Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 Agustus 2026
A A
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tindak pencopetan di tengah keramaian konser musik bukan sekadar masalah kriminalitas individu. Ia adalah imbas dari persoalan ketimpangan yang jauh lebih mendalam. Sutradara Operasi Pesta Copet (2026), Edy Khemod, menyebut bahwa para pelaku kejahatan kecil di jalanan sejatinya adalah produk dari kebijakan publik yang tidak berpihak pada rakyat miskin.

Menurutnya, ketidakmampuan negara dalam menyediakan lapangan kerja yang layak, ditambah janji-janji kesejahteraan yang terus menguap menjadi omong kosong, membuat kelompok marjinal kehilangan pilihan untuk bertahan hidup. Mereka terus tersingkirkan oleh sistem yang bias hingga akhirnya mengambil jalan pintas.

Iklan

“Perilaku mencopet secara hukum dan moral jelas salah, itu tidak bisa dibenarkan,” ujarnya kepada Mojok, saat menghadiri acara “Media Gathering: Operasi Pesta Copet – Yogyakarta”, Selasa (25/8/2026).

“Namun, dalam konteks sosial yang lebih luas, mereka yang turun ke jalan menjadi copet sejatinya adalah korban dari sistem yang rusak. Selama negara tidak bisa menyelesaikan masalah dasar kesejahteraan, orang-orang seperti ini akan terus ada,” imbuhnya.

Copet budaya Indonesia?

Khemod melontarkan kritik yang lebih tajam dengan menyebut bahwa perilaku mencopet telah bertransformasi menjadi semacam cermin realitas politik di Indonesia. 

Menurutnya, ada rasa frustrasi dan muak yang mendalam dari masyarakat kelas bawah ketika menyaksikan para pemangku kebijakan menilap uang rakyat tanpa konsekuensi hukum yang setimpal.

“Ketika orang kecil muak melihat penguasa menilap uang rakyat, timbul pemikiran bahwa jika pejabat saja bisa mengambil yang bukan haknya, mengapa rakyat kecil tidak bisa melakukan hal serupa?” tegas penggebuk drum Seringai ini.

Baginya, ini bentuk sindiran pahit atas realitas kita saat ini. Kalimat “nyopet itu budaya Indonesia”, pada akhirnya, muncul karena hal buruk ini dicontohkan langsung dari atas oleh para pejabat.

Edy Khemod, operasi pesta copet.MOJOK.CO
Menurut Edy Khemod, para pelaku kejahatan kecil di jalanan sejatinya adalah produk dari kebijakan publik yang tidak berpihak pada rakyat miskin. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Kegelisahan atas kemiskinan struktural itulah yang kemudian divisualisasikan melalui film pertamanya. Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang serentak di jaringan bioskop nasional mulai 27 Agustus 2026. 

Alih-alih sekadar menyajikan komedi aksi belaka, sinema karya Imajinari ini dirancang sedari awal sebagai medium kritik sosial yang membenturkan realitas kelas bawah dengan gemerlapnya hiburan kaum urban.

Diproduseri oleh Ernest Prakasa, Dipa Andika, Iqbaal Ramadhan, serta James Erlangga, film ini mengambil latar di tengah keriuhan festival musik tahunan terbesar di Indonesia, Pestapora. 

Alur cerita berpusat pada tokoh Ijal (diperankan oleh Iqbaal Ramadhan) dan kelompok kawan-kawannya. Terdesak oleh impitan ekonomi yang kian menyudutkan, mereka secara nekat merancang skema pencopetan massal dan terorganisir. 

Pengambilan gambar yang dilakukan secara live di tengah ribuan pengunjung acara aslinya memberikan atmosfer riil atas dinamika sosial dan ironi yang terjadi di lapangan.

Tak semua copet aslinya penjahat

Perspektif Khemod tentang kemiskinan struktural diamini secara penuh oleh Iqbaal Ramadhan. Untuk menyelami karakter Ijal secara mendalam, Iqbaal mempelajari psikologi dan latar belakang sosial para pelaku kejahatan jalanan. 

Menurut Iqbaal, menjadi copet tidak langsung bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan trik kecepatan tangan. Keahlian teknis mencopet tidak akan berjalan tanpa adanya dorongan mental yang tebangun secara kuat, dan mental tersebut lahir dari kerasnya desakan ekonomi.

“Nyopet itu nggak cukup punya skill, tapi juga mental. Mental ini yang lahir biasanya karena keadaan, himpitan ekonomi salah satunya,” ujar Iqbaal di kesempatan yang sama.

