Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Trembesi di Pantura: Oase Teduh di Tengah Panas Matahari yang Menyiksa Pengendara

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 September 2025
A A
Trembesi di jalan Pantura jadi oase di tengah panas matahari yang terasa menyiksa MOJOK.CO

Ilustrasi - Trembesi di jalan Pantura jadi oase di tengah panas matahari yang terasa menyiksa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

 

Suasana agak berbeda tersaji tiap motor, bus, atau kendaraan lain melintasi Jalan Pantura di Kecamatan Karanganyar, Demak, Jawa Tengah. Angin semilir menyentuh sekujur tubuh yang habis tertimpa panas enthang-enthang. Hawa teduh dari deretan pohon-pohon trembesi memayungi setiap pengendara yang melintas.

***

Pantura awalnya merupakan bentangan jalan panjang nan gersang. Rasanya seperti matahari berada persis di atas kepala. Amat menyengat hingga membuat keringat bercucuran.

Lalu pohon-pohon trembesi beranjak tumbuh, besar dan rindang. Deretan pohon-pohon trembesi tersebut lantas seperti menjadi payung bagi orang-orang yang melintas di Pantura.

Berteduh di bawah pohon trembesi Karanganyar

Jika hendak melakukan perjalanan siang dari Rembang ke Semarang atau sebaliknya, Gandika (25) sudah terbayang betapa ia akan mandi keringat sepanjang jalan. Khususnya saat menyisir Rembang, Pati, Kudus.

Pasalnya, tidak banyak pohon yang tumbuh di tepian jalan. Meski memberi sedikit angin untuk menyejukkan badan, tapi panas matahari tetap saja menyengat kulit.

Gandika adalah pekerja di salah satu pabrik tekstil di Semarang. Setiap dua minggu sekali dia biasanya akan pulang ke Rembang. Perjalanannya melewati kota-kota yang disebut di atas.

Truk-truk besar atau bus-bus yang ugal-ugalan di Pantura adalah aral yang harus Gandika hadapi tiap perjalanan di Jalan Pantura. Hanya saja, dia masih terbiasa dengan situasi itu. Baginya, tak ada yang lebih menyiksa dari sengatan matahari yang terasa begitu perih di kulit.

Rindangnya pohon <yoastmark class=

Itulah kenapa Gandika selalu lega tiap kali melewati Karanganyar, Demak. Ada deretan pohon-pohon trembesi memayungi jalanan. Tak hanya angin yang bisa Gandika rasakan, tapi juga keteduhan.

Rindangnya pohon trembesi yang ada di ruas jalan Wonoketingal, Kec. Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

“Kadang langsung melambatkan motor. Kalau sebelumnya kan kebut-kebutan karena nggak tahan sama panasnya pantura,” ujar Gandika, Minggu (24/8/2025).

Bahkan sesekali Gandika juga memilih berhenti. Meregangkan tubuh di bawah naungan pohon-pohon trembesi sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Iklan

Hilangkan sumpek usai lewati panas Pantura

Hal senada juga disampaikan oleh Agus (32) yang juga berasal dari Rembang, Jawa Tengah. Sebagian besar hidup Agus sebenarnya dihabiskan di wilayah Jawa Timur. Baru beberapa tahun terakhir dia merantau ke arah barat: Semarang dan sekitarnya.

Agus bekerja di salah satu tempat pengolahan frozen food di Semarang. Pantura menjadi jalan yang kerap dia lewati. Sepanjang melewati jalanan ini, Agus kerap kali merasa kesal sendiri dengan hawa panas-keringnya. Terutama di Pati.

“Ya Allah, panase kok gini banget,” keluh Agus. Tak hanya membuat tubuhnya kuyup oleh keringat, tapi tenggorokannya juga ikut mengering saking panasnya.

Rindangnya pohon <yoastmark class=

Tapi sejak akhirnya sering wara-wiri Rembang-Semarang, Agus menyadari satu hal: Karanganyar, Demak, memberi suasana yang berbeda karena keberadaan pohon-pohon trembesi.

“Mau naik bus atau motor, kalau udah masuk ke Karanganyar, Demak, langsung maknyes!. Adem. Sembribit kalau istilah Panturanan,” ungkapnya.

Trembesi di Karangayar menjadi semacam oase bagi pengendara motor seperti Agus. Teduhnya lantas membuat Agus agak adem: tidak sesumpek ketika berjibaku dengan panas, truk, dan bus-bus ugal-ugalan Pantura.

Trembesi dari “laboratorium” Kudus

Penanaman pohon-pohon trembesi yang merindang di jalanan Karanganyar, Demak, itu ternyata digagas oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui program Djarum Trees For Life.

Merujuk laman resmi BLDF, penanaman trembesi ini merupakan bagian dari upaya merespons perubahan iklim ekstrem. Penanaman dimulai sejak 2010 dari jalur pantai utara Pulau Jawa (Pantura), Merak hingga Banyuwangi, lingkar Pulau Madura, serta Joglosemar.

Penanaman lalu dilanjutkan di ruas tol Trans Jawa bahkan Trans Sumatera.

Sebagai informasi, pada Oktober 2020, sebanyak 8.728 trembesi ditanam untuk menghijaukan ruas tol Terbanggi Besar-Kayu Agung-Palembang. Lalu pada Juli 2025, sebanyak 23.171 trembesi kembali diberikan BLDF untuk memayungi ruas tol sepanjang Bakauheni–Palembang.

