Tantangan kuliah di Unair lebih sulit
Untungnya, Rahma tak memilih menyerah. Alih-alih banting setir ke pekerjaan lain, motivasinya untuk menjadi bidan jauh lebih kuat. Apalagi, jika ia mengingat perjuangannya dulu saat menempuh pendidikan tinggi di Unair selama Covid-19.
Lebih dari itu, ada satu momen mengharukan yang bikin dia keukeuh jadi bidan. Momen di mana ia melihat langsung perjuangan seorang ibu melahirkan bayinya dengan taruhan nyawa. Tak sampai di situ, Rahma juga pernah praktik langsung di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Sebuah ruangan perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang memerlukan penanganan khusus.
“Di sana aku melihat banyak bayi yang prematur, lebih kecil dari bayi lainnya. Lalu bayi tanpa tempurung kepala, hingga bayi yang kesulitan bernafas,” kata dia.
Tak ayal, momen itu menguras emosinya sebab ada perasaan sedih yang berkecamuk. Setelah melihat perjuangan seorang ibu dalam proses persalinan, ia harus melihat perjuangan bayi yang bertahan dan berusaha hidup dengan melawan penyakit.
Mental baja alumnus Unair
Berdasarkan keyakinan dan semangatnya menempuh karier sebagai bidan, Rahma akhirnya diterima kerja di salah satu klinik kecil setelah 8 bulan menanti. Meski gajinya tak seberapa, ia lebih memilih kerja di saat teman-temannya yang lain sibuk memperdalam skill dengan ikut pelatihan alih-alih bekerja.
“Aku sendiri sudah nyaman di sini. Aku juga lagi reach out lebih dalam dan pelan-pelan planning, apa kemauanku untuk ke depannya,” ujarnya.
“Memang nggak mudah, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk asah skill maupun kumpulin uang buat jalanin apa yang sudah aku rencanakan, tapi aku selalu percaya usaha itu nggak akan pernah mengkhianati hasil,” lanjutnya.
Pada akhirnya, alumnus Unair itu sadar untuk menikmati prosesnya alih-alih menyalahkan keadaan. Ia berharap usahanya tidak sia-sia dan bisa menolong ibu maupun bayi mereka agar tetap sehat, baik di fase sebelum, saat, dan sesudah persalinan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Unair Surabaya Memang Kampus Impian, tapi PTS Kecil di Solo yang Menghidupkan Kembali Mimpi Saya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














