan orang di rumah tahu kalau hidup kita sedang hancur di perantauan,” ujarnya.
Baginya, membebani pikiran orang tua yang sudah renta di desa dengan masalah di Jakarta adalah sebuah dosa besar yang pantang dilakukan oleh Adnan.
Sebagai bentuk “pelarian”, Adnan membangun dunianya sendiri di media sosial. Di kota yang kejam ini, saat orang-orang di dunia nyata terlalu sibuk dan lelah dengan urusannya sendiri, dunia maya menjadi satu-satunya tempat persembunyian yang aman.
Bagi Adnan, teman maya–orang-orang asing yang tak pernah ia temui wajahnya–terkadang terasa lebih dekat dan mengerti dibanding tetangga di kamar kos sebelahnya.
“Jadi perantau maksa kita buat berlindung di balik layar aja,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
