Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Kisah Mbah Benu Pilih DO dari Kedokteran UGM Jogja, Tak Mau Jadi Dokter karena Takut ‘Berurusan’ dengan Orang Sakit dan Orang Meninggal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 April 2024
A A
DO dari Kedokteran UGM Jogja karena Takut Jadi Dokter Musyrik MOJOK.CO

Ilustrasi - DO dari Kedokteran UGM, Jogja karena takut jadi dokter musyrik. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Padahal tinggal selangkah lagi menjadi dokter, tapi sosok satu ini justru memilih droup out (DO) dari Kedokteran UGM, Jogja. Setelah merenung, ia menyimpulkan bahwa dokter adalah profesi yang sangat dekat dengan kemusyrikan. Selain itu, ia juga takut “berurusan” dengan orang sakit dan orang meninggal.

Alhasil, sosok ini memilih menepi ke Gunungkidul, Jogja. Tak hanya menepi. Sosok ini kemudian membentuk jemaah yang hari ini menjadi jemaah kontroversial. Inilah kisah Mbah Benu, sosok sepuh pimpinan Jemaah Aolia yang pernyataannya membuat riuh media sosial.

***

“Saya tidak pakai perhitungan, saya telepon langsung kepada Allah Taala, Ya Allah kemarin tanggal 4 malam 4. Ya Allah ini sudah 29, 1 Syawal kapan? Allah Taala ngendika, tanggal 5 Jumat,” ujar Mbah Benu selaku pimpinan Jemaah Aolia di Jogja tak lama setelah menetapkan hari raya Idul Fitri jatuh pada Jumat, (5/4/2024). Lebih cepat lima hari dari Pemerintah yang kemungkinan akan menetapkan pada Rabu, (10/4/2024) atau Kamis, (11/4/2024).

Pernyataan tersebut sontak memicu netizen untuk melayangkan serangan verbal pada Mbah Benu dan Jemaah Aolia. Khususnya terkait pernyataan Mbah Benu yang mengaku menelepon Allah secara langsung.

Meskipun sudah beredar video klarifikasi dari Mbah Benu yang menjelaskan kalau pernyataan tersebut hanya perumpamaan, tapi bully-an dan kecaman masih belum mereda. Setidaknya hingga tulisan ini tayang.

https://twitter.com/Titipan_Mafia/status/1776550239547412694

Di antara riuh komentar negatif di media sosial, saya menemukan satu komentar yang tidak segan membela Mbah Benu.

“Kalo menurut saya kata kata itu cuma sebagai kiasan aja, bukan dalam artian langsung. Beliau tiyang sepuh yang jemaahnya juga banyak yang sudah sepuh. Jadi sepertinya pemilihan kata tersebut tujuannya untuk mempermudah jemaahnya memahami maksud beliau bahwa besok sudah diadakan salat Id,” ungkap Raras (26) melalui akun X-nya.

Mbah Benu tak ajarkan ajaran menyimpang

Usut punya usut, Raras ternyata adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Jogja yang pernah beberapa kali mengikuti pengajian Mbah Benu selaku pimpinan Jemaah Aolia. Momen itu terjadi saat ia menjalani masa KKN pada 2019 silam.

Raras memang tidak menjalani KKN di Panggang, lokasi masjid Jemaah Aolia di bawah pimpinan Mbah Benu langsung berada. Raras KKN di Dusun Sumur, Giripurwo, Purwosari.

“Lokasi dusun saya itu paling utara, jadi berbatasan langsung dengan Masjid Aolia. Kebetulan juga di dusun saya ada masjid milik Mbah Benu, namanya Masjid Aolia Sumur,” terang Raras saat saya hubungi, Minggu, (7/4/2024).

“Jadi semua ajaran dan keputusan-keputusan seperti Ramadan dan Idul Fitri itu ngikut semua dawuhnya Mbah Benu,” sambungnya.

Selama KKN di Sumur tersebut, Raras mengaku beberapa kali mengikut pengajian Mbah Benu di Masjid Aolia Sumur, Jogja. Dan dari pengalamannya selama dua bulan KKN di Sumur, ia menyimpulkan kalau secara syariat (dari tata cara salat dan lain-lain), tidak ada yang menyimpang dari ajaran Mbah Benu.

Iklan

Mbah Benu dan Jemaah Aolia di Jogja memang sering berbeda dalam penentuan Ramadan dan Syawal. Tapi kata Raras, tak jarang pula ada kesamaan dengan umat Islam pada umumnya di Indonesia. Seperti misalnya saat momen KKN itu, di mana penetapan Idul Adha Mbah Benu sama dengan ketetapan Pemerintah.

“Masyarakat di sekitar lokasi yang berbeda aliran (Muhammdaiyah dll) pun sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan kalau ada perbedaan pendapat. Karena tidak saling mengganggu. Itu yang saya rasakan selama di sana dua bulan,” beber Raras.

