KA Ambarawa Ekspres menjadi saksi militansi dan “kegilaan” seorang Bonek asal Grobogan, Jawa Tengah. Bertahun-tahun kereta api kelas ekonomi tersebut merekam perjalanannya dari Grobogan ke Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya.
Jatuh cinta pada Persebaya Surabaya dan menjadi Bonek, padahal lebih dekat dengan PSIS Semarang
Bonek itu bernama Setyawan. Cintanya pada Persebaya Surabaya memang terkesan “aneh”. Ia asli Grobogan. Secara geografis lebih dekat dengan klub PSIS di Semarang ketimbang Persebaya.
Namun, atmosfer pertandingan Persebaya yang selalu dipenuhi Bonek membuatnya justru jatuh cinta pada klub berjuluk “Bajul Ijo”.

Itu bermula ketiak ia menyaksikan pertandingan Persebaya yang masih di bawah asuhan pelatih kharismatik, Jackson F. Tiago. Gaya main, karakter tim, hingga atmosfer tribun membuat hatinya jatuh hati pada klub kebanggaan Kota Pahlawan.
“Sebenarnya yang dekat itu PSIS. Tapi entah kenapa saya jatuh cinta sama Persebaya sejak 2004. Waktu ada Zhen Cheng (kiper asal Tiongkok) dan dilatih Coach Jackson. Dari situ mulai mengikuti terus,” kenang Setyawan dalam cerita yang ia tuturkan kepada media official Persebaya Surabaya.
Berjam-jam di KA Ambarawa Ekspres Grobogan – Pasarturi demi berdiri di tribun GBT
Cinta Setyawan terhadap Persebaya terus membesar seiring waktu. Jika rindu untuk nribun di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) sudah tidak terbendung, maka tanpa pikir panjang ia akan langsung menuju stasiun kereta api di Grobogan, memesan tiket untuk perjalanan ke Stasiun Pasarturi Surabaya.
Memang Setyawan harus menempuh perjalanan berjam-jam dengan KA Ambarawa Ekspres tersebut. Tentu tidak sedekat perjalanan ke Semarang (jika seandainya ia mendukung PSIS).

Tapi Setyawan menikmatinya. Nonton langsung pertandingan Persebaya, berdiri di tribun Stadion GBT, memberi sensasi menggairahkan baginya.
Terkadang Setyawan berangkat sendiri. Duduk diam di kursi kereta api ekonomi tersebut, memandangi rel yang terus bergerak dengan jantung berdegup kencang karena tak sabar ingin ikut bersorak-sorai bersama Bonek lain di tribun.
“Kadang saya nonton sendiri. Kadang ajak teman-teman, bisa sampai enam orang. Biar capeknya terasa ringan,” ujar Setyawan.
KA Ambarawa Ekspres: saksi wasit futsal relakan Rp1 juta untuk ziarah ke rumah kedua
Setyawan masih merupakan Bonek hingga saat ini. Meski sudah berumah tangga, militansinya untuk nribun mendukung Persebaya secara langsung di Stadion GBT tidak pernah surut. Meski dalam alam sekali perjalanan, Setyawan yang kini berprofesi sebagai seorang wasit futsal, harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk ukurannya.
Untuk satu kali perjalanan pulang-pergi (Grobogan – Surabaya), ia harus merogoh kocek Rp1 jutaan. Itu untuk tiket kereta api ekonomi KA Ambarawa Ekspres, konsumsi, sewa motor, hingga tiket pertandingan.

Rincian biaya yang Setyawan keluarkan dalam sekali perjalanan:
- Tiket berangkat kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres Grobogan – Stasiun Pasarturi: Rp70 ribu
- Tiket pulang KA Ambarawa Ekspres Stasiun Pasarturi – Grobogan: Rp70 ribo (Artinya untuk pergi pulang: Rp140 ribu).
- Sewa motor di Surabaya: Rp150 ribu
- Penginapan: Rp200 ribu
- Tiket superfans bawah: Rp300 ribu
- Makan dan lain-lain: Rp150 ribu
“Total Rp940 ribu, sejutaan. Di tribun kalau bertemu Bonek lainnya diarani “arek guwendeng” (orang gila),” ujar Setyawan.
“Atmosfernya (Stadion GBT) itu, lho. Di Surabaya suporternya rame, apalagi kalau stadion penuh. Rasanya beda banget,” ungkapnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Stadion GBT Surabaya “Pisahkan” Bonek dari Persebaya, Gemuruh Tribun Tak Bisa Dinikmati Lagi karena Tak Tersentuh Seperti Dulu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














