Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Bisnis Penitipan Barang Kos Jogja, Cuan Besar tapi Kenyang Ditipu Pelanggan Tak Bayar yang Pura-pura Meninggal

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
20 Juli 2024
A A
penitipan barang kos Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi jasa penitipan barang kos Jogja (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Penitipan barang kos Jogja ternyata bisnis yang tampak sederhana tapi mendatangkan cuan besar. Meskipun, harus berhadapan dengan keunikan watak pelanggan yang sampai pura-pura meninggal.

***

Iklan

Rumah Riski Usada (24) penuh sesak. Bukan karena perabotan keluarganya yang banyak, melainkan barang-barang anak kos Jogja yang dititipkan di sana.

“Itu baru aku belikan rak besi baru, biar lebih tertata,” ujar Riski saat mengajak saya keliling di rumahnya yang ada di kawasan Demangan, Jogja.

Kami lalu berjalan keluar pintu belakang rumahnya. Melewati gang sempit kampung padat permukiman menuju sebuah tempat lain yang sengaja Riski sewa untuk menyimpan barang kos lain yang memadati rumahnya.

Sesampainya di lokasi, ia membuka kunci kamar seluas sekitar 4×3 meter. Di dalamnya, tumpukan kardus mengitari semua penjuru ruang. Menjulang hingga nyaris ujung atap kamar.

“Sementara yang nggak muat di kamar aku taruh sini. Rencana mau kontrak tempat lain khusus untuk penyimpanan barang,” kata lelaki berkacamata ini.

Ia sempat tak menyangka, bisnis penitipan barang anak kos Jogja yang ia rintis sejak 2020 ini hasilnya cukup menjanjikan. Bisa untuk membiayai kuliahnya di UPN Veteran Yogyakarta hingga lulus pada awal 2024 lalu.

Sempat tak kuliah untuk cari uang

Bagi Riski, berbisnis dan mencoba mencari uang sendiri memang bukan hal baru. Saat lulus SMA pada 2018 silam, ia memutuskan untuk jeda tidak kuliah setelah gagal diterima di sejumlah PTN yang ia daftar.

Orang tua yang memiliki bisnis pakan burung, bisnisnya sedang tidak baik-baik saja. Ia merasa tak enak hati jika menuntut orang tuanya keluar uang banyak untuk mendaftar kuliah di kampus swasta.

“Macem-macem yang dulu aku coba. Sempat narik ojol lumayan lama terus bikin bisnis kecil-kecilan,” tuturnya.

Akhir 2019, Riski juga sempat menjadi tim pemasaran sebuah agen travel. Pada awal 2020, ia hanya selangkah lagi kejatuhan uang sampai dua digit.

“Sempat mau deal dengan salah satu jurusan di kampusku untuk pakai jasa agen travel. Dari agennya kalau deal itu per kepala aku dapat Rp200 ribu dan itu ada 100-an orang,” kenangnya.

Namun, saya pandemi melanda. Semua perjalanan travel dibatalkan. Ia gagal dan harus memutar otak dalam mencari sumber pemasukan lain.

Iklan

Saat itu, teman-teman kampusnya banyak yang pulang kampung. Sebagian, merasa bingung tentang sewa kos.

“Di satu sisi barang mereka banyak di kos, kalau berhenti sewa mau dibawa kemana ini-ini barang. Tapi kalau tetap lanjut kok sewanya mahal,” tuturnya.

Solusi kebutuhan anak kos Jogja

Seorang teman lantas meminta tolong kepada Riski untuk mengemaskan barang di kos yang sudah ditinggal pulang kampung. Lantas, meminta untuk menitipkan barang itu di rumah seorang saudaranya di Jogja.

“Aku inget banget, dia ngasih aku upah Rp50 ribu. Di situlah aku mikir, ternyata kebanyakan orang itu bingung mau naruh barang di mana. Titip tempat teman juga sulit, karena temannya juga sama-sama kos dan sempit. Selain itu, nggak semuanya punya saudara di Jogja,” paparnya.

Insting bisnis memandu Riski kepada peluang yang ia temui. Ia lalu mencoba menyebar kuisioner untuk memperkuat hipotesisnya tentang bisnis ini. Dan ternyata, dari 80-an responden yang mengisi kuisioner banyak yang menyatakan butuh.

Riski bersama dua temannya kemudian mencoba peluang bisnis tersebut. Membuka akun Instagram @titipbarang_kos dan mempromosikannya secara perlahan.

“Ternyata ya ada orang yang menghubungi. Di awal-awal posting itu ya belum sampai 10 orang, tapi lumayan,” tuturnya.

