Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kengerian Motoran saat Malam di Jalan Pantura, Hati-hati Saja Tak Cukup kalau Tak Mau Celaka

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Maret 2025
A A
Berkendara motor malam hari di jalan pantura Surabaya-Semarang taruhannya nyawa MOJOK.CO

Ilustrasi - Berkendara motor malam hari di jalan pantura Surabaya-Semarang taruhannya nyawa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perjalanan malam di jalur pantura (Surabaya-Semarang) pakai motor taruhannya memang nyawa. Hanya orang andal atau beruntung yang bisa lolos dari ngerinya berjibaku dengan truk-truk tronton atu bus yang kebut-kebutan.

Begitulah pengakuan Gandika (24), pemuda asal Rembang, Jawa Tengah, yang kerap berjibaku di jalanan Pantura.

Sejak lulus SMK, Gandika sudah merantau antarkota. Pernah di Tangerang, Semarang, dan sekarang lebih sering di Surabaya. Kerja apa saja yang penting menghasilkan uang.

“Sayangnya di Rembang nggak ada kereta. Sebenarnya ada pilihan naik bus. Tapi entah kenapa aku lebih suka naik motor. Suka sensasi touring,” ujarnya berbagi cerita, Selasa (25/3/2025) malam WIB.

“Seringnya saat perjalanan di pantura aku nabrak waktu malam. Waktu yang mengerikan bagi pengendara motor,” imbuhnya.

Nyaris mati karena truk di pantura Surabaya-Semarang

Sudah menjadi rahasia umum, selepas Magrib, volume truk tronton akan meningkat. Seolah memenuhi jalanan pantura Surabaya-Semarang. Ditambah bus malam yang mulai beroperasi.

Sialnya, baik truk maupun bus, berkendara lebih ugal-ugalan di malam hari. Salip sana, salip sini. Lawan arah secara serampangan.

“Jadi sering pengendara motor sepertiku kehabisan jalan karena ada truk atau bus nyalip dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi,” tutur Gandika.

Gandika mengaku pernah nyaris mati gara-gara ulah truk ugal-ugalan.

Suatu kali di tahun 2019, dia sedang dalam perjalanan menuju Rembang dari Semarang. Setiba di Pati, Gandika yang memacu motor dengan kecepatan standar 80 km/jam dikejutkan dengan sebuah truk yang menyalip. Seperti mengabaikan keberadaan Gandika. Alhasil, Gandika terpaksa membanting setir ke kiri. Nyungsep tepian jalan berkerikil.

“Para pengendara motor yang ada di belakangku langsung pada berhenti, lari ngecek kondisiku. Dikira aku mati. Karena dari belakang, yang terlihat aku udah tersambar truk,” ujarnya. Beruntung tidak demikian yang terjadi. Hanya lecet di tubuh Gandika dan motornya saja.

Mobil pribadi suka ngedim tak jelas

Keresahan lain Gandika setiap membawa motor di jalan pantura Surabaya-Semarang adalah kelakuan mobil-mobil pribadi yang suka ngedim-ngedim tidak jelas.

“Misalnya, ada mobil melaju. Dia nggak sedang nyalip siapa-siapa. Cuma dari arah berlawanan di jalur lain memang ada kendaraan. Jadi dalam situasi jalan normal. Terus tiba-tiba ngedim. Lah, mau mencelakakan atau gimana,” gerutu Gandika.

Bedebahnya, para pengendara mobil pribadi yang kerap Gandika temui suka ngedim ketika dari arah berlawanan ada pengendara motor seperti dirinya. Cahaya dim itu jelas saja menyilaukan. Membuat pandangan mata agak kabur.

Iklan

“Justru inilah yang bahaya. Jika mata tidak bisa melihat arah depan, lalu tiba-tiba oleng, nyungsep, atau nabrak, ya kasihan si pengendara motornya,” kata Gandika.

Mengutip Wuling, ada kesalahpahaman penggunaan lampu dim di Indonesia. Seharusnya penggunaan lampu dim adalah saat tidak ada lampu jalan yang membantu penglihatan selama berkendara dan tidak ada kendaraan lain di depan yang tidak memungkinkan pengendara melihat jauh ke depan.

Sedangkan untuk kondisi jalan gelap yang normal dan masih terbantu dengan adanya lampu jalan, pengemudi bisa menggunakan lampu dekat.

