Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sisi Suram Kos Pasutri Jogja, Tetangga Tak Tahu Batasan hingga Jadi Kedok “Hubungan Terlarang”

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Mei 2025
A A
Sisi suram kos pasutri di Sleman Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Sisi suram kos pasutri di Sleman Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sejak Februari 2025 lalu saya mulai tinggal di sebuah kos pasangan suami istri (pasutri) di Ngaglik, Sleman, Jogja. Saya cukup menikmati karena suasana hangat yang terbangun di kos tersebut.

Tetangga kos punya kebiasaan saling berbagi makanan. Itu membuat saya terkesan, meski sekaligus merasa jadi serba tidak enak misalnya saya tidak punya apa-apa untuk dibagi.

Iklan

Tapi rasanya aman saja karena orang-orang di sekitar saya saling peduli satu sama lain. Tidak hanya soal kebiasaan berbagi makanan, tapi kalau ada situasi tertentu pun mereka selalu mengutamakan nilai gotong royong dan saling tolong.

Berbeda dengan saya, dua narasumber Mojok justru mengungkapkan keresahan mereka terhadap suasana di kos pasutri mereka—sama-sama di Jogja. Sebab, ada banyak hal yang bagi mereka terasa sangat mengganggu.

Tergiur harga miring kos pasutri di Sleman Jogja

Irna (28) asal Bekasi, Jawa Barat. Sudah sejak 2016 dia merantau di Jogja.

Awalnya memang hanya untuk kuliah. Namun, di Jogja dia justru bertemu dengan laki-laki yang kemudian menjadi suaminya.

Mereka menikah pada penghujung 2023 lalu dan langsung menyewa sebuah kos pasutri di Sleman, Jogja. Mengingat, suami Irna sudah bekerja di Jogja. Jadi untuk sementara belum ada opsi untuk meninggalkan kota ini: entah pindah ke Bekasi atau menetap di rumah suami di Banyumas, Jawa Tengah.

“Setelah lamaran, aku stay di Bekasi. Terus suami yang cari-cari info kos pasutri. Nemu. Karena kondisi kosnya cocok, ya sudah ambil. Apalagi harganya miring,” ungkap Irna, Sabtu (17/5/2025) pagi WIB.

Jika merunut informasi di banyak grup Facebook, ada cukup banyak kos pasutri di Sleman yang menawarkan harga miring. Hanya saja, untuk kualitas, memang untung-untungan. Ada yang layak, ada juga yang sekadarnya menyesuaikan harga.

Namun, suami Irna menemukan kos bagus dengan harga miring. Tak mau banyak pilih-pilih, Irna langsung menyetujui.

Penghuni julid kos pasutri di Sleman Jogja

Sapaan hangat langsung diterima Irna dan suami saat pertama kali meninggali kosnya tersebut. Ini Jogja. Warganya memang sudah dikenal sebagai orang-orang yang ramah terhadap siapapun.

Akan tetapi, berminggu-minggu setelahnya, Irna mulai merasa tidak nyaman tinggal di sebuah kos pasuti di Sleman, Jogja, tersebut.

“Tetangga kos suka julid. Hanya karena kami jarang ikut nongkrong mereka,” kata Irna.

Di awal-awal pernikahan itu, Irna memang belum bekerja. Alhasil, hari-harinya lebih banyak berada di kosan.

Nyaris setiap hari Irna mendengar dan menyaksikan ibu-ibu dan mbak-mbak kos meriung di halaman kosan. Bahkan mereka kerap keluar bareng, entah belanja atau jalan-jalan.

“Aku beberapa kali terpaksa ikut karena diajak. Obrolannya ya gitu-gitu aja. Lebih sering gosipin tetangga kos yang nggak pernah ikut nimbrung,” ucap Irna.

Lama-lama dia tak tahan juga. Alhasil, dia sering absen dari perkumpulan para tetangga kosnya tersebut.

Suami Irna pun mengalami hal yang sama. Bapak-bapak dan mas-mas tetangga kos kerap mengajaknya nongkrong kalau malam hari. Sementara Irna tahu belaka, suaminya sudah seharian bekerja. Saat pulang tentu dia ingin punya waktu buat istri.

Iklan

“Tetangga kos ya tetangga, jangan merasa jadi keluarga”

“Pas kami mulai jarang ikut ngumpul, aku sering lah denger julidan-julidan mereka ke kami. Pokoknya gerak-gerik kami dikomentari. Habis keluar dikomentari, habis beli apa dikomentari. Ya bisik-bisik, tapi aku denger. Bahkan kami sering disindir lewat grup WA kos karena nggak berbaur,” tutur Irna.

