Hanya punya satu kaki, menjadi kurir JNE, hingga kuliah di sebuah kampus swasta di Surabaya secara gratis (melalui beasiswa) berkat bakat sepak bola. Ia juga menjadi salah satu pemain andalan Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia. Begitu lah kehidupan penuh kegigihan dalam mengejar mimpi dari Sirilus Siko (24).
Hanya punya satu kaki, tapi akrab dengan lapangan sejak kecil
Rilus—sapaan akrabnya—lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi disabilitas pada kaki kanan telah ia hadapi sejak kecil.
Meski begitu, Rilus justru amat menggemari sepak bola. Sejak usia lima tahun ia sudah akrab dengan lapangan. Di sana ia bahkan bermain dengan teman-temannya yang non-disabilitas.
“Mereka mungkin melihat saya kasihan, tapi dari diri saya sendiri tidak ada rasa takut. Saya main bola pakai tongkat,” ungkap Rilus, Sabtu (13/12/25), dalam wawancara bersama kampus swasta tempatnya kini kuliah: Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA).
Ia tak mau kondisinya tersebut menjadi penghalang untuk mengejar apa yang ia inginkan. Oleh karena itu, selepas lulus SMA di Ende, Rilus mulai aktif mencari informasi tentang sepak bola amputasi melalui media sosial. Dari sana ia mengetahui keberadaan komunitas sepak bola amputasi di Surabaya.
Jalan terbuka usai hijrah ke Surabaya
Kecintaan Rilus dengan sepak bola sudah amat mandarah daging. Ia merasa sepak bola—melalui sepak bola amputasi—adalah jalan hidup yang harus ia ambil. Maka, tanpa ragu sedikit pun, Rilus memutuskan hijrah ke Kota Pahlawan.
Saat itu komunitas sepak bola amputasi Surabaya belum memiliki sekretariat tetap. Tapi Rilus yakin bahwa melalui komunitas tersebutnya, kegemarannya dengan sepak bola bisa membawanya meraih impian.
Setiba di Surabaya, Rilus disambut dengan hangat oleh para pengurus komunitas sepak bola amputasi. Ia kemudian mulai mengikuti latihan secara rutin dan mengerahkan kemampuan terbaiknya.

Usahanya berbuah manis. Rilus berhasil lolos seleksi dan dipercaya memperkuat Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia dalam ajang Artalive Challenge Cup 2023 di Malaysia.
Turnamen tersebut menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Indonesia keluar sebagai juara. Dalam turnamen itu pun Rilus turut menyumbangkan satu gol meski bermain di posisi winger yang menuntut fisik kuat dan mobilitas tinggi.
Menjadi kurir JNE di Surabaya untuk hidup mandiri
Sepulang dari Malaysia, Rilus kembali ke Surabaya.
Di tengah hiruk-pikuk Kota Pahlawan dan jauh dari keluarga, Rilus berusaha hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai kurir pengiriman di JNE.
Syukurnya, pihak perusahaan tidak mempermasalahkan kondisi disabilitas Rilus. Justru memberi dukungan kepadanya.
Dalam kesehariannya menjadi kurir JNE, Rilus menggunakan motor modifikasi khusus disabilitas kaki untuk mengantar barang.
Di samping kesibukan menjadi kurir JNE, Rilus masih tetap fokus latihan sepak bola. Sebab, masih ada target-target lain yang harus ia kejar di ajang sepak bola amputasi.
“Sekarang saya fokus bersama tim nasional amputasi yang akan berlaga di Kejuaraan Sepak Bola Amputasi Asia 2025 di Bangladesh. Mohon doa dan dukungannya,” katanya.
Dapat beassiwa di kampus swasta berkat bakat dan prestasi di sepak bola amputasi
Prestasi di dunia olahraga juga membuka pintu baru bagi Rilus di bidang pendidikan. Ia menerima beasiswa atlet secara penuh dari UMSURA, salah satu kampus swasta di Surabaya. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UMSURA semester lima.
Beasiswa tersebut ia terima sebagai bentuk apresiasi atas pencapaiannya: Melawan keterbatasan dengan bakat yang ia miliki.
Tentu saja Rilus antusias dan tak mau menyia-nyiakan beasiswa kuliah tersebut. Sebab, bagi Rilus, kuliah bukan sekadar mengejar gelar akademik, tetapi juga investasi masa depan.
Atas kesempatan kuliah dengan beasiswa itu, Rilus mantap memilih jurusan hukum. Pasalnya, Rilus berharap kelak ia dapat ikut memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas agar lebih diperhatikan dalam kebijakan dan perlindungan hukum.
Di lingkungan kampus, Rilus pun dikenal sebagai mahasiswa yang tekun, rendah hati, dan inspiratif. Ia mampu membagi waktu antara kuliah, latihan bersama tim nasional, dan pekerjaannya sebagai kurir JNE. Semangatnya menjadi teladan bagi banyak orang, terutama mahasiswa lain.
Menatap hari-hari depan
Perjalanan hidup Rilus yang menginspirasi membuat namanya masuk dalam nominasi Santini JMTV Awards 2025. Yakni sebuah ajang apresiasi bagi atlet, pelatih, pegiat, hingga pelaku industri olahraga di Indonesia.
Santini JMTV Awards tahun ini menghadirkan 21 kategori, termasuk kategori paralimpik, sebagai bentuk pengakuan terhadap perjuangan dan prestasi insan olahraga dari berbagai cabang. Nama Rilus menjadi salah satu yang mencuri perhatian lewat kiprahnya di sepak bola amputasi.
Masih banyak hal yang hendak Rilus kejar di hari-hari depan. Banyak prestasi tak membuatnya lantas lekas berpuas diri. Terutama di sepak bola amputasi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jalan Tak Terduga Atlet Para-Badminton: Berhasil Mengharumkan Nama Negara Setelah Kehilangan Satu Kaki di Usia Remaja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














