Bagi warga Surabaya, Danau Universitas Negeri Surabaya (UNESA) adalah tempat paling cocok untuk melamun. Di salah satu spot kota terbesar setelah Jakarta itu, beragam pekerja bisa merenungi nasibnya: beban kerja yang tak setara UMK Surabaya.
Derita underpaid worker Surabaya di bawah tekanan BUMC
Danau UNESA berada di kawasan Kelurahan Lidah Wetan, Surabaya Barat. Letaknya yang strategis bikin danau seluas 300 meter persegi itu selalu ramai pengunjung. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang datang sendiri.
Salah satunya Eka yang sering mengunjungi Danau UNESA selepas bekerja. Terlebih saat sore, sekitar pukul 17.00 WIB ke atas. Hari di mana semuanya terasa melelahkan setelah menyelesaikan tugas-tugas dari kantor dan menghadapi atasan atau rekan kerja.
Eka adalah pegawai di salah satu agensi BUMC alias Badan Usaha Milik (orang) China. Sistem kerjanya terbagi menjadi 3 shift atau 10 jam bekerja dalam sehari. Namun, gajinya sama sekali tak menyentuh angka UMK Surabaya.
“Shift pertamaku dari jam 9 pagi sampai jam 7 malam. Shift kedua dari jam 12 siang sampai jam 10 malam. Shift ketiga dari jam 11 siang sampai jam 9 malam. Dan gajiku Rp2,3 juta,” kata Eka, Selasa (24/2/2026).
Tiap weekend maupun tanggal merah, Eka tetap masuk seperti biasa. Meski pekerjaannya tak mengharuskan Eka ke kantor, tetap saja badannya terasa remuk. Di sela-sela pekerjaannya itu, Eka tetap menyempatkan diri untuk melamun di Danau UNESA.
Kebiasaan melamun orang Surabaya di pinggir Danau UNESA
Sebetulnya, kata Eka, tampilan Danau UNESA biasa saja tapi pemandangan langit senjanya tak pernah mengecewakan kecuali saat mendung di Surabaya. Warna jingga dari langit sore yang memantul di permukaan danau juga bikin hatinya lega dan membantunya untuk melamun.
“Aku bisa berdialektika dengan diriku sendiri. Aku bisa mengurai masalahku satu persatu. Dari proses dan hasil berpikirku tadi, aku bisa bangkit,” ucapnya.
Melansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, melamun dapat mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan kreativitas, hingga membantu seseorang memecahkan masalah. Berbagai penelitian juga menyebut, melamun cocok dilakukan di ruang terbuka, hijau, dan menenangkan.
Eka sendiri memilih Danau UNESA sebagai spot favoritnya selain duduk di kursi Indomaret, karena keindahan alam Danau UNESA. Di sana, dia bisa melihat cahaya gedung yang menyala menjelang malam. Lalu mengamati kegiatan orang-orang di sekitar sehingga membuatnya berpikir bahwa dia tidak sendiri.
Sebagai pegawai formal, Eka masih merasa beruntung meski terasa pahit. Sebab, masih banyak pekerja informal di Surabaya yang posisinya tidak diuntungkan. Mulai dari kontrak jangka pendek, rentan PHK, gaji lebih rendah, tanpa jaminan sosial, bahkan sering overwork tapi underpaid. Data BPJS Jawa Timur menunjukkan pekerja informal ini lebih banyak dibandingkan pekerja sektor formal yang hanya 38,3 persen.
“Pelengkap” saat melamun di pinggir Danau UNESA
Potret pekerja informal juga bisa dilihat di sekitar area Danau UNESA. Yang mana, puluhan warga sekitar juga menggantungkan hidup dengan berjualan di sana. Mulai dari makanan, minuman, sampai pakaian.
“Di beberapa stan itu memang kita harus bayar parkir, karena tiap rombong sudah ada penjaga parkirnya, tapi ada juga yang nggak minta,” ujar Eka.
Harga makanan di sana pun murah meriah. Eka biasa membeli ceker pedas yang sempat viral di TikTok. Ia mengaku mendapat rekomendasi tersebut dari influencer yang pernah mengulas soal kuliner di Danau UNESA.
Sebab jujur saja, meski banyak pedagang, menu yang ditawarkan kurang lebih sama. Misalnya saja jenis ceker yang mempunyai harga beragam.
Namun, Eka tak soal. Dia sudah punya menu ceker favorit untuk dimakan sambil melamun di pinggir Danau UNESA. Selain ceker, beberapa orang juga biasanya membeli kopi untuk diminum sambil menikmati senja di pinggiran Danau UNESA.
Melamun secukupnya, kerja jangan disia-siakan
Melihat keramaian pedagang dan pembeli di sekitar Danau UNESA membuat hati Eka lega.
“Ternyata banyak juga warga Surabaya yang berjuang dan bertahan untuk hidup,” ucapnya.
Sebab, apa mau dikata. Mendapatkan pekerjaan in this economy tidaklah mudah, setidaknya bagi Eka yang tinggal di Surabaya. Sebelum mendapat pekerjaan seperti sekarang, Eka mengaku sempat bekerja di sebuah lembaga sosial.
Tak jauh berbeda dengan kondisinya sekarang, gajinya juga belum setara UMK Surabaya. Pada akhirnya, Eka hanya bisa menerima rezekinya saat ini tanpa banyak mengeluh.
Agar kondisi mentalnya tetap sehat, dia pun memilih menghabiskan waktunya selama berjam-jam hanya untuk duduk dan melamun di pinggir Danau UNESA.
Kegiatan ini pun sudah dilakukannya sejak menjadi mahasiswa akhir. Hari di mana ia stres karena skripsi, kelimpungan mencari kerja, dan merasa tertinggal saat melihat karier teman-temannya begitu cemerlang.
Untungnya dengan melamun di Danau UNESA, Eka bisa menenangkan pikiran. Sebab, di tengah keheningan tersebut, ia bisa meng-charge energinya untuk menjalani hari esok.
“Kadang-kadang aku batasi sampai pukul 21.00 WIB biar sampai rumah nggak kemalaman dan besoknya nggak makin capek,” ucapnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Danau UNESA Memang Biasa Aja tapi Jadi Wisata Mewah bagi Orang Melarat Surabaya, Saingan dengan Tongkrongan Crazy Rich atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