Kata Irna, suatu kali saat ikut berbaur, para penghuni sebuah kos pasutri di Sleman, Jogja itu menyebut kalau siapapun yang menghuni kos tersebut harus menganggap satu sama lain sebagai keluarga baru. Karena pada dasarnya para penghuni kos sama: para perantau yang jauh dari keluarga di rumah.

Dengan begitu, menjalin ikatan keluarga baru dengan sesama penghuni kos menjadi sangat penting.

“Bagiku, tetangga kos ya tetangga kos. Nggak lebih dari itu,” tegas Irna. “Dan kita punya kehidupan masing-masing.”

Tetangga kok ngatur-ngatur

Kekesalan itu memuncak menjelang momen Iduladha 2024 lalu. Karena libur panjang, Irna dan suami memutuskan pulang ke Bekasi sehari sebelum Hari Raya Kurban itu.

“Loh mau ke mana?” Tanya seorang tetangga kos.

“Mau mudik, Mbak, ke Bekasi,” jawab Irna.

“Ngapain mudik. Kurban di sini aja, nanti kita bakar daging bareng-bareng.”

Respons itu membuat Irna kesal bukan main. Kok bisa ada tetangga kos yang ngatur-ngatur pilihan hidupnya. Tidak lumrah dan kelewat batas.

Sekembalinya dari Bekasi, Irna dan suaminya lantas memutuskan pindah ke kos pasutri lain di Sleman, Jogja yang lebih nyaman. Harga lebih mahal tidak masalah. Asal para tetangga tahu batas privasi dan keakraban terhadap orang lain.

Membiarkan “hubungan terlarang”

Muhtadin (32) bukan penghuni kos pasutri. Tapi rumahnya berdekatan dengan sebuah kos pasutri di Sleman, Jogja.

Kos tersebut sebenarnya bertuliskan “Kos Pasutri. Sedia Juga Kos Putra dan Putri”. Secara redaksi, maksudnya adalah selain membuka sewa untuk pasutri, kos tersebut juga membuka sewa baik untuk putra maupun putri.

“Ada yang memang pasutri. Tapi lama-lama kok mulai nggak wajar aja,” ungkap Muhtadin.

Misalnya, ada satu kamar yang dihuni oleh sepasang mahasiswa (laki-laki dan perempuan). Pemandangan yang tidak lumrah saja bagi Muhtadin. Mahasiswa sudah tinggal bareng, dugaan terbesarnya tentu saja kumpul kebo.

“Orang mungkin akan bilang, siapa tahu memang sudah nikah. Sudahlah, Mas, di Jogja yang begitu-begitu sudah menjadi rahasia umum,” tegas Muhtadin.

Lalu, sepengamatan Muhtadin juga, ada kamar yang dihuni oleh laki-laki, tapi tiap akhir pekan misalnya, selalu ada perempuan yang menginap. Begitu juga sebaliknya—kos putri tapi penghuni perempuannya kerap menginapkan laki-laki.

Bukan hanya Muhtadin yang meresahkan. Beberapa warga sekitar juga turut meresahkan. Tapi masih sebatas itu. Belum berani memberi teguran secara langsung.

Indekos bebas: ladang cuan

Mojok sudah menayangkan banyak laporan perihal kehidupan kos di Jogja. Baik kos LV maupun kos-kos bebas berkedok kos pasutri.

Keberadaan kos-kos model begitu memang menjadi ladang cuan bagi pemilik kos di Jogja. Peminatnya sangat banyak.

Sekalipun pemilik kos memasang harga tinggi, tapi nyatanya para penyewa rela merogoh sakunya dalam-dalam demi mendapat kos dengan tawaran kebebasan tanpa batas itu.

Keberadaan kos model itu pun sudah banyak diresahkan oleh warga sekitar. Pemerintah setempat juga sudah berusaha mengambil tindakan.

Misalnya yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Jogja. Kepala Seksi Penyidikan Satpol PP Kota Jogja, Ahmad Hidayat mengatakan, pihaknya kerap menerima laporan dari masyarakat tentang keberadaan kos bebas. Aktivitas penghuninya dilaporkan telah melampaui batas: melanggar norma susila.

Hidayat menegaskan, 2025 ini pihaknya akan memberi atensi serius terhadap pengawasan kos-kos bebas. Apalagi sejatinya penyewaan kos bebas melanggar Perda Kota Jogja Nomor.1 tahun 2017. Hanya saja, para pemilik kos cenderung licin dengan menggunakan kedok-kedok tertentu.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Dilema Pemilik Indekos Tertib dan Pemilik Kos LV yang Menolak Tudingan Seks Bebas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2025 oleh

Tags: Jogjakos pasutrikos pasutri jogjakos pasutri slemansleman
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.