Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Daerah Lakarsantri Surabaya Barat seperti Hidup di Zaman Dulu, Meski Sekelilingnya Makin Gemerlap

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 Januari 2025
A A
Lakarsantri seperti hidup di zaman dulu meski Surabaya Barat makin gemerlap MOJOK.CO

Ilustrasi - Lakarsantri seperti hidup di zaman dulu meski Surabaya Barat makin gemerlap. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tempat tumbuhnya sosok Adipati Sawunggaling

Inisiator dari Kampung Legenda adalah Sugeng Heri Kuswanto—akrab disapa Wawan—yang sekaligus merupakan Ketua RT 5 RW 2 Lidah Kulon.

Kenapa Kampung Legenda? Wawan menjelaskan, Lakarsantri sendiri merupakan wilayah yang lekat dengan sosok Joko Berek alias Adipati Sawunggaling. Dia dipercaya menjadi orang yang babat alas wilayah Surabaya Barat.

Makam Adipati Sawunggaling pun terletak tidak jauh dari Kampung Legenda. Tepatnya di Lidah Wetan, Lakarsantri. Selama ini, nama Sawunggaling pun telah menjadi ikon bagi Lakarsantri.

Bukan tanpa alasan kenapa masyarakat sekitar begitu bangga menyematkan Sawunggaling dalam identitas kultural mereka. Sebab, semasa hidup, Adipati Sawunggaling dikenal sebagai orang jujur, gagah, dan berani.

“Sebenarnya tidak hanya sejarah itu saja yang mau kami tunjukan. Tetapi ingin membuat kampung yang bisa menjawab tantangan kegelisahan warganya. Pertama, tentang ekonomi, di mana banyak warga yang berdagang tapi hanya terbeli oleh warga sekitar. Secara ekonomi pendapatannya hanya segitu saja,” jelas Wawan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/1/2025).

Agar orang mengenal sejarah kotanya

Kegelisahan lain, Wawan merasa sarana edukasi terhadap anak muda Surabaya masing terbilang kurang. Maka, harapannya, Kampung Legenda bisa menjadi salah satu ruang itu: membuat anak muda lebih aware dengan sejarah kotanya sendiri.

“Dari kegelisahan itu, kami mengkonsep satu wilayah yang bisa berdikari secara ekonomi dan berkarya di bidang budaya,” terang Wawan.

“Artinya, dengan budaya yang dimiliki memperkenalkan ke anak muda, sehingga mereka bisa belajar dan sekaligus membuat kontennya,” imbuhnya.

Belanja dengan koin tempo dulu

Proses transaksi jual-beli di UKM Kampung Legenda, Lakarsantri, Surabaya Barat, pun dibuat ala-ala tempo dulu.

Wawan menjelaskan, pembeli harus menukar uangnya dengan kepeng (koin tempo dulu). Kepeng itulah yang kemudian bisa digunakan untuk melakukan transaksi selama di Kampung Legenda.

Kampung Legenda benar-benar ingin membawa pengunjung kembali ke tempo dulu. Menepi sejenak dari gemerlap Surabaya. Maka, sistem perdagangan pun harus diikutkan dengan nuansa tempo dulu, tidak hanya pada aspek arsitektural belaka.

“Sebenarnya untuk pembayaran menggunakan kepeng masih kami lakukan uji coba dan evaluasi. Nantinya, apa yang paling baik akan kami terapkan, pembayaran menggunakan uang atau kepeng,” beber Wawan.

“(Sementara) Untuk pasar sendiri dibuka di minggu pertama dan ketiga di setiap bulan,” jelasnya.

Pasar di Kampung Legenda sengaja dibuka hanya di minggu pertama dan ketiga tiap bulan karena lokasi pasar merupakan akses jalan warga. Jika buka setiap hari, maka berpotensi mengganggu mobilitas warga setempat.

Iklan

Kendati begitu, Kampung Legenda sendiri masih bisa dikunjungi setiap hari. Karena pada prinsipnya memang untuk edukasi.

Karena pasar hanya buka di minggu pertama dan ketika, alhasil ketika buka, kata Wawan, suasananya terkesan sangat ramai dan guyub.

Penghasilan penjual teh bisa Rp500 ribu-Rp700 ribu per hari

Lebih lanjut, Wawan mengatakan, pihaknya berencana akan menambah berbagai spot baru sebagai daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Kampung Legenda, Lakarsantri. Rencana tersebut termasuk mengabungkan wisata antara Lidah Kulon dan Lidah Wetan.

“Kami berharap bisa memiliki Surabaya Barat berbudaya, masing-masing kelurahan menampilkan wisatanya. Kebetulan kampung saya mengangkat Kampung Legenda yang perkembangannya sampai wisata air di Waduk Slamet. Itu projek selanjutnya kerjasama kami dengan Pemkot Surabaya sebagai bentuk intervensi,” papar Wawan.

Selain itu, Wawan berharap perbaikan dan penambahan yang dilakukan nantinya bisa semakin meningkatkan kunjungan wisatawan untuk ke Kampung Legenda. Sehingga ekonomi masyarakat semakin berkembang.

“Setelah berjalan sejauh ini, dampak ke masyarakat sangat signifikan secara ekonomi. Misalnya saja penjual teh, dalam sehari penghasilannya berkisar Rp200 ribu. Tetapi kalau ada acara bisa mencapai Rp500 sampai Rp700 ribu,” tandas Wawan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Menganti Gresik bikin Pusing: Tak Mau Disebut Gresik, Tapi kalau Ngaku-ngaku Surabaya Banyak yang Tak Terima atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2025 oleh

Tags: kampung wisata surabayalakarsantripilihan redaksiSurabayasurabaya barat
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.