Sayangnya, pengetahuan Raras tentang sosok Mbah Benu terbatas. Hanya saja, riwayat Mbah Benu sendiri ternyata sudah pernah ditulis dalam tesis berjudul “Dekonstruksi Mitos Kanjeng Ratu Kidul dalam Pendidikan Akidah Perspektif KH Raden Ibnu Hajar Shaleh Pranolo 1942-Sekarang (2017)” milik Mohammad Ulyan, mahasiswa Magister PAI IAIN Purwokerto (sakarang UIN SAIZU).

DO dari Kedokteran UGM Jogja karena takut musyrik

Mbah Benu atau yang bernama asli Raden Ibnu Hajar Shaleh Pranolo lahir di Pekalongan, 28 Desember 1942. Kemudian ia tumbuh dan besar di Solotiang, Maron, Purworejo, Jawa Tengah.

Jauh sebelum ke Kedokteran UGM, Jogja, di samping mengenyam pendidikan formal Mbah Benu juga menimba ilmu agama kepada ayahnya sendiri, Kiai Sholeh bin KH. Adul Ghani bin Kiai Yunus.

“Ayahnya merupakan lulusan berbagai pesantren besar di Jawa dan Madura seperti Krapyak, Termas, Lirboyo, Madura. Bahkan merupakan salah satu muridnya Mbah Kholil Bangkalan, Madura,” tulis Ulyan.

Setelah lulus SMA, Mbah Benu pun berangkat ke Jogja untuk melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Tepatnya di Fakultas Kedokteran. Akan tetapi, di semester akhir masa kuliahnya di Kedokteran UGM tersebut, Mbah Benu malah memilih DO.

“Dia tidak mau memakan uangnya orang sakit, orang menderita dan orang meninggal. Selain itu juga karena dia menganggap bahwa ilmu Kedokteran merupakan ilmu yang dapat menimbulkan kemusyrikan,” beber Ulyan.

Mendekati kemusyrikan karena dua potensi. Pertama, seorang dokter berpotensi merasa bisa menyembuhkan orang lain lewat ilmu atau keahliannya. Padahal sejatinya yang menyembuhkan adalah Allah Swt. Kedua, pasien berpotensi musyrik lantaran menggantungkan kesehatan/kesembuhannya pada dokter, bukan kepada Allah Swt.

DO dari Kedokteran UGM dan bentuk jemaah kontroversial

Setelah resmi DO dari Kedokteran UGM, Mbah Benu kemudian pindah ke Panggang, Gunungkidul pada 27 Juli 1972. Awalnya ia hanya bermaksud mengikuti calon istrinya yang saat itu bertugas sebagai bidan di Gunungkidul, Jogja.

Lambat laut, singkat cerita, Mbah Benu dan masyarakat Panggang membangun masjid pada 1984 di atas sebuah tanah wakaf. Masjid yang kemudian lebih dikenal dengan nama Masjid Aolia.

Di masjid ini pulalah kemudian mantan mahasiswa Kedokteran UGM, Jogja tersebut melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan bersama masyarakat setempat.

Dalam keterangan Ulyan, di mata orang setempat, Mbah Benu adalah sosok multidimensional. Sehingga, tak heran jika Mbah Benu kerap memiliki keputusan di luar nalar. Seperti misalnya keputusan menetapkan hari raya Idul Fitri 1445 H/2024 M lima hari lebih cepat dari umat Islam Indonesia pada umumnya.

Keputusan yang konon merupakan hasil dari perjalanan spiritual atau komunikasi batin antara Mbah Benu dengan Allah Swt. Keputusan yang saat ini menuai kecaman dari banyak pihak. Tak hanya netizen yang ramai-ramai membully di media sosial, PBNU hingga MUI pun sampai ikut menganggap Mbah Benu dan Jemaah Aolia sebagai kelompok yang harus diluruskan.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Perantau Wonogiri di Jogja Bela-Belain 3 Tahun Tak Mudik Demi Nonton Bioskop di Hari H Lebaran, Tak Pedulikan Ratapan Ibu yang Rindu Ingin Bertemu

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

Terakhir diperbarui pada 8 April 2024 oleh

Tags: Jemaah AoliaJogjaKedokteran UGMMasjid AoliaMbah Benupilihan redaksiprofil mbah benuUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO
Urban

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Nyaris dicurigai kumpul kebo di penginapan Jogja saat Valentine. MOJOK.CO
Lipsus

Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo

14 Februari 2026
Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co
Pojokan

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

14 Februari 2026
Mahashivaratri, festival tahunan yang dirayakan umat Hindu untuk menghormati Dewa Siwa di Candi Prambanan. MOJOK.CO
Kilas

Hari Suci Terpenting Umat Hindu, Mahashivaratri Perdana Digelar di Candi Prambanan dengan 1008 Dipa Menyala

14 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Luncurkan Program ‘Setu Sinau’ di Malioboro, Wisatawan Kini Bisa Belajar Budaya Sambil Jalan-Jalan

12 Februari 2026
Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa MOJOK.CO

Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa

12 Februari 2026
3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

11 Februari 2026
Open To Work.MOJOK.co

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026
Sinefil.MOJOK.co

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.