Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sesal Dulu Sering Kasar dan Hina Bapak, Kini Sadar Cari Duit di Perantauan dan Berkorban untuk Keluarga Tak Gampang!

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
28 Oktober 2025
A A
Sesal dulu bersikap kasar hingga menghina bapak. Kini ditampar realitas di perantauan dan mewak tiap pulang ke rumah MOJOK.CO

Ilustrasi - Sesal dulu bersikap kasar hingga menghina bapak. Kini ditampar realitas di perantauan dan mewek ketika pulang ke rumah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada nafas lega ketika tubuh agak berjarak dari perantauan, ketika kaki hanya beberapa langkah menuju rumah (pulang). Karena sejenak bisa istirahat dari hiruk-pikuk pekerjaan. Namun, di saat bersamaan, ada perasaan sesak di dada, kala mendapati bapak yang berdiam di terasa rumah: dengan rokok yang berhenti putus dari bibirnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, setiap pulang ke kampung halaman (Rembang), saya sering mendapat cerita baru dari teman-teman seperjuangan di perantauan. Mereka sama-sama menyesali satu hal: Selama ini mereka terlalu keras pada bapak masing-masing.

Menghina bapak miskin karena tak dibelikan motor

Saat itu Rudi masih kelas 2 SMA. Di SMA-nya, rata-rata anak laki-kali pergi-pulang sekolah membawa motor sendiri. Tapi Rudi tidak. Dia harus naik angkutan umum.

Keluarga Rudi hanya punya satu motor di rumah. Tapi itu pun digunakan oleh sang bapak untuk bekerja (nguli setiap ada panggilan).

“Waktu itu aku juga malu karena kalau ke mana-mana bonceng teman,” kata Rudi, Minggu (26/10/2025).

Rudi sebenarnya sudah meminta dibelikan motor oleh sang bapak. Sejak Rudi kelas 1 SMA, bapaknya semaya akan segera dibelikan. Nunggu uang terkumpul dulu.

Namun, Rudi merasa tak sabar. Karena sampai dia kelas 2 SMA, nyatanya motor yang dijanjikan sang bapak itu tak lekas terbeli juga. Hingga suatu malam dia bersitegang dengan bapak dan ibunya. Bahkan, di momen itu, Rudi dengan terang-terangan menghina kondisi bapaknya. Merasa menyesal punya bapak miskin.

Tahu rasa, cari uang di perantauan susahnya minta ampun

Berselang seminggu dari kejadian itu, motor baru akhirnya terbeli juga. Saat itu Rudi tak mau tahu, dari mana sang bapak bisa mengumpulkan uang hingga bisa membelikannya motor baru.

“Di kemudian hari aku tahu, bapak utang sana-sini. Membayarnya juga mati-matian. Dulu aku sering lihat bapak didatangi tetangga. Dan pasti bapak hanya bisa diam dan mohon maaf. Ternyata bapak waktu itu nggak ada uang juga buat bayar utang,” kata pemuda 23 tahun itu.

Lulus SMA Rudi harus ke perantauan. Bekerja sendiri. Saat itu pun dia benci bukan main pada sang bapak.

Sebab, teman-temannya kebanyakan kuliah. Sementara dia, karena keterbatasan ekonomi, harus langsung banting tulang sendiri.

“Waktu awal merantau aku benci sekali. Karena aku berpikir, seandainya bapak berduit, nggak mungkin aku harus ikut susah payah cari duit,” kata Rudi.

Akan tetapi, belakangan, ketika dia melihat konten-konten di media sosial, cara pikir Rudi akhirnya terbalik. Di media sosialnya, kerap muncul konten dengan topik begini:

  1. Jangan terlalu keras pada bapakmu, karena dia tak pernah hidup untuk dirinya sendiri
  2. Kini aku tahu apa yang dirasakan bapak, betapa kerasnya dunia

“Aku merantau, kerja keras, buat sekadar beli baju baru saja eman karena gaji nggak besar. Nggak gampang ternyata. Gitu dulu aku maksa minta motor harus keturutan sekejap,” sesal Rudi.

Iklan

Hanya memaksa, tapi tak membalas jasa

Hal serupa juga dirasakan Dullah (27). Setiap pulang dari perantauan, dia biasanya duduk bersama bapaknya di kursi depan rumah. Dullah akan membagi rokok untuk dihisap bersama.

