Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

“Jatuh, Bangkit Kembali”: Lagu HiVi! yang Jadi Soundtrack Hidup Mahasiswa Kedokteran UGM Melawan Badai Kehidupan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
28 Juli 2025
A A
mahasiswa kedokteran ugm.MOJOK.CO

"Jatuh, Bangkit Kembali": Lagu HiVi! yang Jadi Soundtrack Hidup Mahasiswa Kedokteran UGM Melawan Badai Kehidupan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi Catur Rahayu Widyaningrum (22), lagu “Jatuh, Bangkit Kembali” dari band HiVi! bukan sekadar alunan melodi biasa. Lebih dari itu. Lagu ini adalah soundtrack hidup bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM tersebut, terutama di momen-momen krusial yang membentuk dirinya saat ini.

Bagi perempuan asal Buleleng, Bali ini, lagu tersebut menjadi melodi yang mengiringi perjuangannya bangkit dari keterpurukan yang kerap mendera.

“Kalau lagi lelah sama hidup, dengerin lagu HiVi! kayak pengingat bahwa kita boleh istirahat sejenak, tapi habis itu harus gerak lagi karena hidup tetap berjalan,” katanya kepada Mojok, Jumat (25/7/2025).

Suaranya memang terdengar lembut. Namun, ada ketegasan di baliknya.

“Bahkan di momen paling terpuruk dalam hidupku, saat ayah meninggal, lagu ini kayak ngomong ke aku, ‘Oke, nggak apa-apa nangis, tapi habis ini kamu harus bangkit lagi’,” imbuhnya, dengan tatapan mata yang berkaca-kaca dan napas yang sedikit tertahan.

Kuliah Kedokteran demi Sang Ayah

Perjalanan Widya menuju bangku kuliah kedokteran di UGM memang tidaklah mudah. Datang dari keluarga sederhana di Panji, sebuah desa di Kecamatan Sukasada, Buleleng, ia harus berjuang ekstra keras.

Meski ayahnya seorang PNS, bukan berarti hidupnya serba berkecukupan. Gaji sang ayah sangat pas-pasan, apalagi dia merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga.

Namun, itu bukan alasan untuk berhenti berjuang menggapai mimpi besarnya: kuliah kedokteran di UGM. Alasannya ingin menjadi mahasiswa kedokteran UGM pun sederhana: agar bisa menyembuhkan sang ayah yang menderita diabetes.

Sayangnya, setelah lulus SMA pada tahun 2022, Widya sempat mengalami kegagalan dalam seleksi masuk universitas dan memutuskan untuk mengambil gap year.

mahasiswa kedokteran ugm.MOJOK.CO
Alasan Widya ingin menjadi mahasiswa kedokteran UGM: karena ingin menyembuhkan ayahnya yang menderita diabetes. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Selama setahun penuh, ia belajar mandiri tanpa bimbingan belajar karena keterbatasan dana. Momen-momen ini yang ia sebut sebagai “momen jatuh pertama”.

“Aku benar-benar merasakan jatuh, terpuruk, ya saat itu,” kenangnya. “Setiap malam, aku bertanya-tanya, apakah aku memang cukup pintar? Apakah aku bisa mewujudkan mimpi ini dengan segala keterbatasan?”

Namun, bagi Widya, Tuhan memang Maha Baik. Ia senantiasa mengabulkan doa umatnya yang telah bekerja keras. Pada 2023, Widya berhasil “bangkit” kembali setelah diterima di UGM melalui jalur SNBT.

Ketika Kehilangan Mengubah Arah Mahasiswa Kedokteran UGM

Namun, “jatuh” yang sesungguhnya datang menghantam ketika sang ayah meninggal dunia pada 22 September 2024 akibat diabetes. Hanya setahun setelah ia berhasil menggapai mimpi kecilnya kuliah di Fakultas Kedokteran UGM.

Kehilangan sosok ayah, yang juga menjadi salah satu alasannya memilih kedokteran, sempat membuat Widya merasa sangat terpukul.

Iklan

“Jujur, aku begitu hancur, karena ayah adalah salah satu alasan utamaku mengambil kedokteran,” ujarnya.

Ada rasa kesal dan marah, mengapa ia belum bisa mewujudkan impiannya untuk membantu sang ayah sebelum kepergiannya. Beban penyesalan yang mendalam menghimpit dadanya, seperti terbebani batu besar.

Ia sering membayangkan kalau saja saat itu ia sudah berilmu, mungkin ayahnya bisa tertolong.

Namun, di tengah duka yang menganga, Widya merenungkan kembali tujuan hidupnya. Ia menyadari bahwa manfaat yang bisa diberikannya tidak hanya untuk diri sendiri atau keluarga, tetapi juga untuk lebih banyak orang.

“Setelah renungan itu, kembali lagi motivasiku,” tegasnya, nada suaranya kini lebih mantap, seolah menemukan pijakan baru.

