Saya harus membuat satu pengakuan di awal tulisan ini: saya adalah seorang pecandu horor!
Saya selalu menjadi orang pertama yang bersemangat menyambut film horor terbaru di bioskop, atau memasang telinga rapat-rapat saat ada kawan tongkrongan yang bercerita dengan suara bergetar karena mengaku baru saja diganggu dedemit.
Namun, ironisnya, saya juga seorang skeptis. Saya tidak pernah benar-benar percaya pada hal-hal berbau klenik.
Bagi saya, hantu, pesugihan, atau kutukan hanyalah hiburan murni. Ia cuma eskapisme yang sukses memompa adrenalin tanpa harus sungguhan membahayakan nyawa. Kengerian itu selalu terasa seru, asalkan ia tetap berada di dalam layar kaca, atau sebatas dongeng pengantar tidur.
Suasana mendung yang menyelimuti kos saya di kawasan Sleman, Senin (6/4/2026) lalu, seolah mendukung hobi aneh saya tersebut. Hujan baru saja reda, menyisakan hawa lembap yang lumayan lengket di kulit dan aroma tanah basah yang pekat.
Sore menjelang malam yang muram ini adalah momen yang terlalu sempurna untuk dibiarkan lewat tanpa asupan berbau horor. Namun, alih-alih menonton film, sore itu saya memilih ritual yang sedikit berbeda.
Saya memutuskan untuk mengurung diri dan memutar penuh Kesurupan (2016), album terbaru dari unit horor bawah tanah Jakarta, Kelelawar Malam, yang baru saja dilepas ke pasaran pada penghujung Maret 2026 kemarin.
Saya menekan tombol putar dengan ekspektasi nostalgia yang sangat biasa. Mengingat rekam jejak mereka sebelumnya, saya sudah bersiap menyambut rombongan lirik tentang zombi, darah, dan kord punk tiga jurus ala Misfits yang rutin bikin kita keringatan berjamaah di moshpit. Sesuatu yang seram, tapi tetap fiktif dan bisa ditertawakan.
Namun, begitu lagu pertama mengalun, yang merayap keluar dari speaker justru raungan gitar distorsi yang kotor, pelan, dan luar biasa berat. Temponya mencekik, seolah saya sedang ditarik paksa ke dasar liang kubur.
Di titik itulah, ego skeptis saya seakan tertampar. Kelelawar Malam rupanya tidak lagi mendongeng soal hantu-hantu lucu. Lewat album ini, mereka sedang menyajikan kengerian yang jauh lebih nyata dan menyesakkan daripada cerita dedemit mana pun.
View this post on Instagram
Membawa horor lokal ke next level
Bagi yang belum terlalu mengikuti, nama Kelelawar Malam sebenarnya sudah jadi legenda tersendiri di kancah musik keras Indonesia. Menariknya, band ini dulu lahir dari niat yang sangat sederhana dan bisa dibilang kurang kerjaan. Ya, mereka awalnya cuma mau jadi band tribute atau band yang khusus membawakan lagu-lagu grup horror punk legendaris asal Amerika, Misfits.
Namun, seperti yang pernah diceritakan sang vokalis, Sayiba, dalam sebuah podcast, mereka dulu merasa cara main Kelelawar Malam kurang rapi dan nggak terlalu cocok membawakan lagu orang. Dari rasa tidak cocok itulah, mereka akhirnya nekat bikin lagu sendiri.
Siapa sangka, keputusan itu justru menjadi fondasi kuat yang membangun karakter asli mereka. Mereka tidak lagi jadi pengekor Misfits. Mereka berhasil menciptakan identitas horor lokal yang sangat kuat.
Kelelawar Malam paham betul bahwa horor luar negeri itu kurang punya “gigitan” di Indonesia. Daripada nyanyi soal Frankenstein atau drakula yang minum darah di kastil Eropa, mereka lebih memilih mengangkat cerita tentang pocong, kuntilanak, dan pesona mistis ala film-film Suzanna. Mereka membawakan teror khas malam Jumat Kliwon.
Totalitas mereka bukan cuma di lagu. Di atas panggung, para personelnya memakai nama-nama seram seperti Sayiba Von Mencekam (Fahri Almaut), Desta Bringas, dan sang drummer, Apin Kiamat.
Nama Apin Kiamat ini bukan sekadar gaya-gayaan. Julukan itu diberikan karena kelakuan si drummer yang sering kelewat barbar saat manggung, seakan besok sudah mau kiamat. Dia bahkan pernah dengan santainya memakan bunga melati mentah-mentah di depan penonton saat sedang pentas.
