Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kegoblokan saat Merantau di Cikarang: Gaji Kecil Ludes buat Hidupi Preman, Selalu Bohongi Ibu yang Butuh Kiriman

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Juli 2024
A A
Kegoblokan Merantau di Cikarang, Gaji di Bawah UMR malah Menghidup Preman MOJOK.CO

Ilustrasi - Merantau di Cikarang, gaji di bawah UMR malah kena porot preman. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hidup kembang kempis di Cikarang

Gaji cuma Rp2,3 juta di bawah UMR Cikarang, kepotong bayar kos Rp500 ribu, terus kepotong lagi untuk mentraktir preman, tentu saja hidup Shadiq di Cikarang kembang kempis. Pada akhirnya ia harus mensiasati bertaha hidup dengan masak sendiri di kosan.

Ia juga menahan banyak keinginan, entah untuk beli makanan enak atau sekadar membeli jajanan. Kata Shadiq, lucu sekali memang. Keinginannya makan nasi padang kerap tak keturutan, tapi kelewat sering ia membungkuskannya untuk para preman tersebut.

“Mereka (para preman) akhirnya memang akrab denganku. Cuma ya ujung-ujungnya malah nglunjak aja. Kadang saat aku lewat, mereka langsung terang-terangan, “Bos, amer enak kali, Bos.” Akhirnya ya beliin mereka amer,” ujar Shadiq dengan tawa getir.

Alhasil, niat hati membaiki preman agar ia juga balik dibaiki, eh malah jadinya ia diporoti.

Orang tua sendiri tak dikasih uang

Selama setahun merantau untuk kerja di Cikarang, Shadiq tak sekalipun mengirim uang ke rumah sesuai janjinya. Kadang kala ibu Shadiq menanyakan langsung apakah ia ada uang untuk dipinjamkan buat biaya-biaya tertentu.

Shadiq hanya bisa menjawab lemas: mengatakan kalau uangnya sedang ia gunakan untuk banyak keperluan di Cikarang. Ia tak punya keberanian untuk berkata jujur kalau gajinya di bawah UMR dan harus ia gunakan untuk “menghidupi” para preman.

“Malah aku sering kehabisan uang di sana. Kalau habis, utang ke teman-teman lama di Surabaya. Kadang ke temen kerja juga. Ngenes pokoknya,” keluh Shadiq.

Pada beberapa bulan terakhir menjelang akhir 2019, Shadiq sebenarnya sempat tak lagi mengeluarkan uang untuk menraktir para preman. Hal tersebut justru berdampak buruk padanya. Karena sering kali saat lewat, para preman justru menyindir Shadiq: menyebutnya jadi pelit, sombong, dan lain-lain.

“Sampai mengancam sih, nggak pernah. Tapi karena aku sudah mengkis-mengkis hidup di Cikarang, akhirnya memasuki 2020 aku pulang ke Tuban,” kata Shadiq.

Karena pandemi Covid-19, selama 2020 itu Shadiq menganggur. Pun tak ada pekerjaan yang bisa ia garap di Tuban. Sampai akhirnya pada 2021, ia memutuskan untuk mengundi nasib—kembali—ke Surabaya. Ia bekerja pada bagian IT sebuah yayasan—sesuai bidang yang ia tekuni. Sayangnya—hingga sekarang.

“Gajinya cuma Rp2,5 juta. Tetep mengkis-mengkis. Tapi saat ini, itu yang bisa kujalani. Masih bisa kukelola karena nggak bayar kos (tinggal di mess) dan nggak ada nraktir preman-preman lagi,” tutupnya disertai tawa.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Kena PHK Tak Punya Uang hingga Kelaparan Berbulan-bulan, Bertahan Hidup Lewat Donor Darah dan Snak Gratis

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2024 oleh

Tags: cikaranggaji cikarangloker cikaranglowongan kerja cikarangumr cikarang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

cikarang.MOJOK.CO
Ragam

Ironi Cikarang, Favorit Perantau Cari Kerja tapi Banyak Warganya Susah Dapat Kerja: “Nganggur di Negeri 1.001 Pabrik”

10 Juni 2025
cikarang.MOJOK.CO
Ragam

Kerja di Cikarang Tak Seindah Bayangan Orang Lain, Ada Kebusukan Kantor yang Jarang Diketahui

4 Februari 2025
cikarang.MOJOK.CO
Ragam

Kos-Kosan 1.000 Pintu Menjadi “Las Vegas-nya Cikarang” yang Memotret Sisi Gelap Para Pekerja

30 Januari 2025
Kisah Pilu Pemilik Rental Mobil dan Motor, Nyawa Taruhannya! MOJOK.CO
Esai

Kisah Pilu Pemilik Rental Mobil dan Motor: Bos Rental di Cikarang Mati Ditembak, Ketegasan Aparat Dipertanyakan

3 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Vario 150, Motor Honda Terbaik Wujud (Cicilan dan) Kasih Ibu MOJOK.CO

Ada Kasih Ibu di Balik Cicilan Vario 150 yang Terancam Macet karena Jadi Pengangguran: Kisah dan Rasa Takut Saya Bersama Motor Honda Terbaik

21 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Lewat album "Jalan Kaki" - Hifdzi Khoir ceritakan perjalanan hidup, juga sebagai legacy dari mendiang Gusti Irwan Wibowo MOJOK.CO

Album “Jalan Kaki”: Cara Hifdzi Khoir Bercerita tentang Perjalanan Hidup, Jadi Legacy dari Mendiang Gusti

19 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.