Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Merak Bukan Lagi Sekadar Simbol Keagungan, tapi Teman yang Merakyat di Pojokan Mal Jogja

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
23 Januari 2026
A A
Penangkaran merak di Jogja City Mall. MOJOK.CO

ilustrasi - merak India berwarna biru. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Amrinah (30) mengernyitkan dahi saat melewati kandang burung berukuran besar atau aviary di Jogja City Mall (JCM). Di dalamnya terdapat 15 burung merak yang sedang bertengger di atas sebatang kayu maupun yang asik berjalan di atas lantai berlapis sekam. Mirip seperti penangkaran merak.

Warnanya pun bervariasi, ada yang biru dan putih. Semuanya adalah Merak India atau Pavo cristatus–jenis burung yang tidak dilindungi. Di luar kandang tak kalah menarik, ada dua ekor burung merak yang tampak “mejeng” bersebelahan.

Mereka tak banyak bergerak meski banyak pengunjung datang mendekat untuk mengajak berfoto. Sementara Amrinah lebih memilih menikmati keindahan bulu merak dari jauh bersama anaknya yang baru berusia 16 bulan.

“Tadinya agak bosan cuma jalan kaki lama di JCM, jadi capek. Ternyata bisa rehat sambil lihat-lihat. Anak saya juga senang, nggak rewel dan berhenti nangis,” kata Amrinah saat ditemui Mojok di JCM, Kamis (22/1/2026).

Penangkaran merak di dalam Jogja City Mall

Awalnya, Amrinah hanya ingin jalan-jalan di Jogja City Mall untuk mencari makan bersama keluarga kecilnya. Tanpa sengaja, mereka melihat pameran JCM Pets N’ Plants Festival 2026 berisi hewan peliharaan seperti kucing, anjing, hamster, hingga tanaman hias. Acara itu sendiri berlangsung sejak Rabu (21/1/2026) hingga Senin (26/1/2026).

Karena penasaran dan tertarik dengan hewan-hewan lucu tersebut, Amrinah mengeksplor pameran itu dari depan panggung hingga belakang. Sampai kemudian ia menemukan kandang besar berisi merak yang ternyata milik Mahasvin Farm. Salah satu penangkaran merak di Candi Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

Pemilik penangkaran merak tersebut, Langgono Aswin Putra berujar keikutsertaannya dalam JCM Pets N’ Plants Festival tahun ini untuk mengenalkan masyarakat pada hewan eksotik seperti merak sekaligus memberikan edukasi tentang perawatannya.

Pengunjung JCM lihat merak. MOJOK.CO
Pengunjung mal melihat taman merak di pameran JCM Pets N’ Plants Festival pada Kamis (22/1/2026). (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Merak ini unik karena bisa dipelajari dari sudut pandang apapun, mulai dari segi mitologinya hingga nilai spiritualitas di dalamnya,” kata Aswin ditemui di Jogja City Mall, Kamis (22/1/2026).

Menurut Aswin, merak tak hanya dapat dinikmati dari segi keindahan fisiknya, tapi punya filosofi mendalam yang bisa menjadi pelajaran hidup bagi umat manusia. “Dalam mitologi, merak sering dihubungkan dengan dewa.”

Merak melambangkan keagungan

Dalam mitologi Yunani, burung merak dianggap sebagai simbol dari Hera atau dewi bintang dan langit sekaligus permaisuri Zeus. Zeus adalah raja dari segala dewa-dewi, alias bapak dari dewa dan manusia yang sering disimbolkan sebagai elang. 

Sementara itu, dewi Hara seringkali digambarkan dengan kereta yang ditarik dengan burung merak. Burung merak itu tak hanya bertugas sebagai penarik kereta, tapi mendapat anugerah “mata” dari Argos untuk mengawasi sifat buruk Zeus.

Di era Hellenic, Raja Makedonia, Alexander Agung, konon begitu terpesona dengan keindahan burung merak, sehingga ia melarang perburuan hewan tersebut. Berabad-abad kemudian, burung merak ditetapkan sebagai burung nasional India pada tahun 1963, karena berhubungan dengan kepercayaan agama Hindu.

Merak biru. MOJOK.CO
Merak India tak dilindungi berwarna biru dan putih. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Ia menjadi burung agung yang membawa Dewa Wisnu di punggungnya, serta Dewa Krishna yang membawa bulu merak di mahkotanya. Karena itu, ia dianggap sebagai simbol keindahan, keberuntungan, kemakmuran, dan keagungan.

“Makanya, pembeli merak saya itu unik-unik. Ada penganut agama yang taat, tapi ada juga yang sekadar beli untuk hadiah. Misalnya waktu itu untuk hadiah ulang tahun atau pernikahan, kalau nggak dibelikan katanya nggak mau nikah,” tutur pemilik penangkaran merak Mahasvin Farm tersebut.

Iklan

Jadi broker burung-burung mahal

Aswin sudah menjadi broker merak sejak tahun 2015. Seperti cerita Aswin di atas, pembelinya bisa dibilang eksklusif karena satu ekor merak bisa dipatok harga Rp30 juta hingga Rp60 juta. Belum lagi biaya perawatan dan sebagainya.

“Sebagai penjual, kami tidak bisa mendikte pembeli harus menjaga atau menyayangi merak tersebut. Tapi kami punya pelayanan berupa perawatan, bahkan bisa konsultasi ke kami kalau meraknya sakit,” kata Aswin.

“Makanya, saya sering sebut pembeli saya sebagai mitra sepanjang masa,” lanjutnya.

Selain menjadi broker merak, Aswin juga menyediakan tempat wisata edukasi untuk merawat hewan eksotik seperti merak, ayam polandia, hingga burung unta. Dalam seminggu, peternakannya bisa mendapat kunjungan 3-4 kali dari sekolah-sekolah lokal hingga luar daerah.

Melihat antusiasme tersebut, Aswin tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya untuk ikut pameran JCM Pets N’ Plants Festival 2026. Di acara itu pula ia akan membahas cara menangkar dan membuka usaha merak maupun burung-burung mahal yang berpotensi cuan.

Acara itu berlangsung di hari terakhir pameran, yakni Senin (26/1/2026) pukul 16.00 WIB.

“Di sana kamu juga bisa melihat taman merak pertama di dalam mal dan satu-satunya yang pernah ada di Indonesia,” kata Aswin.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Indonesia Jadi Negara “Penyiksa” Hewan Tertinggi Dunia: Hukum Lemah, Kekerasan Jadi Hiburan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Januari 2026 oleh

Tags: Jogjajogja city mallmerak indiamerak tak dilindungipameran hewanpenangkaran merakrekomendasi wisata jogjawisata edukasi
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Artikel Terkait

Potensi Sebenarnya Gudeg Jogja Dibunuh oleh Branding Wisata (Unsplash)
Pojokan

Potensi Besar Gudeg Jogja Mati karena Branding Makanan Khas Jogja yang Cuma Dikenal Sebagai Makanan Serba Manis

23 Januari 2026
Warung Bakso Horor di Selatan Jogja MOJOK.CO
Malam Jumat

Warung Bakso Horor di Selatan Jogja: Teror Gaib yang Tak Kunjung dan Belum akan Berhenti

22 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
senar raket. mojok.co

Indonesia Masters 2026 Jadi Tempat Merawat Kenangan Keluarga, Rela Cuti Kerja demi “Napak Tilas” Mendiang Ayah di Istora

21 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Event bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan jadi berkah bagi driver obol Jakarta MOJOK.CO

Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora

20 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.