Sayangnya, banyak pengendara mobil yang, dalam konteks jalanan pantura Surabaya-Semarang, masih menggunakan lampu dim secara tidak jelas. Masa hanya karena ada motor atau kendaraan melintas di arah lain malah di-dim. Kan sudah benar pada jalurnya?

Jalan pantura Surabaya-Semarang gelap dan berlubang

Keresahan lain diungkapkan oleh Baid (24). Juga asal Rembang. Pemuda yang kerap bermotor baik ke arah Surabaya maupun ke arah Semarang (untuk urusan pindah-pindah tempat kerja).

Sudah berulang kali Baid nyungsep di aspal pantura. Paling baru di daerah Batangan, Pati.

Pada awal 2024 lalu, Baid memacu motor dengan kecepatan 100 km/jam dari Semarang. Setiba di Batangan, motornya melibas sebuah lubang agak besar. Motor Baid oleng, lalu tersungkur. Alhasil, Dari tangan hingga kaki mengalami luka-luka menganga.

“Persoalannya, sepanjang jalan pantura (khususnya Surabaya-Semarang) itu minim lampu penerangan jalan (LPJ). Double kill karena beberapa titik jalannya rusak parah, banyak lubang,” jelas Baid.

Kalau arah menuju Semarang, paling jelek ada di Pati. Sementara jika ke arah Surabaya, ujian jalan rusak dan gelap ada di Tuban (terutama selepas Manunggal) dan Lamongan (menjelang perbatasan Gresik).

Siap-siap velg penyok dan ban jebluk

Saya mengamini apa yang diutarakan oleh Gandika dan Baid. Karena sebagai pengguna jalan pantura (baik ke Surabaya maupun ke Semarang), saya kerap mengalami hal-hal tidak menyenangkan.

Jika berkendara di malam hari, risiko yang paling sering saya dapat adalah ditabrak truk atau bus. Belum lagi risiko nyungsep kena dim mobil yang menyilaukan mata.

Apalagi saya pakai kacamata karena minus. Lampu yang menabrak kacamata saya langsung membuat pandangan saya ambyar.

Risiko menjadi combo ketika hujan lebat. Inilah ujian penyandang mata minus sesungguhnya. Kacamata blur, makin ambyar kena lampu-lampu kendaraan lain, makin tak bisa melihat jalan pula karena gelap.

Sementara kalau berkendara di siang hari pun tidak luput dari risiko. Setiap bawa motor, saya sudah bisa memprediksi, di jalanan mana ban motor saya akan jebluk usai berjibaku dengan lubang-lubang pantura.

Jika ke arah Semarang, ban motor saya sering kali jebluk di daerah Demak. Sementara jika ke arah Surabaya, Lamongan menjadi titik langganan ban motor saya akan jebluk.

Velg motor saya bahkan sudah dua kali penyok di Lamongan. Itulah yang kemudian membuat saya akhirnya lebih sering naik bus ketimbang naik motor di jalan pantura. Sudahlah merusak motor, nyawa pula taruhannya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Memahami Kondisi Sopir Bus Sumber Selamat, Terpaksa Ugal-ugalan di Jalan karena Terhimpit Banyak Persoalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2025 oleh

Tags: Mudikmudik jalur panturapanturaSemarangSurabayasurabaya semarang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO
Catatan

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO
Catatan

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan

6 Maret 2026
Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO
Urban

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

6 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo.MOJOK.CO

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo

6 Maret 2026
Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

3 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

2 Maret 2026
Perang Iran Israel Bikin Nggak Waras, Masih Hidup Aja Syukur MOJOK.CO

Perang Iran Israel Berpotensi Jadi Krisis Global, Kelas Menengah Ikutin Cara Ini Biar Tetap Waras Selama Bertahan Hidup

5 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO

Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Kena Mental demi Bahagiakan Ayah Ibu yang Hanya Lulusan SD hingga Jadi Wisudawan Terbaik

6 Maret 2026
Membongkar “Black Box” Otak Pemimpin Dunia: Trump dan Netanyahu Seharusnya Berendam, Bukan Perang MOJOK.CO

Membongkar “Black Box” Otak Pemimpin Dunia: Trump dan Netanyahu Seharusnya Berendam, Bukan Perang

6 Maret 2026

Video Terbaru

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.