Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
29 Januari 2026
A A
AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah MOJOK.CO

Ilustrasi AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Muhammadiyah ingatkan penggunaan AI atau kecerdasan buatan secara berlebihan dapat membuat orang malas berpikir. Tak sesuai dengan tradisi umat Islam dalam prosesnya mencari ilmu.

***

Patut saya akui, kemunculan kecerdasan buatan atau AI memudahkan saya sebagai pekerja di media. Bahkan tak jarang sebuah media memberikan pelatihan khusus bagi jurnalisnya untuk mempelajari alat-alat AI di Google. 

Dengan AI, kami bisa mentranskrip audio menjadi teks secara cepat, melihat trend berita, sampai membuat tulisan investigasi, seperti yang dilakukan media Rolling Stone dalam artikel berjudul “The DJ and The War Crimes”.

AI tak hanya bermanfaat bagi pekerja media seperti saya, beberapa mahasiswa bahkan menggunakannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Global Student 2025 dari Chegg mengungkap sebanyak 95 persen mahasiswa Indonesia menggunakan GenAI untuk membantu tugas akademik mereka.

Masalahnya, AI adalah pedang bermata dua. Sama seperti kemunculan gawai pertama kali, ia bisa menjadi candu jika digunakan secara berlebihan.

Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir berujar AI dapat melahirkan kemalasan kognitif di tengah masyarakat, termasuk di kalangan akademisi dan pelajar.

Pencarian ilmu mestinya tidak didapat dari cara yang instan

Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir menjelaskan fenomena kemalasan berpikir (kasal) kini semakin menguat seiring dengan kemudahan yang ditawarkan AI. 

Menurutnya, banyak orang cenderung menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI, mulai dari meminta ringkasan bacaan hingga menulis karya ilmiah, bahkan sekadar untuk curhat.

“Apa-apa cukup tanya AI, apa-apa minta dirangkumkan. Dampaknya ini serius,” ujar Rofiq Muzakkir dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat (23/01/2026).

Ia menyoroti praktik pelatihan penulisan karya ilmiah berbasis AI yang kini marak, bahkan telah difasilitasi oleh pemerintah. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menyalahi prinsip dasar pencarian ilmu dalam Islam yang menekankan proses panjang, kesungguhan, dan kesabaran.

Mengutip pesan Imam Syafi’i, “lan tanālul ‘ilma illā bisittah”, Rofiq menekankan bahwa ilmu tidak dapat diraih secara instan. Salah satu syarat utama dalam menuntut ilmu adalah tūluz zamān, yakni proses waktu yang panjang. Karena itu, penggunaan AI tidak boleh mengabaikan tahapan akuisisi ilmu secara bertahap, manual, dan tradisional.

“Ilmu itu dipelajari melalui proses belajar, bukan sekadar di-generate,” katanya, mengutip hadis Nabi yang menegaskan bahwa ilmu diperoleh melalui proses ta’allum atau pembelajaran.

Maraknya penyalahgunaan AI membuat Rofiq teringat dengan imbauan dari seorang ulama klasik bernama Ibnul Qayyim. Ia menyatakan siapa pun yang melewatkan fondasi dasar ilmu (ushul), maka ia tidak akan sampai pada kebenaran dan mudah terombang-ambing. 

Iklan

Tak lepas dari pernyataan tersebut, Rofiq berujar ketergantungan pada AI tanpa fondasi keilmuan juga berpotensi membingungkan, karena alat itu cenderung memberikan jawaban afirmatif tanpa kemampuan menilai benar atau salah secara substantif.

“Supaya tidak bingung, seseorang harus punya ushul, punya fondasi ilmu. Fondasi itu didapat dari iktisab dan ta’allum, bukan dari jalan pintas,” tegasnya.

Boleh pakai AI tanpa menghilangkan tradisi keilmuan 

Dalam konteks pendidikan keislaman, Rofiq menegaskan pentingnya menjaga tradisi membaca buku, menghafal Al-Qur’an dan hadis, serta belajar langsung dengan guru. Ia mengingatkan pesantren dan lembaga pendidikan Islam agar tidak mengorbankan tradisi keilmuan tersebut hanya karena tergiur kemudahan teknologi AI.

Ia juga menekankan pentingnya prinsip tatsabbud atau verifikasi. AI, kata dia, tetap menyimpan bias pengembang dan keterbatasan data. Bahkan, ia menyinggung kasus di Amerika Serikat ketika seseorang disarankan bunuh diri setelah berkonsultasi dengan AI, yang kemudian menjadi kasus besar dan kontroversial.

“Self-diagnosis tanpa verifikasi itu berbahaya. Apa pun yang diberikan AI tetap harus ditabayyunkan,” ujarnya, seraya mengutip perintah Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 tentang kewajiban memverifikasi informasi.

Oleh karena itu, Rofiq mengingatkan agar manusia memiliki prinsip tawazun atau keseimbangan dalam menghadapi AI. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak boleh menggerus spiritualitas, rasionalitas, dan hubungan sosial manusia.

“Teknologi harus berjalan seimbang dengan daya kritis, kehidupan sosial, dan kedalaman spiritual. Jangan sampai AI justru membuat kita kehilangan kemampuan berpikir dan bersosialisasi,” ucapnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2026 oleh

Tags: AIdampak buruk AIkarya ilmiah AIkecerdasan buatanmanfaat AIMuhammadiyah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO
Esai

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
celengan investasi, ai.MOJOK.CO
Aktual

Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS

30 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Gen Z mending beli bunga daripada rumah untuk self reward. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Suka Beli Bunga untuk Self Reward daripada Stres Nggak Mampu Beli Rumah untuk Masa Depan

16 Februari 2026
Rosalia Indah Armada Tua Bikin Kecewa- Mogok Sampai 4 Kali MOJOK.CO

Pengalaman Buruk Naik Rosalia Indah Tua Rombakan: Empat Kali Mogok, Menghadirkan Kekecewaan di Akhir Perjalanan

17 Februari 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Orang desa ogah bayar pajak motor (perpanjang STNK) di Samsat MOJOK.CO

Orang Desa Ogah Bayar Pajak Motor (Perpanjang STNK), Lebih Rela Motor Disita daripada Uang Hasil Kerja Tak “Disetor” ke Keluarga

19 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.