Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Geliat Sambilegi Kidul Sleman, Kebun Singup Disulap Pertamina Jadi Sasana Jemparingan yang Untungkan Warga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 September 2024
A A
Sasana Jemperangin Ambisena Sambilegi Kidul Sleman, Upaya Pertamina Lestarikan Panahan Tradisional MOJOK.CO

Ilustrasi - Sasana Jemparingan Ambisena Sambilegi Kidul Sleman, upaya Pertamina lestarikan panahan tradisional. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jemparingan atau panahan tradisional menjadi kebudayaan yang selama tujuh tahun terakhir bergeliat di Sambilegi Kidul, Sleman, Jogja. Praktik budaya yang kemudian juga menjadi jalan rezeki bagi warga setempat. Kolaborasi dengan Pertamina menjadi pembuka jalan.

***

Tiap pukul 16.00 WIB, Eko (pria menjelang 50-an tahun) pasti akan memacu motornya menuju Sasana Sambisena: sebuah arena untuk jemparingan atau panahan tradisional di Sambilegi Kidul, Sleman, Jogja.

Eko adalah salah satu anggota Paguyuban Jemparingan Sambisena. Tiap pagi dan sore ia pasti menyempatkan diri ke sasana di dekat makam Dusun Sambilegi Kidul itu. Untuk sekadar menyapu daun-daun gugur, memberi makan ikan, menyiram tanaman, atau menyiram tanah area sasana yang mengering.

“Beberapa bulan terakhir memang belum ada event jemparingan atau kunjungan tamu (wisatawan) ke Sasana Sambisena. Jadi memang agak sepi,” ujar Eko saat saya temui di sela-sela aktivitasnya menyiram tanaman dan tanah area sasana, Minggu (8/9/2024) sekitar pukul 16.00 WIB.

Kata Eko, latihan jemparingan atau panahan tradisional di Sasana Sambisena, Sambilegi Kidul, tersebut berlangsung rutin tiap Selasa sore. Pesertanya adalah anggota Paguyuban Jemparingan Sambisena yang mayoritas berisi orang dewasa.

 

Sasana Jemperangin Ambisena Sambilegi Kidul Sleman, Upaya Pertamina Lestarikan Panahan Tradisional MOJOK.CO
Sasana Jemparingan Ambisena. (Aly Reza/Mojok.co)

Ikut kompetisi panahan tradisional hingga ke Bali

Eko meminta saya menunggu kedatangan Parjo (49) selaku Ketua Paguyuban Jemparingan Sambisena untuk mendapat informasi lebih banyak. Sambil menunggu, Eko mempersilakan saya duduk-duduk di area pendopo.

Pendopo itu tak telalu besar. Terdapat sebuah ruangan untuk menyimpan alat-alat panahan tradisional. Di sana juga berderet beberapa piala yang pernah Paguyuban Jemparingan Sambisena, Sambilegi Kidul, peroleh saat mengikuti berbagai kompetisi panahan tradisional.

“Paling jauh ikut di Denpasar, Bali. Tahun 2019. Tapi kalau lomba-lomba jemparingan begitu, yang sering menang justru para srikandinya (kalangan ibu-ibu),” terang Eko saat melihat saya menatap lekat-lekat piala yang berjejer di sana.

Sasana Jemperangin Ambisena Sambilegi Kidul Sleman, Upaya Pertamina Lestarikan Panahan Tradisional MOJOK.CO
Dokumentasi saat Paguyuban Jemparingan Ambisena unjuk kebolehan di sasana. (Dok. Parjo)

Menariknya, Eko dan anggota paguyuban yang lain mengaku berlatih panahan tradisional tersebut secara otodidak. Mereka tidak ada yang berangkat dari latar belakang pemanah profesional. Tidak ada pelatih juga. Mereka benar-benar berlatih mandiri.

“Termasuk membuat gendewa (alat panah), juga mandiri. Salah satu pembuatnya kan Pak Parjo,” jelas Eko.

Semula hanyalah kebun

Parjo, yang tampak baru bangun tidur, tak lama kemudian tiba di Sasana Jemparingan Sambisena, Sambilegi Kidul, Sleman. Ia lalu mengambil duduk di pendopo. Membersamai saya dan Eko.

