Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Asrama Kecil di Kudus yang Menumbuhkan Mimpi Besar Anak-Anak

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 November 2025
A A
lksa darussalamah.MOJOK.CO

Ilustrasi - Asrama Kecil di Kudus yang Menumbuhkan Mimpi Besar Anak-Anak Kurang Beruntung (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada asrama kecil di Kabupaten Kudus yang menjadi tempat bagi mimpi besar anak-anak dibangun. Namanya LKSA Darussalamah. Di tempat ini, anak-anak punya jalan untuk tetap berprestasi meski hidup dalam keterbatasan.

***

Selepas salat ashar, suara anak-anak yang melantunkan ayat Al-Qur’an terdengar nyaring di asrama kecil sudut Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Namun, di antara mereka, ada seorang remaja yang tampak unik. Ia beberapa kali mengucapkan kalimat-kalimat dalam Bahasa Jepang dengan amat fasih. 

Namanya Haedar Fachri Al Hafd, siswa kelas sebelas MAN 1 Kudus. Sehari-harinya, ia tinggal di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darussalamah, sebuah panti sosial di bawah naungan pesantren kecil di pinggir kota Kudus. Sejak duduk di SMP, Haedar “mondok” di sini karena ibunya di Tangerang Selatan tidak lagi sanggup membiayai sekolahnya.

Namun, keterbatasan itu justru menyalakan semangatnya. Selama di Kudus, ia malah jadi punya waktu untuk mempelajari minatnya, yakni belajar bahasa asing. Kini, ia cukup fasih berbahasa Jepang, Arab, Inggris, dan Indonesia, serta tengah mencoba-coba belajar bahasa Mandarin. 

“Awalnya cuma penasaran,” katanya suatu sore, Selasa (28/10/2025). “Dulu mikir unik, kok bisa huruf Jepang mirip gambar aneh, tapi bisa dibaca.”

Tak cuma sekadar menguasai bahasa asing. Berkat kemampuan bahasanya itu, ia beberapa kali dipercaya mewakili sekolah dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Memang, Fachri belum sempat naik podium, tapi bagi pengasuhnya, Julal Umam, prestasi itu sudah cukup membanggakan. 

“Fachri itu bukti bahwa anak panti juga bisa berprestasi,” ujar Umam, yang menjadi pengasuh LKSA Darussalamah, saat ditemuai Mojok.

LKSA Darussalamah punya sejarah panjang

Umam mengingat, lembaga yang kini ia asuh memiliki sejarah panjang. Jauh sebelum disebut “LKSA”, kegiatan sosial di kampungnya sudah berlangsung sejak 1984. Kala itu, sejumlah tokoh masyarakat rutin mengadakan santunan untuk anak yatim setiap bulan Muharram. Salah satunya adalah Nasir Aswan, pendiri awal Yayasan Darussalamah.

“Dulu di sini belum ada bangunan apa-apa,” tutur Umam. “Cuma tanah kosong di belakang masjid, kadang dipakai kumpul kalau ada acara,” imbuhnya, sambil menunjuk bangunan yang kini sudah berdiri sebuah asrama tempat tinggal anak asuh LKSA Darussalamah.

lksa darussalamah.MOJOK.CO
Julal Umam, anak salah satu pendiri yayasan sekaligus pengasuh LKSA Darussalamah Kudus. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Baru pada 1994, lahan untuk panti dibeli dari warga. Pembangunan dimulai dua tahun kemudian, meski sempat tersendat akibat krisis moneter 1997-1998. Hingga akhirnya pada 2001, panti asuhan itu resmi berdiri dan menampung 15 anak pertama.

Dari situ, Darussalamah tumbuh perlahan. Tahun 2010 jumlah anak asuh mencapai 60 orang. Kini, setelah berganti status menjadi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), jumlahnya sekitar 19 anak, terdiri dari putra dan putri usia SD hingga SMA. Dalam beberapa tahun terakhir, Djarum Foundation juga memberi support kepada lembaga ini, baik itu berupa bantuan fasilitas maupun pelatihan bagi pengasuh.