Aksi panggung mereka juga tidak main-main. Kalau “bayarannya cocok”, mereka rela repot berkolaborasi dengan grup teater tradisional Miss Tjitjih. Properti panggung dibuat niat banget: mulai dari meledakkan replika kuburan di atas panggung, sampai menerbangkan sosok kuntilanak pakai tali sling.
Kalau kita mau membandingkan dengan band luar negeri, konsep ini sering mengingatkan saya pada band rock asal Swedia, Ghost. Tapi ada bedanya yang sangat kentara.
Ghost itu ibarat pentas teater mahal yang menyindir institusi agama besar dengan musik yang sangat mulus nan rapi. Kalau Kelelawar Malam, mereka adalah layar tancap di balai desa yang penuh bau kemenyan. Mereka memotret klenik akar rumput.
Di saat Ghost terasa seperti pertunjukan fiksi yang berjarak dari penonton, teatrikal Kelelawar Malam terasa seperti teror lokal yang bernapas tepat di tengkuk leher kita sendiri.
Band seram tapi takut demit
Meskipun di atas panggung mereka terlihat seperti sekumpulan pemuja setan atau dukun sakti, ada satu ironi lucu yang membuat saya sangat menyukai band ini. Di balik aksi panggung yang kadang seram itu, kalau dihadapkan pada hal gaib sungguhan mereka ternyata penakut juga kok.
Sayiba pernah bercerita soal kejadian aneh saat mereka sedang memproses album ini. Suatu malam, ketika ia dan rekannya sedang serius melakukan mixing lagu di sebuah studio, tiba-tiba terdengar suara gaib berteriak persis di sebelah kuping mereka.
Bukannya bersikap biasa saja, mereka berdua malah ketakutan, saling tatap, dan langsung lari terbirit-birit keluar studio.
Rentetan apes yang berhubungan dengan hal gaib juga pernah terjadi saat mereka manggung di Bandung. Seperti biasa, band ini membakar kemenyan dan melempar bunga untuk membangun suasana horor. Kebetulan malam itu mereka berkolaborasi dengan seniman musik daerah.
Gara-gara asap kemenyan itu, tiba-tiba sebuah alat musik gong milik sang seniman bergerak dan berjalan sendiri tanpa ada yang memukul. Sang seniman daerah langsung marah besar kepada anak-anak Kelelawar Malam karena dianggap main-main dengan membakar kemenyan sembarangan dan mengundang makhluk halus.
Kumpulan kejadian ini menunjukkan sisi manusiawi mereka. Kelelawar Malam bukanlah band elitis yang sok sakti. Mereka pada dasarnya hanya sekumpulan kawan yang suka bersenang-senang dengan bikin film horor kelas B, tapi malah “kualat” karena didatangi hantu sungguhan.
Ironi inilah yang membuat saya sadar: Kelelawar Malam tahu betul bahwa klenik sejati terlalu mengerikan untuk diundang beneran. Mungkin karena alasan itu pulalah, di album Kesurupan ini, mereka mulai memutar kemudi.
Alih-alih cuma menantang hantu, mereka memilih melawan iblis yang jauh lebih masuk akal dan nyata di kehidupan sehari-hari: keserakahan manusia dan sistem dunia yang bobrok.
Album horor yang “menolak bersih”
Secara musik, album yang direkam selama rentang waktu 2024 hingga 2025 di Gloom Studio dan Syaelendra Studio ini punya kualitas suara yang unik. Hasil mixing dan mastering dari Ecky Banbaroesa patut diacungi jempol.
Di era 2026 ini, di mana hampir semua musik terdengar sangat bersih, dipoles secara digital, dan kadang terdengar mirip satu sama lain, Kesurupan justru menolak untuk tampil “bersih”.
Suara album ini kotor, tapi “terukur”. Riff gitarnya tebal, dibiarkan mentah, dan diselimuti nuansa lo-fi (sebutan untuk suara yang sengaja dibuat agak kuno atau tidak jernih).
Jika harus mencari padanannya, kualitas suara mereka mirip dengan band asal Inggris, Uncle Acid & the Deadbeats, atau Danzig di era awal. Keduanya sama-sama punya prinsip untuk merekam musik agar terdengar seperti soundtrack film horor tahun 80-an.
Kelelawar Malam menjaga “kotoran” itu karena memang itulah roh utama mereka. Dibungkus dengan desain sampul album garapan Deta Beringas yang suram, delapan lagu dalam album ini terasa seperti paket teror yang pas.
