Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cerita Mahasiswa UNY yang Berdamai dengan Bapuk dan Ekstremnya Bus Trans Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
27 Februari 2024
A A
Orang Solo Alami Culture Shock dengan Trans Jogja: Armada Tak Layak Pakai, Rute Bikin Mumet, Sopirnya pun Red Flag. BST Masih Jauh Lebih Unggul.mojok.co

Ilustrasi Cerita Mahasiswa UNY yang Berdamai dengan Bapuk dan Ekstremnya Bus Trans Jogja (Mojok)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa mahasiswa UNY menilai bus Trans Jogja itu bapuk banget. Pelayanannya pun juga red flag. Wajar kalau mereka memberi nilai rendah pada transportasi umum andalan Jogja yang super ugal-ugalan ini.

Bagi Tammy Affandi, salah satu warga Jogja, kapok dan trauma adalah dua hal yang ia rasakan tiap kali melihat armada Trans Jogja. Bagaimana tidak, ia pernah punya pengalaman tidak mengenakan yang berakibat fatal dengan bus tersebut.

Tammy mengaku, salah satu armada bus Trans Jogja pernah menabrak anaknya beberapa tahun lalu. Akibatnya, anaknya mengalami patah kaki.

Alih-alih mendapat keadilan, ia malah merasa terintimidasi. Beberapa pihak dari Trans Jogja merasa tersudutkan dan malah ingin mengeroyoknya.

Untung hal-hal yang tidak diinginkan tak kejadian. Meski, di akhir upaya menuntut keadilan itu hanya dibayar dengan uang kompensasi sebesar Rp350 ribu.

Belakangan, aksi ugal-ugalan sopir Trans Jogja kembali terulang. Di X, akun bernama @sakti_alfatah membagikan ceritanya yang hampir tertabrak bus Trans Jogja di sebuah SPBU.

Cerita Mahasiswa UNY yang Berdamai dengan Bapuk dan Ekstremnya Bus Trans Jogja.mojok.co
Tangkapan layar keluhan warga soal Trans Jogja (dok. Jogjaupdate)

Waspadalah kalau ketemu sopir transjogja ini, ugal2an, di spbu hampir nabrak mobil yang saya kendarain. Kenapa mayoritas sopir transjogja pada ugal2an ya?!@sakti_alfattaah
pic.twitter.com/ualKwvLr9h

— jogjaupdate.com (@JogjaUpdate) February 26, 2024

Postingan ini pun mendapat banyak reaksi warganet. Kebanyakan juga berbagi pengalaman buruk mereka bertemu armada super ugal-ugalan tersebut di jalan.

“Pernah naik TJ terus busnya malah nabrak haltenya sendiri. Ya Allah, penumpang mawut ada yang mental, tapi supirnya santai seolah tak terjadi apa-apa.” tulis @bokoslayer, dikutip Mojok, Selasa (27/2/2024).

Sopir Trans Jogja dikejar head-time

Sementara tak sedikit juga netizen yang bertanya-tanya mengapa Trans Jogja seperti menjadi kendaraan yang paling buru-buru di jalanan Jogja. Sehingga, lajunya pun terkesan ugal-ugalan dan membahayakan pengendara lain.

Ombudsman DIY, sebenarnya pernah membuat kajian soal mengapa sopir Trans Jogja terkesan ugal-ugalan dan bikin pengguna jalan geram. 

Kata laporan Ombudsman, salah satu sebab Trans Jogja ugal-ugalan karena ada kebijakan head-time yang diterapkan pengelola.

Pendeknya, head-time itu semacam waktu tempuh untuk sekali putaran di tiap rute.

Artinya, semakin cepat bus sampai di pemberhentian terakhir, maka semakin panjang juga waktu istirahat sopir. Hal ini yang bikin Trans Jogja terlihat sebagai kendaraan yang paling terburu-buru.

Cerita mahasiswa UNY berdamai dengan Trans Jogja karena tak ada pilihan lain

Tak hanya di media sosial, kegeraman warga soal pelayanan red flag Trans Jogja juga terjadi di real life. Salah satunya adalah Widyawati (21), mahasiswa UNY yang tiap hari menggunakan jasa Trans Jogja buat pulang pergi ke kampus.

Iklan

Sebelumnya, Widya pernah membagikan kisahnya soal Trans Jogja dalam liputan “Orang Solo Alami Culture Shock Saat Naik Trans Jogja”. Melalui tulisan tersebut, Widya mengaku alami culture shock, karena Trans Jogja ternyata amat bapuk dan masih jauh levelnya ketimbang transportasi publik asal kota dia, BST Solo.

“Trans Jogja dan BST bagai bumi dan langit,” katanya.

Bagaimana tidak, Widya yang tiap hari menggunakan armada Trans Jogja, tahu betul seluk beluk transportasi ini. Terutama Jalur 2B, armada yang selalu ia pakai untuk balik ke tempat tinggalnya di daerah Miliran, Jalan Kusumanegara, Kota Jogja.

“AC udah tak terlalu sejuk. Jadi kalau pulang ngampus bukannya adem malah gerah dalam bus,” kata Widya. “Mesin juga bikin geter-geter penumpang kalau jalan. Pernah juga suatu jali mogok lho di tengah jalan,” lanjutnya.

Sayangnya, ia harus berdamai dengan situasi ini karena tak ada pilihan lain. Kata dia, jika terus mengandalkan ojek online, maka biaya yang dia keluarkan bisa 2-3 kali lebih banyak.

Ugal-ugalan dan jalurnya bikin mumet

Selain armada yang bapuk, rute Trans Jogja pun juga terkesan ruwat. Menurutnya, rute yang harusnya sederhana malah dibikin muter-muter tak jelas.

Ia pernah mencontohkan. Misalnya, pada rute BST Solo antara rumahnya di Mendungan, Kecamatan Kartasura ke sekolahnya di SMA Negeri 2 Surakarta, Jalan Monginsidi, Kota Surakarta, rutenya jelas. Meski jaraknya 7,5 hanya dibutuhkan waktu tempuh 10 menit karena rutenya jelas dan sederhana.

Sementara saat menggunakan Trans Jogja,  ia yang tiap hari berangkat dari Halte SGM Kusumanegara ke UNY rata-rata membutuhkan waktu tempuh antara 20-30 menit. Padahal, jaraknya kurang dari 4 kilometer.

“Ya gara-gara muter dulu ke Kridosono, Panti Rapih lah,” ujar Widaya.

Menurut mahasiswa UNY, selain rute yang ruwet dan muter-muter, supir yang ugal-ugalan bikin dia merasa tak secure. Bus yang kebut-kebutan, hampir kecelakaan, hingga sopir misuh-misuh, adalah pengalaman pahit yang sudah jadi makanan sehari-harinya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Cerita Mahasiswa UGM Jadi Joki Prakerja Demi Biaya Kuliah, Hasil Sebulan Dua Kali UMR Jogja

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 27 Februari 2024 oleh

Tags: busJogjamahasiswa UNYTrans Jogjauny
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO
Edumojok

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO
Edumojok

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO
Bidikan

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

tan malaka.MOJOK.CO

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.