Namun, perubahan nama ini bukan sekadar administratif. Umam menegaskan, LKSA bukan hanya tempat tinggal anak yatim. Ia menyebut Darussalamah sebagai “rumah pendidikan”.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya diurus makannya, tapi juga disiapkan masa depannya,” katanya. 

Iklan

Oleh karena itu, sistem kurikulum di Darussalamah memadukan dua dunia: pola pesantren dan pendekatan sosial. Setiap pagi anak-anak bangun untuk mengaji, lalu berangkat sekolah. Sore hari mereka kembali belajar bersama. Malamnya, selepas isya, mereka membaca buku, berdiskusi, atau sekadar mengulang pelajaran. 

“Kalau di pesantren belajar agama saja. Kalau di sini, ngaji iya, tapi pengetahuan umum juga jalan,” katanya sambil tersenyum.

lksa darussalamah.MOJOK.CO
Di dapur asrama LKSA Darussalamah yang terletak di halaman belakang, anak-anak tengah gotong royong membersihkan air hujan yang masuk. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Umam mengaku belajar banyak dari program bimbingan belajar bagi para pengasuh LKSA yang diselenggarakan Bakti Sosial Djarum Foundation (BSDF). Ia, secara intensif, memang mengikuti program tersebut. Hasilnya, adalah cara pandangan yang berbeda dalam melihat potensi dan karakter para asuh. 

“Kurikulum Kehidupan”

Gambaran nyata dari hasil program bimbingan belajar BSDF, yakni Umam bisa merumuskan “kurikulum” ajar yang sesuai dengan anak asuhnya di LKSA Darussalamah. LKSA ini memang tidak memiliki kurikulum baku seperti sekolah. Namun, Umam selaku pengasuh menanamkan semangat yang sama: menemukan minat anak, lalu memfasilitasinya. 

Ia kemudian mendefinisikannya sebagai “kurikulum kehidupan”.

“Yang saja pelajari dari pelatihan tersebut, pendamping itu fasilitator, bukan pengatur,” ujarnya. “Kami bantu mereka sesuai apa yang disukai.”

Jika ada anak yang gemar akademik, LKSA menyiapkan bimbingan belajar. Bagi yang tertarik pada keterampilan, mereka difasilitasi praktik kecantikan, tata boga, atau kerajinan. Salah satu contohnya Siti Hajar. Berkat ketekunan dan prestasi akademiknya, ia mendapatkan beasiswa dari Bakti Sosial Djarum Foundation (BSDF) untuk sekolah di jurusan kecantikan SMK PGRI 1 Kudus.

“Dia memang jadi contoh anak yang rajin,” cerita Umam. “Kami hanya memberi ruang dan dorongan.”

lksa darussalamah.MOJOK.CO
Siti Hajar, salah satu anak asuh di LKSA Darussalamah yang menerima beasiswa pendidikan Bakti Sosial Djarum Foundation di SMK PGRI 1 Kudus Jurusan Kecantikan. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Pola sederhana itu membuahkan hasil. Anak-anak terbiasa belajar tanpa disuruh, saling membantu, bahkan membuat catatan belajar bersama di malam hari.

LKSA Darussalamah lebih dari sekadar panti

Perubahan semangat belajar di LKSA Darussalamah juga diakui oleh Farid Noor Romadlon, dosen FKIP Universitas Muria Kudus. Ia merupakan koordinator mentor dalam Kegiatan Bimbingan Belajar yang diselenggarakan oleh Bakti Sosial Djarum Foundation.

“Kalau boleh saya jelaskan,” kata Farid, “panti asuhan dan LKSA itu berbeda.”

Menurutnya, panti asuhan tradisional cenderung fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makan, tempat tinggal, dan biaya sekolah. Sementara LKSA punya misi lebih luas: mendampingi tumbuh kembang anak secara akademik, emosional, sosial, dan spiritual.