Nomor-nomor seperti “Misteri”, “Cahaya”, dan “Budak Kelelawar” membuktikan bahwa mereka semakin jago meracik nada yang gampang nempel di kepala meski suasananya gelap.
Menyalurkan rasa terhadap dunia lewat musik
Jantung utama dari album Kesurupan sebenarnya terletak pada lirik dan tema yang dibawakan. Seperti yang saya singgung sebelumnya, kengerian di album ini bukan lagi sekadar soal mayat hidup.
Lagu jagoan mereka, “Harut Marut”, adalah contoh terbaik dari perubahan ini. Mengambil kisah tentang malaikat yang diutus untuk menguji manusia lewat sihir, lagu ini dibungkus dengan gaya musik rock lawas era akhir 60-an. Liriknya bukan lagi cerita seram murahan, tetapi kritikan soal janji-janji manis palsu dan penyesatan masyarakat.
Banyak keresahan ini datang dari isi kepala Sayiba sendiri, yang uniknya ternyata sangat gandrung dengan isu konspirasi global dan mitos urban lokal.
Dalam sebah podcast, Sayiba pernah bicara panjang lebar soal fenomena “tumbal proyek”. Dia secara blak-blakan mengaku sangat percaya bahwa praktik menumbalkan nyawa manusia demi kelancaran proyek masih sering terjadi hari ini. Keyakinan ini dia dapat dari cerita teman-temannya yang kerja sebagai kontraktor bangunan.
Membayangkan ada nyawa manusia yang dikorbankan demi pembangunan beton pencakar langit adalah bentuk horor kapitalis yang jauh lebih mengerikan daripada cerita kuntilanak mana pun.
Selain tumbal proyek, Sayiba juga percaya soal fenomena bengkel “ketok magic”. Konon, syarat di bengkel semacam itu adalah harus ada pakaian dalam wanita di sana, dan pembeli dilarang melihat proses pengerjaannya. Sayiba mengaku pernah bawa mobilnya yang penyok ke bengkel seperti itu, melihat langsung ada pakaian dalam yang digantung, dan ajaibnya mobilnya kembali mulus seperti disihir.
Paranoia Sayiba bahkan meluas sampai ke soal alien, UFO, dan bagaimana tatanan dunia ini diatur oleh kelompok elite rahasia. Dalam podcast itu, obrolan mereka sempat menyinggung lagu “The Great Cull” dari band asal Inggris, Killing Joke.
Band itu punya vokalis bernama Jaz Coleman yang dulu sering dianggap gila karena menulis lirik soal wabah penyakit global dan distribusi vaksin bertahun-tahun sebelum pandemi Covid-19 benar-benar terjadi. Lirik lagu yang dulu dianggap lelucon konspirasi itu, pelan-pelan malah jadi kenyataan.
Ada benang merah yang sangat kuat antara obsesi Jaz Coleman dan Sayiba di album ini. Keduanya sama-sama musisi yang menyalurkan rasa curiga mereka terhadap dunia lewat musik.
Jika Coleman meramalkan masa depan dunia yang suram lewat musik yang dingin, Sayiba menggunakan musik yang bising dan horor lokal untuk membedah borok kehidupan di sekitar kita.
Lewat album ini, Kelelawar Malam seakan ingin bilang: kita terlalu sibuk takut pada hantu di pohon beringin, sampai kita lupa takut pada hal yang lebih bahaya, yaitu sistem dunia yang diatur untuk bikin kita menderita.
Horor sebagai alat bercerita
Pada akhirnya, Kesurupan adalah bukti bahwa Kelelawar Malam sudah lulus dari sekadar band yang mengandalkan dandanan seram. Mereka telah berevolusi menjadi pengamat sosial yang kritis, yang menggunakan horor sebagai alat untuk bercerita.
Mereka menolak mati ditelan tren musik yang itu-itu saja, dan berani mengambil arah yang lebih berat dan lebih lambat secara musik.
Album ini mungkin tidak ramah untuk didengarkan saat sedang bersantai di kafe yang terang benderang. Tapi kalau kamu butuh pelarian, butuh sesuatu yang mentah, jujur, dan berani bicara soal kebusukan manusia, Kesurupan adalah jawabannya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Saya Percaya, Album “Kalatidha” Down for Life adalah Soundtrack Terbaik untuk Kehidupan yang Buruk atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














