Deky menolak kesempatan bekerja di Amerika Serikat serikat demi mengabdi ke tanah kelahirannya di Papua. Ia ingin memajukkan pendidikan di wilayah yang selama ini dinomorduakan tersebut.
***
Bayangkan, kamu baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Arizona State University (ASU), salah satu kampus ternama di Amerika Serikat. Di depan mata, tawaran karier sebagai pengajar di Negeri Paman Sam sudah menanti dengan segala fasilitas digital yang serba canggih dan kenyamanan hidup yang terjamin.
Namun, di tengah gemerlap itu, ingatan Anda justru melayang jauh ke sebuah distrik terpencil di Kabupaten Puncak, Papua.
Itulah gejolak yang dihadapi oleh Medelky Anouw. Pria yang akrab disapa Deky ini adalah seorang putra asli Papua yang berhasil menaklukkan kerasnya pendidikan internasional.
Namun, alih-alih menetap dan mengejar kemapanan di luar negeri, Deky memilih jalan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap “mundur”. Ia memilih pulang ke kampung halaman di pelosok Papua.
Perjuangan dari Beoga ke Arizona
Lahir dan besar di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, perjalanan pendidikan Deky tidaklah bertabur kemudahan. Ia tumbuh di daerah yang secara geografis sangat menantang.
Kehilangan sosok ayah saat masih menempuh studi S1 sempat menjadi pukulan berat baginya. Namun, duka itu tidak membuatnya berhenti. Dengan dukungan keluarga, ia terus melangkah.
Ambisi Deky untuk memperbaiki kualitas pendidikan di tanah kelahirannya membawanya mengejar beasiswa LPDP. Jalan menuju Amerika pun tidak instan. Deky harus jatuh bangun mengejar skor IELTS sebagai syarat bahasa Inggris.
Selama sembilan bulan ia bergelut dengan buku dan latihan soal, menolak untuk menyerah meski berkali-kali gagal mencapai target.
“Yang paling penting adalah saya tidak menyerah,” kenangnya singkat. Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil; ia diterima di jurusan Kimia, Arizona State University.
Kontras teknologi di Amerika dan Papua
Selama di Amerika, Deky melihat bagaimana teknologi dan fasilitas pendidikan bisa membuat proses belajar menjadi begitu mudah.
Namun, setiap kali ia melihat kemajuan itu, ia teringat pada sekolah-sekolah di pelosok Papua yang bahkan untuk mendapatkan buku teks saja sulit.
Ia menyadari bahwa jika semua orang pintar dari Papua memilih tinggal di luar negeri atau di kota besar, lalu siapa yang akan membenahi pendidikan di sana?

Kesadaran inilah yang menguatkan tekadnya untuk menolak tawaran mengajar di AS. Ia ingin membawa ilmu yang ia dapatkan untuk menyentuh langsung anak-anak di tanah kelahirannya.
Menyederhanakan sains dengan kearifan lokal Papua
Kini, Deky menjabat sebagai Plt Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan di Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire. Namun, jangan bayangkan Deky hanya duduk manis di balik meja kantor yang nyaman. Sebagai seorang mantan guru kimia, jiwanya tetaplah seorang pendidik.
Deky punya cara unik dalam mengajar sains. Ia percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terasa asing bagi anak-anak Papua. Baginya, sains harus diajarkan dengan bahasa sehari-hari dan menyentuh realitas hidup mereka.
“Kami langsung tunjukkan penjumlahan lewat hal-hal yang biasa mereka lihat. Misalnya ubi, wortel, atau benda-benda lain di lingkungan mereka sebagai alat peraga,” cerita Deky.
Dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar, anak-anak tidak lagi menganggap kimia atau matematika sebagai momok yang menakutkan, melainkan bagian dari hidup mereka sendiri.
Memastikan bantuan pendidikan sampai di tangan yang tepat
Tugasnya di Dinas Pendidikan Nabire juga membawanya kembali ke medan-medan sulit. Untuk memastikan bantuan pendidikan dan beasiswa sampai ke tangan yang tepat, Deky seringkali harus terbang menggunakan pesawat perintis kecil, menembus cuaca yang tidak menentu dan mendarat di lapangan rumput di tengah pegunungan.
Ia turun langsung ke lapangan bukan sekadar untuk formalitas. Deky ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisi guru dan murid di sekolah-sekolah terjauh.
Ia ingin memastikan bahwa dana pendidikan yang dikelolanya tidak hanya habis di atas kertas, tapi benar-benar berubah menjadi fasilitas yang layak bagi anak-anak Papua.
Baginya, transparansi dan pemerataan akses adalah kunci. Ia tidak ingin ada anak berbakat yang kehilangan kesempatan sekolah hanya karena mereka tinggal di daerah konflik atau wilayah yang sulit dijangkau.
Percaya anak-anak Papua juga punya potensi
Kisah Medelky Anouw adalah pengingat bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari keputusan sederhana untuk “pulang”. Deky menunjukkan bahwa gelar tinggi dari luar negeri bukanlah sekadar aksesori untuk meningkatkan status sosial, melainkan alat untuk memberikan dampak yang lebih besar.
Di tengah segala keterbatasan fasilitas dan tantangan keamanan di beberapa wilayah Papua, Deky tetap optimis. Ia percaya bahwa anak-anak Papua memiliki potensi yang sama besarnya dengan anak-anak di Amerika, asalkan mereka diberi kesempatan dan bimbingan yang tepat.
Langkah kecil Deky di Nabire mungkin belum mengubah wajah pendidikan nasional secara instan. Namun, bagi anak-anak di pelosok yang kini bisa melihat guru mereka membawa ubi sebagai alat peraga sains, atau bagi mereka yang mendapatkan akses sekolah berkat dana yang tersalurkan dengan benar, kehadiran Deky adalah secercah cahaya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Upaya Petani di Papua Kembangkan Bisnis Parfum Kelas Dunia, hingga Dilirik Brand Ternama seperti Chanel dan Hermes atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