Perasaan “ingin balas dendam” terhadap apa yang terjadi pada ayahnya pun berubah menjadi semangat yang membara untuk mengedukasi masyarakat dan melakukan promosi kesehatan. Ini adalah “kebangkitan” yang paling bermakna baginya.

mahasiswa kedokteran UGM, tanoto foundation.MOJOK.CO
Widya dan teman-temannya unjuk saat perform di acara Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2025. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Pelaut Hebat dan Badai Hidup Widya

Lagu “Jatuh, Bangkit Kembali” dari HiVi! bukan sekadar pengiring di playlist Widya, melainkan cerminan nyata dari setiap fase jatuh dan bangkit dalam hidupnya. Liriknya yang sederhana tapi dalam—seperti bisikan seorang teman di kala sendu:

Sadarlah yang terjadi dalam hidupmu,

Tak selalu semudah itu,

Berjalan mengikuti keinginanmu.

Jangan putus asa dahulu,

Karena pelaut hebat, tak pernah lahir di laut yang tenang.

Hai kawan, teruslah kau berjuang.

Bagi mahasiswa kedokteran UGM ini, bagian “Karena pelaut hebat tak pernah lahir di laut yang tenang” adalah inti dari segalanya. Kalimat itu melukiskan dengan sempurna perjalanan penuh gejolak yang telah ia lalui.

“Lirik itu seperti tamparan sekaligus pelukan hangat,” ungkapnya, senyum tipis terukir di bibirnya. “Ia mengingatkanku bahwa semua kesulitan, semua kegagalan, itu bagian dari proses membentuk diriku menjadi lebih kuat. Kalau hidupku mulus-mulus saja, mungkin aku tidak akan sekuat dan seberani sekarang.”

Ia melihat dirinya sebagai pelaut yang sedang ditempa badai, belajar menavigasi setiap ombak kehidupan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by HIVI! (@sayhivi)


Lirik lain yang tak kalah mengena adalah:

Kita semua boleh jatuh,

Tapi harus bangkit, bangkit bangun kembali.

Janganlah kau berlari dari semua masalah,

Yang menghadapimu.

Cobalah kau hadapi dengan senyuman,

Tenangkan hati dan pikirmu.

“Bagian itu selalu muncul di kepalaku saat aku merasa ingin menyerah,” kata Widya. “Terutama saat menghadapi ujian yang tebalnya seperti kamus, atau harus berjaga di lab sampai dini hari. Rasanya seperti mau ‘jatuh’,” ibaratnya.

Namun, seperti yang lirik itu katakan, ia tidak pernah lari. Setiap kali dorongan untuk menyerah datang, lirik itu seolah menahannya, mengingatkan bahwa kekuatan sebenarnya ada pada kemampuan untuk menghadapi dan bangkit kembali.

Lagu ini, bagi Widya, adalah penopang yang selalu ada di setiap titik lelah. Menjadi simbol ketahanan dan harapan yang tak pernah padam.

Mahasiswa Kedokteran UGM yang Berjanji untuk Menyembuhkan dan Menginspirasi

Pengalaman pahit yang pernah Widya alami semakin memacu semangatnya. Ia menyadari bahwa penyakit seperti diabetes dan hipertensi, yang banyak diderita oleh keluarga besarnya, tidak hanya merugikan penderita, tetapi juga orang-orang terdekat, termasuk keluarga.

Dengan bekal ilmu dari Fakultas Kedokteran dan pengalamannya di proyek sosial kesehatan, Widya berencana fokus pada isu diabetes dan hipertensi di Jogja, yang menurut pengamatannya masih tinggi kasusnya.

Ia ingin mengedukasi masyarakat, menggaungkan pola hidup sehat, dan melakukan screening kesehatan agar deteksi dini dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Untungnya, Widya tidak sendirian. Dukungan dari ibu dan kakak perempuannya, serta beberapa teman dekat di kampus, menjadi pilar kekuatannya.

“Mereka selalu mengingatkanku untuk istirahat, untuk tidak memaksakan diri,” ujarnya mahasiswa kedokteran UGM ini dengan senyum tipis.

Perjalanannya menuju mimpi kini semakin mulus berkat Program Beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation. Bantuan biaya kuliah dan pelatihan soft skill yang diterimanya menjadi dukungan krusial yang bikin Widya semakin bersemangat untuk menggapai mimpi dan “membalas dendam pada nasibnya” dengan cara yang positif: menjadi dokter yang bermanfaat bagi sesama.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sheila on 7 Menjadi Legenda Bukan Hanya karena Musik, tapi Juga Fashion Mereka yang Sederhana dan Membuat Fans Merasa Dekat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2025 oleh

Tags: mahasiswa kedokteran ugmmahasiswa ugmpilihan redaksiprogram beasiswa teladantanoto foundationUGM
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO
Tajuk

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Kuliah di Universitas Terbuka (UT) menjadi pilihan yang disyukuri oleh Gen Z. Meski diremehkan tapi dapatkan jawaban konkret untuk kebutuhan MOJOK.CO

Kuliah di Universitas Terbuka (UT), Meski Diremehkan tapi bikin Gen Z Bersyukur karena Beri Jawaban Konkret untuk Kebutuhan

18 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.