Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sesal Mahasiswa Perantau: Jarang Pulang dan Sok Sibuk sampai Abaikan Telepon Orangtua, Sekali Pulang hanya Tersisa Duka

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 Agustus 2025
A A
Sesal mahasiswa perantau: jarang pulang demi gelar sarjana PTN dan sok sibuk sampai abaikan telepon ibu, sekali pulang malah terima kabar duka MOJOK.CO

Ilustrasi - Sesal mahasiswa perantau: jarang pulang demi gelar sarjana PTN dan sok sibuk sampai abaikan telepon ibu, sekali pulang malah terima kabar duka. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selain memberi gelar sarjana, kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) juga memberi rasa sesal pada seseorang. Bukan karena merasa salah jurusan atau lulus menjadi pengangguran. Tapi karena kesibukan menjadi mahasiswa perantau membuat jadi jarang pulang. Belum juga sempat pulang, orangtua tak lagi bisa ditemui di rumah.

***

Iklan

April 2025 lalu, Mojok berbincang cukup panjang dengan Wanto, bapak-bapak pemilik warung kopi di Jombang, Jawa Timur.

Dia bercerita, saat anak-anaknya keterima kuliah (menjadi mahasiswa) di PTN incaran masing-masing, betapa bangga hati Wanto dan istri. Namun, setelahnya justru menyisakan sesal yang mendalam.

Pasalnya, sejak menjadi mahasiswa perantau, anak-anak Wanto jadi jarang pulang. Seperti lupa rumah. Begitu juga ketika akhirnya mereka bergelar sarjana hingga kemudian lanjut bekerja di perantauan. Mereka malah makin jarang pulang. Membuat Wanto dan istri makin kesepian.

“Di sinilah saya jadi mikir, dulu kalau pada ndak lolos kuliah (UTBK-SNBT), lak ya ndak pada jauh-jauh,” ujar Wanto waktu itu. Cerita lengkapnya bisa dibaca di liputan berjudul, “Sesal Seorang Bapak usai Anak Lolos UTBK: Anak Lebih Betah di Perantauan hingga Lupa Pulang, Orangtua Makin Kesepian”.

Apa yang Wanto alami barangkali juga dialami oleh banyak orangtua lain. Namun, apakah penyesalan serupa juga dirasakan oleh anak-anak: menyesal sibuk kuliah hingga “abaikan” orangtua? Ternyata iya.

Demi jadi sarjana di PTN, tak pulang karena jauh dan mahal

Dari Aceh, Urwa (27) menuju Surabaya untuk kuliah di sebuah PTN pada 2017 silam. Sejak hari pertama kuliah hingga 2019 Urwa tak pernah pulang ke Aceh sama sekali.

Libur panjang semesteran dia habiskan di Surabaya. Begitu juga libur lebaran yang hanya bisa dia rayakan melalui video call dengan keluarga di rumah.

Dengan jarak yang membentang antara Surabaya dan Aceh, Urwa tentu tidak bisa leluasa untuk pulang kapanpun ke rumah. Terutama tiap musim libur akademik. Pasalnya, tiket pesawatnya terlalu mahal.

“Kalau bukan hari raya, sudah Rp2 jutaan. Untuk dua kali terbang (Surabaya-Aceh dan Aceh-Surabaya) sudah Rp4 jutaan. Kalau hari raya bisa lebih mahal, Rp2 juta sekian sekali terbang,” tutur Urwa, Minggu (10/8/2025).

Sebenarnya orangtua Urwa di rumah kerap meminta Urwa pulang kalau memang kangen rumah. Bisa memanfaatkan libur semester. Akan tetapi, Urwa juga mikir-mikir.

Kasihan orangtuanya jika harus menanggung biaya tiket pesawat yang segede itu. Sementara di sisi lain mereka juga harus membiayai kehidupan sehari-hari Urwa sebagai mahasiswa PTN Surabaya sekaligus perantau alias anak kos. .

“Rasanya iri misalnya tahu kalau ada teman yang tiap akhir bulan atau sebulan sekali bisa pulang. Tiba-tiba jadi kangen dengan masakan ibu dan suara ngaji bapak. Tapi mau bagaimana lagi. Kalau kata Imam Syafii, orang mencari ilmu itu memang harus merantau sejauh mungkin,” tuturnya.

Usai jadi sarjana, tetap pilih jadi mahasiswa perantau 

Pandemi pada 2020 silam di satu sisi memang mencekam dan terasa merenggut banyak hal. Namun, bencana itu memberi waktu yang sangat panjang bagi Urwa untuk menebus kangennya dengan rumah.

Usai simpang siur di awal kemunculannya, Covid-19 kemudian membuat PTN tempat Urwa kuliah memutuskan untuk menggelar kuliah secara daring dalam kurun waktu yang teramat panjang. Mengikuti imbauan pemerintah.

Tak mau terkurung di Surabaya, Urwa—dengan agak terpaksa—meminta ongkos tiket pesawat kepada orangtuanya untuk pulang ke Aceh. Dia lalu berada di rumah selama satu tahun lebih, sebelum akhirnya memutuskan balik ke Surabaya pada penghujung 2021 guna merampungkan skripsi.

“Waktu itu mau balik juga berat. Karena setahun terbiasa kalau pagi bantu ibu masak. Terus kumpul-kumpul sama ibu, bapak, dan ponakan-ponakan (anak-anak dari kakak perempuan Urwa),” ucapnya. Tapi dia masih harus mengejar gelar sarjana di PTN Surabaya.

Iklan

Urwa lulus kuliah S1 pada 2022. Saat itu orangtua Urwa tidak bisa datang ke Surabaya karena tidak cukup biaya untuk tiket pergi-pulang.

Setelah resmi menjadi sarjana, Urwa juga tak langsung pulang. Dia mengikuti program beasiswa S2 dan diterima menjadi mahasiswa S2 di PTN yang sama dengan saat menempuh S1. Bertambah panjanglah durasi Urwa menjadi mahasiswa perantau sekaligus LDR dengan orangtua.

Baca halaman selanjutnya…

Sok sibuk hingga abaikan telepon ibu, sekali pulang hanya tersisa duka

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2025 oleh

Tags: kuliahMahasiswamahasiswa ptnperantaupilihan redaksiPTNptn di jogjaptn di surabayasarjana
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.