Kata Parjo, Sasana Jemparingan Sambisena tersebut dulunya berupa kebun dusun. Penuh pepohonan, sesak oleh semak belukar, terkesan singup. Sampai akhirnya Pertamina melakukan pendampingan pada Sambilegi Kidul, Sleman, untuk mengembangkan sasana jemparingan. Selain untuk melestarikan panahan tradisional juga untuk memberi dampak ekonomi pada Sambilegi Kidul, Sleman.

Iklan

“Paguyuban (Jemparingan Sambisena) sudah ada sejak 2017-an. Kalau sasananya ini baru 2021-an seingat saya,” ungkap Parjo dengan mata mengeriyap. Masih ada sisa kantuk di sana.

Sasana Jemperangin Ambisena Sambilegi Kidul Sleman, Upaya Lestarikan Budaya Lokal MOJOK.CO
Area Sasana Jemparingan Ambisena. (Aly Reza/Mojok.co)

Menurut Parjo, sebelum ada Sasana Jemparingan Sambisena, terlebih dulu Pertamina memberi pendampingan dalam pengembangan UKM berupa angkringan yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT). Kemudian ada wacana untuk mengembangkan Sambilegi Kidul menjadi Kampung Wisata.

Dari situ lalu terbersit ide untuk memasukkan jemparingan atau panahan tradisional sebagai salah satu daya tawar dari Kampung Wisata tersebut. Pihak Pertamina pun akhirnya melakukan survei di Sambilegi Kidul. Kebun milik dusun lantas dipilih untuk dibabat dan diubah menjadi sasana.

“Setelah sasana ada dan Kampung Wisata jalan, ternyata prospek, mendatangkan tamu. Ya sudah akhirnya terus berlanjut pengelolaannya sampai sekarang,” terang Parjo.

Turis mancanegara datang untuk coba panahan tradisional

Sejak sasana jemparingan tersebut beroperasi berbarengan dengan Kampung Wisata Sambilegi Kidul, Parjo mengaku sasananya memang tak luput dari jujukan. Memang tidak mesti tiap bulan ada pengunjung. Tapi setiap ada kunjungan biasanya rombongan wisatawan luar daerah, antara 50 sampai 80 orang.

“Kami kan sistemnya paketan, Mas. Jadi kerjasama sama pihak travel. Pihak travel memasukkan Sambilegi Kidul sebagai salah satu daftar kunjungan. Terus kami jamu di sini,” kata Parjo.

Dari 50 atau 80 wisatawan yang berkunjung, 10 di antaranya biasanya tertarik untuk mencoba jemparingan. Sementara sisanya akan menikmati suguhan lain dari Sambilegi Kidul yang dipusatkan di area sasana. Ada kuliner (angkringan), pertunjukan seni gejog lesung (menabuh lesung), hingga atraksi tari.

“Turis luar negeri pun ada yang datang. Pernah ada dari Maroko, Jepang, Selandia Baru, Ekuador juga ada,” timpal Eko melengkapi keterangan Parjo.

Bukti para turis mancanegara itu benar-benar pernah berkunjung adalah foto-foto yang terpampang di beberapa sudut Sasana Jemparingan Ambisena.

Dampak ekonomi dan ucapan terimakasih pada Pertamina

Parjo menyebut sasana pemberian Pertamina tersebut sedikit banyak memberi dampak ekonomi bagi warga Sambilegi Kidul.

Bagi Parjo, dampak siginfikan terasa pada angkringan yang dikelola oleh KWT. Sebab, pemasukannya bersifat harian: hampir setiap hari ada pengunjung di angkringan tersebut.

“Kalau jemparingan itu ya sifatnya per event aja. Misal ada event atau waktu ada kunjungan wisatawan, nah itu baru ada (uang) yang masuk,” jelas Parjo.

“Jadi ya terimakasih lah sama Pertamina,” sambungnya.

Selain persoalan ekonomi, keberadaan Sasana Sambisena di satu sisi juga meningkatkan popularitas Sambilegi Kidul, Sleman, dalam jagad jemparingan. Kata Parjo, Sasana Sambisena menjadi arena untuk menggelar berbagai event panahan tradisional.

Hal itu juga membuka jalan bagi Paguyuban Jemparingan Sambisena untuk ikut berkompetisi dalam event-event jemparingan di luar daerah. Ndilalah, paguyuban yang Parjo pimpin itu kerap menorehkan prestasi dalam berbagai event tersebut.

