Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

4 Renungan jika Ingin Jadi Driver Ojol, Pekerjaan Sampingan yang Tak Semudah Bayangan

Alya Putri Agustina oleh Alya Putri Agustina
13 Agustus 2024
A A
4 Hal yang Harus Diperhatikan Jika Mau Jadi Driver Ojek Online (Ojol). MOJOK.CO

Ilustrasi - 4 hal yang harus dicatat sebelum jadi driver ojek online (ojol). (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

#3 Berjibaku dengan gamifikasi yang nuntut kerja terus-terusan

Status kemitraan memang menjadi iming-iming tersendiri bagi platform ini dalam menjaring calon driver. Sebab, status ini menjanjikan kelonggaran dan kebebasan berupa ”kerja sewaktu-waktu” bagi driver.

Tapi yang terjadi tidak selalu demikian. Eka mengaku tak tahu persis kapan dan bagaimana orderan masuk. Penyambungan antara driver dan penumpang tergantung pada sistem aplikasi.

“Online bukan berarti kami langsung dipastikan dapat penumpang, Mbak. Kadang sedikit banget, kadang banyak. Sering harus nunggu lama dulu juga,” jelasnya.

Untuk mengakali itu, Eka sering muter-muter menjalankan motornya agar orderan nyantol. Tapi muter pun berarti bensin ikut surut.

“Kalau lagi nggak rajin (jarang narik), biasanya orderan jadi sepi, Mbak. Yang masuk sedikit, dan itu pun sering dari titik jemput yang jauh jaraknya,” ucapnya.

Memang driver memiliki jam kerja fleksibel, tapi sistem aplikasi secara tak langsung menuntut driver untuk terus-terusan aktif kalau tak mau orderan seret atau bahkan terkena sanksi.

Contohnya, salah satu kawan Eka menerima penonaktifan akun karena lama nggak narik.

“Padahal kalau nggak salah cuma dua minggu loh itu, Mbak,” kenangnya.

“Jadi, ya, kalu saya sebisa mungkin rajin, ramah, dan nggak pilih-pilih order, biar nggak kena sanksi,” kata Eka.

Driver ojek online: buruh yang tidak terpenuhi haknya

Devita Aditya dalam Jurnalnya yang terbit dalam CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi berjudul Gamifikasi Sistem  Kerja dan Siasat Pengemudi Ojek, mengungkap kerja pengemudi ojek online tidak sesederhana memberikan tumpangan, tapi juga permainan matematika.

Pengemudi harus terus mengkalkulasi poin, bonus, persentase kinerja, dan rating agar mendapatkan penghasilan/upah yang diinginkan. Sistem kerja yang menggunakan misi, target harian, bonus, dan rating seperti ini membuat alur kerja serupa bermain game. Yang, secara tak langsung, memaksa ojol untuk memeras keringat lebih lama dan sangat giat untuk bertahan.

Mahasiswa sekolah pascasarjana UGM itu berpendapat bahwa sistem gamifikasi ini berpotensi membuka masalah ketika dibarengi dengan status kemitraan.

Pasalnya, gamifikasi yang dapat mengakomodasi aturan kerja fleksibel seolah menciptakan sistem kerja “tanpa ada paksaan”. Padahal, sebenarnya banyak peraturan yang mengikat dan menuntut. Alhasil, pengemudi tak sadar dirinya tengah berada di posisi eksploitatif yang tak adil.

Sistem mitra sendiri  pada dasarnya menawarkan hubungan yang adil dan setara antarpelaku kerja sama, berdasarkan prinsip saling memerlukan dan menguntungkan. Sistem yang seperti ini, seharusnya melibatkan seluruh pihak dalam merumuskan suatu peraturan kerja sama.

Iklan

Tapi nyatanya dalam konteks hubungan kemitraan ini, pengambilan keputusan kerja didominasi oleh platform aplikasi ojol. Terjadi kedudukan yang berat sebelah.

Para ojol hari ini berstatus sebagai mitra, tapi hubungan kerja yang terjalin layaknya buruh-pengusaha. Buruh yang tak terpenuhi hak-haknya karena perusahaan berlindung dibalik status kemitraan palsu.