“Anak-anak tidak sekadar ‘tinggal’ di sini. Mereka dibimbing untuk mengenali potensi dan diarahkan agar mandiri.”

lksa darussalamah.MOJOK.CO
LKSA Darussalamah juga memelihara beberapa kambing. Tiap pagi dan sore, anak-anak bergiliran memberi makan. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Farid menyebut pendekatan yang dipakai LKSA Darussalamah bersifat humanis dan individual. Setiap anak datang dengan latar belakang berbeda. Ada yang kehilangan orang tua, ada yang mengalami trauma, ada pula yang minder karena kemiskinan.

“Makanya, kami tidak bisa langsung memaksa mereka belajar. Yang utama itu membuat mereka merasa aman dan dicintai dulu.”

Dari situ, tumbuh kebiasaan kecil yang bermakna: anak-anak mulai belajar dengan kesadaran sendiri, membuat target, bahkan saling jadi tutor bagi teman-temannya. 

“Yang dulu pasif, sekarang malah jadi penggerak,” ujarnya.

Hasilnya bukan hanya pada nilai rapor. Suasana belajar di LKSA kini jauh lebih hidup dari sebelumnya. Anak-anak mulai berani bermimpi: ada yang ingin kuliah di jurusan pendidikan, ada yang ingin bekerja di bidang tata rias, bahkan ada yang bercita-cita menjadi guru bahasa.

Farid mengaku, perubahan sikap ini justru jauh lebih berharga daripada angka nilai. “Sekarang mereka punya arah dan kepercayaan diri. Itu langkah awal menuju kemandirian.”

lksa darussalamah.MOJOK.CO
Beberapa anak tengah bersiap memasak mi instan di sore yang hujan. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Julal Umam merasakan hal yang sama. Setiap kali melihat anak-anak asuhnya saling membantu belajar, ia merasa lega. 

“Saya ingin mereka tumbuh jadi anak yang mandiri. Jangan sampai keluar dari sini malah jadi beban keluarga.”

Rumah kedua yang menumbuhkan harapan

Sore itu, azan maghrib berkumandang di tengah hujan yang mulai deras. Anak-anak asuh di LKSA Darussalamah pun berbondong-bondong untuk melaksanakan salat berjamaah. Di momen tersebut, Fachri masih sempat mengajari saya beberapa kata dalam Bahasa Jepang, yang katanya, berguna kalau nanti tiba-tiba saya punya rezeki liburan ke Negeri Sakura itu.

Bagi sebagian orang, panti asuhan sering dipandang sebagai tempat bagi anak-anak yang kehilangan rumah. Namun, bagi Fachri, Julal Umam, dan anak asuh LKSA Darussalamah lainnya, tempat ini justru menjadi rumah dalam arti yang paling sejati. Ia adalah tempat di mana anak-anak belajar menemukan arti keluarga, bukan sekadar tempat bernaung.

Di sana, mereka belajar arti tanggung jawab lewat hal-hal sederhana. Dan, menurut Umam, di tempat sederhana itu pula, mimpi-mimpi kecil dirawat dengan kesabaran. Setiap anak diajari untuk tidak takut bermimpi lebih tinggi. 

“Mereka mungkin tak lahir dari keluarga berkecukupan, tapi di Darussalamah mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa masa depan bisa dibangun dari tekad,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sebuah Tempat di Tengah Pedesaan Pati yang Menempa Anak-anak “Tak Beruntung” Jadi Penghafal Al-Qur’an nan Melek Zaman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Desember 2025 oleh

Tags: anak berprestasikuduslksa darussalamahlksa darussalamah kuduspilihan redaksiPondok Pesantren
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Andai Ibu tidak menikah dengan ayah.co
Seni

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang MOJOK.CO

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

6 Januari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Derita anak bungsu. MOJOK.CO

Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah

9 Januari 2026
foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.