Operasi Pesta Copet, Iqbaal Ramadhan.MOJOK.CO
Menurut Iqbaal, film Operasi Pesta Copet justru memberikan edukasi secara tidak langsung kepada masyarakat mengenai bagaimana modus operandi pencopetan di keramaian itu bekerja. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Iqbaal menekankan bahwa karakter-karakter pencopet yang ditampilkan dalam film ini pada dasarnya bukanlah sosok penjahat. Mereka memiliki dunia sendiri, impian, dan kehidupan sosial sebagaimana manusia pada umumnya. 

Namun, ketiadaan akses ekonomi membuat mereka terdesak ke sudut yang sangat sempit, di mana mencopet menjadi satu-satunya insting bertahan hidup yang mereka ketahui.

Iklan

“Film ini sama sekali nggak dibikin buat memanusiakan kejahatan, atau mendiskreditkan kerugian yang dialami para korban pencopetan. Operasi Pesta Copet pengen ngajak penonton melihat masalah ini secara lebih jujur. Tentang konsekuensi sosial dari masalah lama yang sering diabaikan, yaitu masalah kesejahteraan,” kata Iqbaal menegaskan.

Ia juga menampik kekhawatiran dari sejumlah pihak bahwa film ini akan menjadi panduan atau menginspirasi penonton untuk meniru aksi kejahatan. Sebaliknya, narasi yang dibangun justru memberikan edukasi secara tidak langsung kepada masyarakat mengenai bagaimana modus operandi pencopetan di keramaian itu bekerja. 

Menurut Iqbaal, dengan membedah cara kerja mereka, pengunjung konser diharapkan dapat lebih waspada, mengetahui celah-celah rawan, dan mampu menjaga barang bawaannya dengan lebih baik.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Imajinari (@imajinari.id)

Kritik sosial dalam kemasan komedi

Meski mengusung isu sosial yang sangat berat dan cenderung sensitif, Operasi Pesta Copet tetap dikemas secara cerdik dalam genre komedi aksi. Tujuannya jelas, agar pesan-pesan tajam tersebut tetap membumi dan mudah dicerna oleh khalayak luas tanpa terasa seperti menceramahi penontonnya. 

Produser Ernest Prakasa menilai bahwa pendekatan komedi merupakan salah satu wahana paling efektif dalam menyampaikan kritik sosial kepada masyarakat luas. Sebagai kreator yang lahir dan tumbuh subur dari industri komedi, Ernest memahami betul bahwa pesan yang bernada menggurui sering kali berisiko dijauhi oleh penonton. 

Oleh karena itu, isu kemiskinan struktural dan kritik terhadap penyelenggaraan negara ini disusupkan secara apik ke dalam adegan-adegan humor serta berbagai situasi absurd yang dialami oleh para tokohnya di tengah padatnya festival musik.

“Melalui komedi, isu yang berat seperti kemiskinan struktural bisa disampaikan tanpa membuat penonton merasa didikte. Makanya, daripada bikin film berat yang justru bikin penonton susah menangkap maksudnya, film komedi malah menjadi solusi,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Agustus 2026 oleh

Tags: Edy KhemodErnest Prakasafenomena copet konserfilm komedi Indonesiafilm Operasi Pesta CopetImajinariiqbaal ramadhankemiskinan strukturalOperasi Pesta Copet
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

When Life Gives You Tangerines. MOJOK.CO

Saat Hidup Memberimu “Jeruk Keprok”, maka Kamu akan Tahan dengan Derita Kemiskinan

9 April 2025
Perayaan Mati Rasa. MOJOK.CO

Memahami Beban Anak Sulung yang Penuh Luka dan Sembuh berkat Kejujuran

17 Februari 2025
cek toko sabelah 2 Mook.co

Angkat Kisah Trauma Perceraian, Ernest Prakasa Rilis Film Cek Toko Sebelah 2

18 Desember 2022
Untuk Ernest Prakasa, dari Pemuda Kabupaten Pecinta Tebak-tebakan MOJOK.CO

Dear Ernest Prakasa: Tebak-tebakan Bukan Materi Pengecut

13 September 2022
ilustrasi Iqbaal Ramadhan video klip Noah Yang Terdalam (Mojok.co/Ega Fanshuri)

Menghitung Jarak Iqbaal Ramadhan Jalan Kaki di Video Klip Noah-Yang Terdalam

21 Desember 2021
ilustrasi Pengakuan untuk Iqbaal Ramadhan: Bal, Kamu Cinta Pertama Anak Indonesia mojok.co coboy junior dilan

Pengakuan untuk Iqbaal Ramadhan: Bal, Kamu Cinta Pertama Anak Indonesia

17 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.