“Untuk membelikan satu bungkus rokok saja aku sering nggak mampu. Hanya mampu kasih sebatang,” katanya.

Sama seperti Rudi, Dullah dulu juga sangat membenci bapaknya. Pertama, bapaknya seperti berjarak dengan Dullah. Hubungan mereka dingin padahal sebenarnya tidak ada masalah apapun. Kedua, bapak Dullah kerap tak bisa memberi apa yang Dullah minta sejak kecil.

“Aku pun bisa kuliah karena beasiswa nggak mampu. Bukan dari uang Bapak. Itu membuatku makin nggak suka dengan dia,” tutur Dullah.

Namun, lambat laun Dullah mengerti. Bapak, sedianya seperti apa yang dinyanyikan Iksan Skuter: Diamnya sebenarnya peduli. Diamnya sebenarnya memikirkan banyak hal.

Kala dewasa, Dullah akhirnya tahu dari sang ibu, kalau bapaknya kerap menyalahkan diri sendiri karena tak mampu memberi kehidupan yang baik bagi anak-istri.

Setelah lulus kuliah, Dullah memang langsung diterima kerja di perantauan. Ada banyak situasi yang membuat Dullah akhirnya sadar, kalau seharusnya dia mulai membalas jasa sang bapak. Tapi apa daya, dia tak kunjung mampu. (Atau jangan-jangan sebenarnya belum bisa berkorban sebagaimana sang bapak berkorban).

“Ternyata selama ini aku hanya bisa memaksa bapak, tapi membalasnya aku nggak bisa, nggak mampu,” ungkap Dullah.

Bapak tak pernah hidup untuk dirinya sendiri

Drama Korea When Life Gives You Tangerines makin menyadarkan Dullah. Ada bagian ketika Oh Ae Sun (sebagai ibu) memberi pengertian pada anak-anaknya: Jangan terlalu keras pada ayahmu, dia tak pernah hidup untuk dirinya sendiri.

Dullah memang belum menjadi seorang bapak. Tapi dia kini sudah berperan sebagai seorang suami.

“Sebagai kepala rumah tangga, aku merasakan betul, kerja kerasku bahkan bukan untukku sendiri. Prioritas adalah buat keluarga,” kata Dullah.

Dengan kerja keras itu pun, Dullah masih kerap tak bisa mengupayakan yang terbaik untuk istrinya. Terbentur nasib buruk berkali-kali. Dikalahkan keadaan betubi-tubi.

“Bapakku pasti juga merasa begitu, jadi orang kalah. Tapi dia nggak bisa menunjukkan sisi lemahnya. Memaksa diri buat kuat demi anak istri. Kesadaran itu membuatku nyesal pernah sangat keras padanya, bahkan sampai bentak-bentak,” tutup Dullah.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sibuk Kejar Karier sampai Lupa Rumah dan Skip Nikah demi Ortu, Belum Sukses dan Hidup Mapan Ortu Keburu Meninggal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2025 oleh

Tags: bapakmerantauperantauanpilihan redaksipulangrumah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO
Edumojok

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co
Sehari-hari

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO
Urban

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO
Aktual

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Jurusan Agribisnis jualan keripik buah. MOJOK.CO

Sibuk Jualan Sambil Kuliah daripada Jadi Mahasiswa “Kura-kura”, Lulusan Agribisnis Ini Sukses Dagang Keripik sampai Luar Negeri

11 Maret 2026
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Kupat Keteg: kuliner warisan Sunan Giri jadi medium dakwah di Giri Kedaton, Gresik MOJOK.CO

Rasa Sanga (4): Tasawuf Ala Sunan Giri dalam Olahan Kuliner Kupat Keteg yang Dibuat di Tengah Perbukitan Kapur

6 Maret 2026
Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026
Dosa-dosa kecil yang kerap dilakukan hingga memicu masalah keuangan: uang atau gaji berapa pun terasa kurang MOJOK.CO

“Dosa Kecil” Pemicu Masalah Keuangan tapi Kerap Dilakukan, Bikin Uang atau Gaji Berapa pun Terasa Kurang

10 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.