Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

Ilustrasi - Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Di tengah keterbatasan ekonomi, Abdullah Rasyiid Hariyono mengelola beasiswa KIP Kuliah yang ia terima sebagai modal usaha. Hasilnya, ia bisa mandiri finansial. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhannya selama kuliah, tabu juga penopang ekonomi keluarga mengingat posisinya sebagai anak pertama.

Orang tua berpisah, jadi buruh garment sebelum lulus SMA

Situasi Rasyiid, sapaan akrabnya, berubah menjadi serba sulit setelah kedua orang tuanya memutuskan berpisah. Rasyiid dan adik-adiknya yang memilih tinggal bersama sang ibu harus berada dalam ekonomi terbatas.

Sebagai anak pertama dari empat bersaudara asal Sidoarjo itu, Rasyiid merasa memiliki tanggung jawab besar untuk membantu sang ibu menghidupi keluarga.

“Sebagai anak pertama, saya harus ikut memikirkan kondisi keluarga. Saya dan ibu sama-sama berjuang agar adik-adik tetap bisa melanjutkan pendidikan,” ujar Rasyiid Senin (1/6/2026) usai prosesi wisuda di kampusnya, Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA).

Karena kesadaran tersebut, sebelum akhirnya menjadi mahasiswa dengan beasiswa KIP Kuliah, Rasyiid sempat bekerja sebagai buruh produksi borongan di sebuah garment yang memproduksi tas kecantikan.

Pekerjaan itu ia lakukan selama hampir satu tahun. Waktu itu, ia memanfaatkan sistem pembelajaran daring karena dalam situasi pandemi., sehingga bisa disambi bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Meski dalam keterbatasan ekonomi, Rasyiid tetap menghidupkan mimpinya untuk kuliah. Hanya saja, langkahnya untuk menjadi mahasiswa pun tidak serta-merta mulus.

Setelah lulus SMA, ia belum langsung diterima di perguruan tinggi. Kendati demikian, sembari terus bekerja ia tetap mencari-cari informasi mengenai program Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah).

Tekad Rasyiid untuk kuliah pun akhirnya terwujud. Ia diterima sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya sekaligus menjadi penerima Beasiswa KIP Kuliah. Ia mengambil Program Studi Teknik Elektro.

Beasiswa KIP Kuliah jadi modal usaha 

Baginya Rasyiid, Beasiswa KIP Kuliah benar-benar menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya “Beasiswa ini bukan hanya membantu biaya pendidikan, tetapi juga memberikan kepercayaan bahwa saya memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” tuturnya.

Sejak kuliah, Rasyiid memanfaatkan betul uang saku Beasiswa KIP Kuliah secara produktif. Ia menyisihkan bantuan tersebut untuk membeli peralatan usaha secara bertahap.

Di masa-masa awal hendak merintis usaha, ia menyisihkan uang untuk membeli mesin cutting sticker bekas seharga Rp4 juta. Mesin itu menjadi aset pertama yang ia miliki sekaligus saksi perjuangannya sebagai anak pertama yang mengejar mimpi serta upaya menopang ekonomi keluarga.

Creative design dan digital printing. Itu lah usaha yang kemudian Rasyiid rintis dengan modal usaha dari menyisihkan uang saku Beasiswa KIP Kuliah, karena ia melihat peluang besar di sektor ini.

Dengan bekal pengalaman kerja di industri percetakan sebelumnya, Rasyiid melayani kebutuhan cetak serta media promosi untuk berbagai pelanggan, termasuk sektor korporasi dan industri.

Usaha yang dirintisnya berkembang perlahan. Keuntungan yang diperoleh terus diputar untuk membeli peralatan produksi tambahan. Dari sini lah lahir kemandirian finansial yang membantunya tetap bertahan selama kuliah sekaligus menopang kebutuhan keluarga.

“Target saya bukan hanya lulus membawa ijazah, tetapi juga memiliki usaha yang bisa membantu ekonomi keluarga,” ucap Rasyiid.

“Untung” lain dipercaya jadi asisten peneliti dosen

Meski terbilang sibuk mengelola usaha, Rasyiid tetap aktif mengembangkan kompetensi akademik. Ia bahkan dipercaya menjadi asisten peneliti oleh dosennya dan terlibat dalam sejumlah proyek teknologi terapan.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia bergabung dalam pengembangan Smart Canting with CNC Control, sebuah teknologi yang membantu meningkatkan produktivitas perajin batik. Proyek tersebut diterapkan di UMKM Batik Bambu Mujur, Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.

Keterlibatannya dalam penelitian itu kemudian menginspirasi topik skripsinya yang berjudul “Rancang Bangun Sistem Kendali Suhu Canting Elektrik Berbasis Logika Fuzzy”. Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan sistem kendali suhu otomatis untuk menjaga kestabilan suhu malam atau lilin batik secara real time.

Menurut Rasyiid, pengalaman sebagai asisten peneliti membentuk pola pikir yang lebih kritis, sistematis, dan solutif dalam menghadapi berbagai persoalan. “Penelitian mengajarkan saya untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Setiap masalah harus dianalisis berdasarkan data dan dicari solusi yang paling tepat,” jelasnya.

Rasyiid memang harus membagi waktu antara kuliah, bisnis, organisasi, dan penelitian. Mau tidak mau ia harus mengurangi waktu bersantai dan menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk belajar, bekerja, berorganisasi, serta mengembangkan usaha.

Meski begitu, Rasyiid tetap berusaha menjaga performa akademiknya. Ia menerapkan prinsip skala prioritas dengan menempatkan pendidikan sebagai tujuan utama. Hingga akhirnya Rasyiid berhasil lulus dengan masa studi 3,5 tahun.

Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha. (Dok. UMSURA)

Haru ibu di balik perjuangan anak pertama sebagai mahasiswa Beasiswa KIP Kuliah

Rasyiid lulus dari Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,57. Tak hanya itu, ia juga mengantongi sertifikasi profesi BNSP.

Saat akhirnya lulus dengan catatan-catatan tersebut, mahasiswa Beasiswa KIP Kuliah itu tak pelak merasa sangat terharu ketika mengabarkannya kepada sang ibu.

“Saya langsung teringat perjuangan sejak awal kuliah. Rasanya lega karena bisa menepati janji untuk lulus cepat dan memberikan kebanggaan kepada ibu,” ungkapnya.

Setelah resmi menyandang gelar Sarjana Teknik, Rasyiid memiliki mimpi besar untuk mengembangkan karier sebagai engineer di bidang sistem kendali dan otomatisasi industri. Di saat yang sama, ia juga ingin memperluas bisnis digital printing yang telah dirintis selama kuliah agar mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari perjalanan seseorang. Justru dari keterbatasan itulah kita belajar menjadi lebih tangguh dan mampu menciptakan dampak yang lebih luas,” katanya.

Kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang di tengah berbagai keterbatasan, Rasyiid berpesan agar tidak menyerahkan kendali masa depan kepada keadaan.

“Keterbatasan adalah ruang pembuktian terbaik. Selama kita disiplin terhadap prioritas, konsisten menjalankan target, dan menjaga restu orang tua, tidak ada dinding yang terlalu tinggi untuk diruntuhkan,” pungkasnya.

Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA)

BACA JUGA: Beasiswa KIP Kuliah di Tangan yang Tepat: Jadi 2 Bisnis Berkembang meski Dikhianati-Diremehkan, Malah Tak Lupa Kasih Bantuan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version