Riski sekaligus mencoba untuk menawarkan jasa antar jemput barangnya. Di awal-awal, ia harus memesan layanan jasa angkut. Namun, dengan trik yang unik.

“Jadi ya dibuat gimana caranya biar terlihat profesional, seolah-olah jasa angkutnya dari aku,” kelakarnya. Dari jasa angkutnya, ia juga bisa mengambil margin keuntungan.

Bertemu dengan beragam karakter

Bisnis penitipan barang anak kos Jogja perlahan berkembang. Meski akhirnya ia harus pisah jalan dengan dua teman lainnya sejak 2021.

Sejak saat itu ia hanya seorang diri. Sesekali dibantu oleh bapaknya untuk menjemput barang. Lelaki ini juga mengaku beruntung karena orang tuanya mengizinkan rumah mereka untuk digunakan menumpuk barang puluhan anak kos Jogja.

“Padahal rumahnya jadi berantakan banget. Beruntung lah ini,” kelakarnya.

Banyak hal tak terduga yang ia temui selama mengelola barang anak kos Jogja. Ada barang yang nyaris empat tahun tidak kunjung diambil oleh pemiliknya. Biaya sewa pun tidak dibayar. Sementara jika dijual pun tidak terlalalu bernilai.

Jika biasanya barang-barang yang dititipkan, maksimal adalah perabotan di kamar, pernah suatu ketika ia mendapat penitipan barang satu kontrakan. Total biaya sewa yang ia patok sampai Rp3 juta per bulan.

Ia sampai harus memutar otak mencari tempat meletakkan barang. Akhirnya, saat itu ia bekerja sama dengan temannya yang punya rumah cukup lapang.

“Kami bagi hasil lah intinya. Gimana lagi, aku belum punya tempat untuk naruh barangnya,” ujarnya tertawa.

Pelanggan itu, selama enam bulan pertama sempat rutin membayar biaya penitipan barang. Namun, setelahnya mulai ngadat. Sesekali dicicil, sampai akhirnya benar-benar sulit dihubungi.

“Lama itu sampai akhirnya tunggakan biaya dia Rp15 juta,” tuturnya

Saat itu, Riski mengaku belum punya regulasi yang detail. Termasuk perjanjian di awal tentang bagaimana konsekuensi jika barang ditelantarkan.

“Udah dikontak tapi belum balas-balas, akhirnya ya aku jualin barangnya,” tuturnya.

Anak kos jogja yang pura-pura meninggal dunia

Pernah suatu ketika, ada pula pelanggan yang tak kunjung membayar biaya penitipan barang. Dihubungi pun tidak menjawab.

“Suatu hari ada nomer lain yang menghubungi, bilang kalau orang yang nyewa ini sudah meninggal karena kanker,” ungkapnya.

Hal itu terjadi setelah Riski membuat SOP yang rinci, bahwa ketika barang tak kunjung diambil hingga 30 hari dan pemilik tidak bisa dihubungi maka ia bisa menjualnya. Maka, ia sampaikan SOP tersebut ke nomor yang mengaku kerabat dari penyewa.

“Eh ternyata dia akhirnya mau bayar,” kelakarnya.

Begitulah ragam karakter anak kos Jogja yang ia temui selama menjalankan bisnis penitipan barang. Kendati begitu, akhirnya ia perlahan memperbaiki sistem. Supaya semuanya tertata dengan lebih baik.

“Aku bener-bener mulai menata sistem dan mempromosikan secara gencar beberapa bulan terakhir. Dari dulu hasilnya udah lumayan, bisa 3x UMR Jogja,” paparnya.

Dulu, ia mematok tarif rata Rp300 ribu per bulan. Namun, setelah menata sistem, ia buat aturan secara lebih detail. Biaya penitipan dihitung per item, mulai dari Rp300 sampai Rp3000 per harinya.

Selain itu, bisnis yang kini ia namai Kost Box ini juga punya berbagai pelayanan selain penitipan barang. Mulai dari packing produk, jasa angkut, hingga kargo.

Ia harap dengan perbaikan sistem ini akan semakin besar lagi potensi yang bisa digali. Cuan datang, anak kos Jogja pun senang.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Aly Reza

BACA JUGA 3 Masalah yang Paling Bikin Pemilik Kos di Jogja Menderita, Lebih Parah dari Kasus Mahasiswa Nimbun Sampah

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2024 oleh

Tags: Jogjakoskos jogjapenitipan barang jogjapenitipan barang kos jogja
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.