#4 Selalu berseteru dengan ojek pengkolan

Selain harus bertahan dalam ketidaksetaraan posisi dengan perusahaan platform yang menimbulkan bermacam tuntutan, pemotongan, dan ketiadaan penjaminan tadi, ojol juga masih berhadapan dengan sentimen ojek pengkolan. Di Jogja yang notabene adalah kota wisata, eksistensi ojek pengkolan masih ramai dijumpai.

Mulai menjadi ojol di tahun 2018, Eka termasuk ke dalam angkatan awal. Sebab, kala itu baru tiga tahun platform ojol menjamur di Jogja. Di tahun-tahun awal itu, ia masih waswas tiap kali ketemu ojek pengkolan, karena sentimen yang ada masih cukup kuat.

“Dulu tuh suka diusirin saya, Mbak, kalau nggak sengaja ketemu sehabis nurunin penumpang,” kenangnya. Kini, ternyata sentimen itu masih ada meski tak sebanter sebelumnya.

“Mbak pernah pesen ojol dari Stasiun Lempuyangan?, tanya Eka.

Menjawabnya, saya menerangkan pengalaman pertama saya tiba di Jogja yang mesti jalan ke daerah flyover untuk mencari ojol. Sebab driver ojol menyuruh saya menunggu di sana. Kala itu saya sempat kebingungan, kenapa harus seperti itu dulu baru bisa order ojol?

Di tengah kebingungan itu, saya dapati banyak pula di antara penumpang yang baru turun kereta, berjalan menuju flyover. Itu mengisyaratkan pada saya, titik jemput ojol memang bertempat di sana. Ke arah kiri dari gerbang keluar, saya menempuh jalan yang bagi saya cukup jauh, terlebih saya menggendong tas berat. Cukup bikin encok dan ngos-ngosan.

“Ojol dilarang berhenti di depan Lempuyangan, Mbak, sebab di sana banyak ojek pengkolan mangkal,” terang Eka menambal kebingungan saya.

“Pernah ada (ojol) yang menjemput di sana, helmnya ditarik oleh para ojek pengkolan. Musti bayar Rp50 ribu kalau mau helm balik,” tambah driver ojek online tersebut.

Ojek pengkolan tak mau pindah jadi ojek online

“Nggak cuma stasiun, Mbak, di terminal bahkan rumah sakit juga terjadi pengeblokkan kayak gini. Saya herannya, rumah sakit lho itu, tempat orang sakit, bukan orang liburan,” keluh Eka.

Di Jogja, ada titik-titik merah yang haram didatangi ojol. Tiga di antaranya adalah Stasiun Lempuyangan, Terminal Giwangan, dan Rumah Sakit Sardjito. Padahal, menurut Eka tempat-tempat itu adalah tempat umum yang seyogianya bisa diakses siapa saja.

“Mereka (ojek pengkolan) sebenarnya pernah ditawari untuk bergabung dengan ojek online, Mbak. Udah dipermudah nggak perlu daftar akun dan ngumpulin SKCK atau persyaratan-persyaratan lain kayak saya. Tapi pada nggak mau,” ceritanya.

Eka menduga, keengganan itu hadir karena minimnya pemasukan ojol. Para ojek pengkolan tak terikat sistem dan bebas menentukan tarif mereka sendiri.

Mereka tak mau pemasukan turun. Selain tarif ojol relatif lebih murah, itu masih harus terkikis lagi oleh potongan demi potongan untuk diserahkan pada perusahaan–sebagaimana yang dialami Eka. Mereka tak mau semakin jauh dari kesejahteraan.

Penulis: Alya Putri Agustina
Editor: Muchamad Aly Reza

Liputan ini diproduksi oleh mahasiswa Program Kompetisi Kampus Merdeka-Merdeka Belajar Kampus Merdeka (PKKM-MBKM) Unair Surabaya di Mojok periode Juli-September 2024.

BACA JUGA: Ojol Jogja Iri dengan Ojol Surabaya, Meski Dimusuhi Ojek Pengkolan tapi Aturan Lebih Menguntungkan

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2024 oleh

Tags: cara mendaftar jadi ojoldriver ojolojek onlineojolpendapatan ojolpenghasilan ojolpilihan redaksi
Alya Putri Agustina

Alya Putri Agustina

Artikel Terkait

Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO
Kilas

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO
Kabar

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.