Hujan bulan Juni yang turun pada Sabtu 13 Juni 2026 mendatangkan kabar baik sekaligus kabar sedih bagi Samadi, penjual es krim asal Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.
***
Mendung menggantung pekat di langit Yogyakarta, Sabtu, 13 Juni 2026. Selepas tengah hari, hujan deras mengguyur Pertigaan Gejayan. Bagi seorang penjual es krim keliling, cuaca seperti ini biasanya menjadi sinyal buruk: dagangan sepi dan modal tak kembali.
Namun, siang itu takdir berkata lain bagi Samadi (52). Di tengah guyuran hujan bulan Juni yang anomali, ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil justru memberinya berkah.
Massa aksi yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, buruh, hingga pengemudi ojek online memenuhi jalanan. Di bawah lampu lalu lintas sisi barat, di sudut riuhnya teriakan tuntutan, gerobak kecil bertuliskan “Panglima Ice Cream Jogjakarta” milik Samadi dikerumuni pembeli.
Ada sedikit rasa sesal yang terselip di wajah Samadi. Dagangannya memang habis, tetapi hari itu ia tidak membuat es krim dalam jumlah banyak.
“Saya baru tahu tadi siang, Mas. Diberitahu teman kalau di pertigaan Gejayan ada demo,” kata Samadi.
Es krim itu ia racik sendiri di rumah kontrakannya di Kampung Gowok, Depok, Sleman. Prosesnya tak bisa instan.
Samadi sudah terjaga pukul 03.00 pagi untuk mulai memproduksi adonan es. Menjelang pukul 09.00 pagi, barulah es mulai memadat, dan pukul 11.00 siang ia siap mendorong gerobaknya membelah jalanan kota.
Tentu saja, ia tak bisa mendadak pulang untuk menambah porsi dagangan ketika tahu massa aksi membeludak.

Hujan bulan Juni, es krim, dan demonstrasi yang Samadi tunggu
Bagi pria asli Trucuk, Klaten ini, kata “demonstrasi” bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan jaminan rezeki. Ia jujur mengaku setiap ada demonstrasi, ia tak mengerti apa tema besar yang diteriakkan oleh para orator di atas mobil komando.
Ia tidak tahu mengenai 10 Maklumat Aliansi Rakyat Memanggil yang dibawa aliansi hari itu. Baginya, di mana ada kerumunan demonstrasi, di situ ada harapan dagangannya habis terjual.
“Asal jangan rusuh saja, sudah pasti laris,” katanya.
Lanskap politik dan demonstrasi bukan hal baru bagi Samadi. Ia adalah saksi hidup yang melintasi berbagai riuh zaman. Sejak tahun 1990-an, ia sudah mengadu nasib dengan mendorong gerobak es dari kota ke kota, bahkan lintas pulau.
“Dulu itu satu es harganya masih Rp50 rupiah,” katanya.
Saat gelombang Reformasi 1998 memuncak, Samadi sedang berada di pulau Sulawesi, menjajakan es di tengah situasi negara yang bergejolak. Baru pada tahun 2016, ia memutuskan datang kembali ke Yogyakarta dan menetap jualan di sekitar kampus UIN Sunan Kalijaga hingga sekarang.
Hujan bulan Juni memang anomali, begitu juga dengan dagangan Samidi. Meski cuaca tak panas karena sudah sore dan selepas hujan, tapi Samadi sampai kewalahan melayani pembeli.
Di tengah kesibukannya yang cekatan melayani pembeli, ada pemandangan yang menyentuh saya. Di kotak tempat ia meletakan cone, gelas, plastik, ada sebungkus besar roti tawar tampak basah terkena tampias air hujan. Ketika beberapa pembeli meminta es krimnya disajikan dengan roti, Samadi menolaknya dengan halus.
“Tadi basah kena air hujan, rotinya jadi lembek. Kalau masnya mau ambil, silakan, gratis. Tapi saya ingatkan ini kena hujan,” katanya jujur. Ia tak ingin mencari untung dengan mengorbankan kualitas untuk pembelinya.

