Kucing, hewan berbulu lembut ini punya tingkah lucu dan asbun (ajaib) untuk menghibur manusia. Setidaknya, begitu menurut Bimo (30) yang 2 tahun ini sudah merawat 12 kucing. Laki-laki asal Surabaya ini juga membuka “Cat Therapy” di Jalan Tunjungan untuk pemilik hewan peliharaan yang punya trauma setelah kucingnya tiada.
***
Bagi Bimo, kucing bukan sekadar hewan peliharaan tapi anggota keluarga yang memberikan cinta tanpa pamrih. Sejak kecil, Bimo mengaku ingin sekali merawat sekaligus memelihara kucing, tapi ia sadar kondisi keuangannya belum stabil. Jangankan untuk memelihara kucing, untuk menghidupi dirinya sendiri pun masih sulit.
Kini, Bimo sudah bekerja di salah satu perusahaan media yang ada di Surabaya, serta menyewa kontrakan sendiri meski keluarganya juga tinggal di Kota Pahlawan. Alasannya nekat keluar dari rumah ialah, agar bisa memelihara ke-12 kucing miliknya.
“Dari kecil aku suka hewan berbulu dan akhirnya sekarang bisa adopsi karena sudah punya penghasilan. Namun, karena mamaku takut kucing, aku sampai diusir dari rumah,” kata Bimo saat ditemui Mojok di Jalan Tunjungan pada Sabtu (21/3/2026).
Merawat kucing adalah bagian dari tanggung jawab
Kucing pertama yang membuat Bimo kepincut untuk memelihara adalah kucing milik temannya. Waktu itu, niat Bimo hanya sekadar silaturahmi ke rumah temannya saat malam takbiran Idul Adha di tahun 2023. Di sanalah dia melihat sebuah kurungan berisi banyak kucing yang masih kecil.
“Aku lihat ada 5 ekor kucing. Di antaranya ada yang paling kecil dan sekilas terlihat jeleklah pokoknya dari kucing yang lain,” kata Bimo.

Alih-alih memilih kucing yang perawakannya sudah bagus, Bimo justru tertarik dengan kucing jelek tersebut. Ia bertekad untuk merawat kucing itu setulus hati lalu meminta izin temannya untuk mengadopsi. Tak perlu pikir panjang bagi temannya untuk memberikan kucing tersebut ke Bimo, karena ia sendiri sebetulnya sudah kewalahan merawat belasan kucing.
“Akhirnya kucing itu aku kasih nama Bibi. Kucing pertamaku yang sekarang gendut dan cantik,” ujar Bimo yang kini bangga memamerkan kucing-kucingnya di Jalan Tunjungan, Surabaya.
Tanpa Bimo prediksi sebelumnya, keputusan untuk memelihara kucing bikin dia jauh dari keluarga. Ketika Bimo membawa Bibi pulang ke rumah, orang tua dan saudara-saudaranya kaget. Bimo pun tak terhindar dari kritik tapi ia tak peduli.
“Toh, sekarang aku udah mandiri. Aku udah mantap ambil jalur itu. Seandainya saja nama Bibi bisa dimasukkan di Kartu Keluarga,” kelakarnya.
Pulih berkat “cat therapy” di Jalan Tunjungan
Kehadiran Bibi, kata Bimo, berhasil menghapus perasaan kesepiannya saat di rumah. Bibi lah yang menemani dirinya saat sakit bahkan sering tidur di leher Bimo untuk menunjukkan perhatiannya. Kucing yang punya sifat manja itu juga setia menunggu Bimo pulang usai bekerja.
“Di hari-hari yang melelahkan, aku merasa punya rumah yang nyaman. Karena tiap aku pulang, pemandangan pertama yang kulihat adalah bibi duduk di atas pagar dan seolah menyambutku,” kata Bimo.
Di waktu luang, Bimo sering mengajak Bibi keluar rumah agar tidak stres. Salah satunya di Jalan Tunjungan Surabaya. Tanpa ia sangka, banyak yang menyukai kehadiran Bibi di sana. Beberapa di antaranya bahkan cerita kalau mereka suka kucing tapi lingkungannya tak mendukung.
Lebih dari itu, kata Bimo, rasanya dunia tak mendukung ikatan kucing dan manusia. Salah satunya berangkat dari pengalaman Bimo yang tak diizinkan memelihara kucing oleh ibunya hingga ia memutuskan jalan hidupnya sendiri.

Sebagian pemilik hewan peliharaan juga bercerita, melihat Bibi tumbuh sehat dan bermain di Jalan Tunjungan Surabaya, mengingatkan mereka pada kucingnya yang telah tiada. Seandainya kucing kesayangannya itu masih hidup, mereka ingin membawa kucingnya jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama seperti Bimo.
Tampik eksploitasi pada kucing di Jalan Tunjungan
Cerita itulah yang bikin Bimo mencetuskan ide untuk membuka cat therapy di Jalan Tunjungan. Selain Bibi, Bimo juga membawa ketiga kucing lainnya—anak Bibi untuk mejeng di trotoar Jalan Tunjungan. Mereka tak perlu tampil muluk-muluk seperti atraksi topeng monyet, tapi cukup duduk diam sembari mengenakan baju yang dibuat khusus untuk kucing.
“Pengunjung cukup bayar Rp5 ribu untuk kasih makan dan bisa foto bareng juga, intinya uang itu kembali ke kucing bukan untuk pribadi,” kata Bimo.
Meski begitu, ada saja yang mengira Bimo mengeksploitasi kucing-kucingnya. Bahkan ada yang memfitnah kalau ia memberikan kucing-kucingnya obat tidur agar tenang di tengah keramaian. Padahal, kata Bimo, ia mempelajari sendiri sifat-sifat kucing, sekaligus mendidiknya agar punya ikatan emosional terutama kepada pemiliknya.
“Aku sendiri butuh waktu yang lama untuk bonding dengan Bibi. Mangkanya, asal ada aku, Bibi dan anak-anaknya pasti tenang karena merasa aman,” jelas Bimo.
Cerita di balik “Cat Therapy” Jalan Tunjungan
Sebagai pecinta kucing, Bimo mengaku tak sampai hati untuk “menyiksa” hewan lucu dan berbulu tersebut. Sejatinya, ia pun paham rasanya kehilangan hewan peliharaan yang sudah dianggap seperti keluarga.
“Dulu, aku punya 3 ekor kucing yang baru lahir tapi semuanya meninggal. Terus 2 kucingku selainnya juga pernah diracun orang dan 1 lagi meninggal karena virus panleukopenia. Mangkanya sekarang aku selalu manifestasi Bibi, Momo, dan kucing-kucingku yang lain agar bertahan hidup sampai meninggal karena umur,” tutur Bimo.
“Karena aku tahu rasanya patah hati setelah kucing yang kita sayangi meninggal,” lanjutnya.
Selain untuk mengobati rindu para pemilik kucing yang kehilangan hewan peliharaannya, Bimo juga berniat mengedukasi warga di Jalan Tunjungan Surabaya. Bahwa dunia ini tidak terpusat hanya pada kepentingan manusia.
“Aku harap banyak orang yang aware terhadap kehadiran kucing, termasuk kucing liar. Selain memberi makan, ada baiknya untuk mengecek kondisi kesehatannya,” kata Bimo.
“Aku harap nggak ada lagi orang yang menendang kucing hanya karena mereka meminta makan,” lanjutnya yang biasa mangkal bersama kucing-kucingnya di Jalan Tunjungan pada Jumat sampai Minggu mulai pukul 16.00 WIB hingga 23.00 WIB.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