Sasana Jemperangin Ambisena Sambilegi Kidul, Upaya Pertamina Lestarikan Panahan Tradisional MOJOK.CO
Deretan piala yang pernah Paguyuban Jemparingan Ambisena raih. (Aly Reza/Mojok.co)

“Kami kalau minta fasilitas apa ke Pertamina untuk ngembangin sasana ini pasti dibantu. Yang paling baru ini kan pengadaan rumput di sasana. Ini sudah kami gali dan tata (tanahnya), tinggal nunggu pemasangan rumputnya,” sambung Eko dalam jeda obrolan antara saya dan Parjo.

Masih kata Eko, wacananya kebun area bawah Sasana Jemparingan Sambisena juga tengah diproyeksikan menjadi sasana tambahan. Semua tinggal menunggu waktu.

Anak-anak belum terpikat pegang busur panah

Sore ketika saya, Parjo, dan Eko berbincang itu, persis di sebelah Sasana Jemparingan Sambisena tengah riuh anak-anak dan pemuda Sambilegi Kidul, Sleman, bermain voli.

Kata Parjo, lapangan voli itu baru dibuat belum lama ini atas inisiasi warga setempat. Kini lokasi tersebut menjadi fasilitas publik favorit anak-anak dan pemuda dusun.

“Sayangnya anak-anak memang belum ada yang tertarik pada panahan tradisional,” ungkap Parjo.

Itu cukup menjelaskan kenapa 30-an anggota Paguyuban Jemparingan Sambisena hanya berisi orang-orang dewasa.

“Kendala lain, kami kan memang bukan pemanah profesional. Cuma sekadar bisa. Jadi nggak cukup bisa ngajar. Selain itu persoalan waktu juga. Kami dari pagi sampai sore punya kerjaan masing-masing,” timpal Eko.

Baik Eko maupun Parjo sependapat, mereka punya harapan agar anak-anak Sambilegi Kidul, Sleman, mendapat pendampingan soal jemparingan. Mengingat, panahan tradisional saat ini sudah cukup lekat dengan Sambilegi Kidul. Sehingga sayang saja jika tidak ada penerusnya.

Harapan tersebut Parjo dan Eko langitkan persis saat azan Magrib berkumandang. Penanda waktu salat sekaligus penanda kalau sudah waktunya saya berpamitan. Karena menyongsong malam, Parjo dan Eko masih ada keperluan lain di rumah masing-masing.

Kepedulian Pertamina pada kebudayaan

Sudah bertahun-tahun Pertamina memiliki perhatian khusus pada program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL)/Corporate Social Responsibility (CSR). Pendampingan dalam sektor kebudayaan, dalam hal ini adalah jemparingan di Sambilegi Kidul, bukan yang pertama.

Pertamina sudah melakukan pendampingan di sektor kebudayaan di beberapa daerah. Merangkum dari laman resmi Pertamina, beberapa di antaranya:

  • Pada Agustus 2019, Pertamina Internasional EP (anak perusahaan yang beroperasi di luar negeri) mengggelar Festival Tunjukkan Indonesiamu selama tiga hari (2-4 Agustus 2019) di kawasan FX Sudirman, Jakarta. Acara ini menunjukkan beberapa program pelestarian budaya yang Pertamina canangkan, khususnya di aspek tari-tarian dan karaton di Indonesia. Misalnya, Pertamina mendirikan sekolah tari tradisional gratis di Keraton Kasepuhan Cirebon bekerja sama dengan Yayasan Belantara Budaya Indonesia pada September 2018.
  • Pada April 2021, Pertamina membantu pelestarian kegiatan adat di Bali dengan memberikan dukungan pembangunan Gedung Majelis Desa Adat (MDA) di Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Tabanan di Provinsi Bali.
  • Pada Juli 2023, Pertamina mendorong pelestarian warisan budaya yang menjadi kebanggaan Indonesia. Komitmen itu diwujudkan melalui dukungan bagi Sekolah Tari Cirebon yang bergerak di bidang pendidikan, kesenian, dan kebudayaan sejak 2018.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Tak Sia-Sia Lepas Gaji PNS Demi Kembangkan Panahan Tradisional, Bawa Anak-Anak Surabaya ke Turnamen Nasional hingga Internasional

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: desa wisata Jogjadesa wisata slemanjemparingan jogjakampung wisata slemanpanahan tradisionalsambilegi kidul slemansleman
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO
Catatan

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja Mojok.co
Pojokan

Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja

25 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO
Aktual

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026
Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)
Pojokan

Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

4 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

karet tengsin, jakarta. MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.