Ironi lembaran rupiah penjual es krim dan harga-harga yang bikin ngelu
Sedikit demi sedikit, massa aksi meninggalkan lokasi. Sambil berdiri, lembar demi lembar uang rupiah Samadi tata. Ia menghitung pendapatannya hari itu.
“Mungkin dapat sekitar 500 ribu, Mas. Tapi bawa esnya kan sedikit, cuma setengah dari biasanya,” ujarnya tersenyum.
Di balik senyum itu, Samadi tak menampik adanya impitan ekonomi yang kian mencekik sekaligus membuat sedih. Pendapatan kotornya mungkin terlihat besar, tetapi harga bahan baku es krim belakangan ini melonjak tak karuan.
Es batu yang biasanya dihargai Rp10.000 bisa dapat 12 kantong, kini dikurangi menjadi 10 kantong saja. Gelas plastik yang dulunya Rp7.000 kini melompat jadi Rp10.000 per lusin. Belum lagi harga kelapa untuk membuat santan, gula pasir, dan susu yang makin menguras kantong.
Anehnya, di tengah impitan modal tersebut, Samadi tidak memanfaatkan situasi (aji mumpung). Ketika demonstran mengantre, ia justru menurunkan harga es krimnya.
Jika biasanya ia menjual dengan harga Rp6.000 hingga Rp7.000, hari itu ia mematok rata Rp5.000 saja. Padahal bisa saja, di tengah ramainya permintaan, ia tetap menjualnya dengan harga normal, atau bahkan menaikan.
“Saya sudah untung, Mas, lagian es krimnya sudah mencair,” jawabnya singkat saat ditanya mengapa tidak menaikkan harga di tengah pasar yang membutuhkannya.
Ketika ditanya lebih dalam mengenai beban hidup dan naiknya harga-harga barang, termasuk BBM nonsubsidi Samadi hanya melempar tawa getir. Ia memang berjalan kaki mendorong gerobak saat jualan, tak memakai motor yang membutuhkan bensin, tapi ia sadar kenaikan harga BBM akan membuat harga lain akan naik.
“Ora tak rasak-rasake banget, Mas. Wis ngelu! (Tidak terlalu saya pikirkan, Mas. Sudah bikin pusing!)” selorohnya dalam bahasa Jawa.
Bukan karena ia mati rasa atau kaya raya, melainkan karena ia takut jatuh sakit jika terlalu memikirkannya. Bagi bapak tiga anak dan satu cucu ini, kesehatan adalah aset tunggalnya untuk bertahan hidup demi menghidupi keluarga di kampung.

Berkah demonstrasi untuk Samadi dan keluarganya
Tak hanya Samadi yang ketiban rezeki. Pedagang bakwan malang di seberang jalan juga mendadak sumringah karena seluruh dagangannya diborong habis oleh komunitas Humanity Care yang menggalang dana kilat lewat media sosial Threads.
“Ayo sayang, ini air mineral, gratis! Ini donasi, ya! Bukan duit negara!” teriak para relawan kepada peserta aksi. Menurut Denis (28), salah satu relawan, aksi ini didorong aksi serupa saat aksi demonstrasi di Jakarta.
Relawan di Yogyakarta kemudian melakukan hal sama, dan di luar dugaan banyak pihak yang berkontribusi setelah pihaknya membuat utas di Threads.
**
Magrib hampir tiba. Barisan massa perlahan membubarkan diri dengan tertib, tapi sebagian di antaranya masih bertahan di lokasi. Samadi mulai merapikan gerobaknya, bersiap membelah sisa-sisa kerumunan menuju tempat kontrakan.
Seperti bait penutup dalam sajak legendaris Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono yang berbicara tentang ketabahan dan rindu yang disembunyikan, Samadi pun demikian. Ada rindu yang ingin segera ia tuntaskan.
Dalam dua atau tiga hari ke depan, ia akan pulang ke Trucuk, Klaten. Menemui istrinya, Ida Royahti (52), serta tiga anak dan cucunya. Kemudian bercerita tentang bagaimana hujan di bulan Juni, riuh aksi tuntutan rakyat, bisa menyambung napas dapur mereka.
Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA ‘Bunyikan Klakson Kalau Kalian Resah sama Pemerintah’ – Massa Aksi di Gejayan Soroti Harga BBM hingga Pelemahan Rupiah dan tulisan menarik lainnya di Liputan.