Saat ini tercatat sebanyak 203.641 pohon trembesi yang telah ditanam dan membentang sepanjang 3.361 kilometer di jalur Jawa, Madura, Lombok, dan Sumatera.

Dalam prosesnya, BLDF turut melakukan perawatan hingga tiga tahun mulai dari penanaman, pemupukan, penyiraman, pendangiran, hingga pohon tumbuh sempurna dan bisa menjadi “payung lebat”.

Bibit-bibit trembesi tersebut di antaranya ternyata berasal dari “laboratorium penghijaun” di Kudus. Namanya Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Pada penghujung Februari 2025 lalu, Mojok berkunjung ke sana.

Tidak semua trembesi yang ditanam berasal dari sana. Namun, PPT memang memiliki beragam tanaman yang disiapkan BLDF untuk melakukan program penghijauan. Salah satunya trembesi yang kemudian menjelma menjadi payung bagi jalanan Pantura. Termasuk juga beragam tanaman langka.

Merindang lama memberi keteduhan

Penanaman pohon trembesi tentu bukan tanpa alasan ilmiah. Diketahui, pohon ini bisa tumbuh bahkan di wilayah dengan curah hujan rendah sekalipun. Dengan begitu, cocok ditanam di daerah kering seperti jalanan Pantura.

Selain itu, pohon trembesi juga efektif menyerap karbon dioksida. Sehingga bisa menjadi salah satu alternatif untuk menuju zero emission.

Merujuk Jurnal Agroteknologi Terapan Universitas Sam Ratulangi dan sejumlah jurnal lain, pohon trembesi diketahui memiliki pertumbuhan biomassa sebesar 3,2 ton pertahun dengan serapan perpohon hingga 28,5 ton gas CO2 setiap tahunnya.

Rindangnya pohon <yoastmark class=

Selain itu juga mampu menurunkan konsentrasi gas secara efektif sebagai tanaman penghijauan dan memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat. Daun trembesi juga dapat menyerap Pb yang cukup tinggi dikarenakan bentuk daun trembesi yang memiliki bulu halus pada permukaan daun serta dapat menyerap CO2.

Dengan begitu, satu pohon trembesi diperkirakan bisa menyerap 5 ton karbon dioksida (CO2) per tahun. Lebih-lebih, pohon trembesi merupakan pohon berumur panjang, sehingga bisa merindang lama untuk memberi keteduhan sekaligus menjadi penyeimbang krisis iklim.

Solusi krisis iklim 

Pakar Biologi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Nur Hidayatullah Romadhon menyebut, penanaman pohon trembesi memang relevan dalam menjawab persoalan krisis iklim yang kini semakin nyata, mulai dari meningkatnya suhu global, banjir yang kian sering terjadi, kekeringan berkepanjangan, hingga semakin buruknya kualitas udara di kawasan perkotaan.

“Trembesi dikenal memiliki tajuk yang sangat lebar dengan kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar; bahkan satu pohon dewasa diperkirakan mampu menyerap puluhan ton CO₂ setiap tahun, jauh melampaui banyak jenis pohon peneduh lainnya,” ungkap Hidayatullah kepada Mojok.

“Selain itu, trembesi berkontribusi dalam menurunkan suhu lingkungan sekitarnya, mengurangi konsentrasi polutan udara, memperbaiki infiltrasi air tanah, serta menyuburkan tanah melalui aktivitas fiksasi nitrogen. Dengan berbagai fungsi ini, jelas trembesi memiliki peran ganda dalam upaya mitigasi sekaligus adaptasi terhadap dampak krisis iklim,” sambungnya.

Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Bakti Lingkungan Djarum Foundation di Kudus MOJOK.CO
Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Bakti Lingkungan Djarum Foundation di Kudus. (Dok. BLDF)

Wajah penghijauan Pantura

Oleh sebab itu, bagi Hidayatullah, penanaman trembesi di jalur Pantura bisa dilihat sebagai solusi jangka menengah yang cukup efektif untuk menghadapi krisis iklim dan memperbaiki kondisi lingkungan jalan raya.

Namun, menurutnya, strategi ini sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu jenis pohon saja. Diversifikasi dengan menanam pohon-pohon lokal yang sesuai dengan kondisi ekologis Indonesia sangatlah penting, seperti mahoni yang memiliki kayu kuat dan tajuk rindang, bintaro yang tahan polusi, ketapang yang adaptif terhadap kondisi pesisir, serta damar yang bernilai ekologis maupun ekonomis.

Pendekatan penanaman berbagai jenis pohon ini, lanjut Hidayatullah, akan membantu menekan emisi, meningkatkan kenyamanan lingkungan, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dan keberlanjutan ekosistem.

“Dengan kata lain, trembesi memang layak menjadi bagian dari wajah penghijauan di jalur strategis seperti Pantura, tetapi tetap harus diimbangi dengan spesies lokal agar solusi penghijauan benar-benar berkelanjutan dan adaptif terhadap tantangan iklim yang kompleks,” imbuh Hidayatullah.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tak Menyakiti atau Membunuh Alam, Prinsip Hidup yang Membuat Warga Japan Kudus Bisa Hidup dari Kebun Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 September 2025 oleh

Tags: jalan panturakuduspanturapilihan redaksitrembesitrembesi pantura
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO
Urban

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO
Sehari-hari

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO
Tajuk

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.