Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Menjemput Rezeki di Antara Pusara Kembang Kuning Surabaya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
1 November 2024
A A
Warung di atas makam Kembang Kuning Surabaya. MOJOK.CO

ilustrasi warung di atas makam Kembang Kuning Surabaya. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Makam Kembang Kuning santer terdengar bagi masyarakat Kota Surabaya. Tempatnya horor, bukan karena ada hantu. Teman laki-laki saya kebanyakan takut karena digoda para transpuan yang sering mangkal di sana. 

Letak Makam Kembang Kuning Surabaya dekat dengan Dolly, lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara pada zamannya. Namun, pusat prostitusi itu resmi ditutup sejak tahun 2014.

Iklan

Kondisi Dolly sekarang berubah menjadi jalanan biasa, tapi berbeda dengan area Makam Kembang Kuning Surabaya. Saya melihat warung-warung berjejer di atas pusara. 

Alih-alih menghabiskan malam minggu di kafe, saya nongkrong di sana bersama teman-teman. 

Mendengarkan tembang Jawa sambil ngopi di tengah makam

Saya melintasi jalan utama makam Kembang Kuning karena ada pencahayaan. Area makam sangat gelap. Warung-warung biasanya terletak di pinggir jalan dekat makam.

Salah satu pedagang warung di makam. MOJOK.CO
Salah satu pedagang warung di makam. (Mojok.co/Aisyah A. Wakang)

Saya memutuskan nongkrong di warung milik Indrawati (46) dekat gapura “Selamat Datang”. Ada tiga orang bapak-bapak yang asyik ngopi sambil mendengarkan tembang Jawa. 

Tak jauh dari sana, salah satu transpuan duduk agak bersembunyi sambil menunggu pelanggan. Indrawati bilang tak ada masalah. Kami bebas duduk di mana saja.

Saya kemudian memesan es teh, sambil melihat sekitar Makam Kembang Kuning Surabaya. Sembari menunggu pesanan, saya menengok pohon kamboja sedang bermekaran di bawah bulan Purnama. Untungnya, lagu tembang Jawa membuat suasana tidak terlalu sunyi.

Meraup untung di atas pusara makam Kembang Kuning

Indrawati sudah setengah tahun membuka warung di Makam Kembang Kuning Surabaya. Dia bercerita makin malam warungnya makin ramai. Dia sendiri buka sejak pukul 17.00 WIB hingga 03.00 WIB. 

Para pelanggan biasanya memesan minuman. Dia juga menjual gorengan seperti, tahu, pisang, dan tela. Harganya murah, tidak sampai Rp5 ribu. 

Barang dagangan penjual warung. MOJOK.CO
Barang dagangan penjual warung. (Mojok.co/Aisyah A. Wakang)

“Ibu kalau kulakan itu tak penuhi semua, 2 sampai 3 minggu, tapi dapatnya sehari nggak sampai modal,” kata Indrawati kepada Mojok di Makam Kembang Kuning, Sabtu (26/10/2024).

Penghasilannya tidak tentu. Kadang-kadang, dia bisa mendapat Rp30 ribu hingga Rp50 ribu dalam sehari. Kalau sedang ramai, dia bisa mendapat keuntungan Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Itu pun jarang.

Cuaca juga memengaruhi penghasilan Indrawati. Dia harus menutup warungnya jika Surabaya hujan lebat. Dia pernah terpeleset karena pusara makam yang licin, dan sela-sela makam yang berlubang tergenang banjir. Kalau gerimis, dia masih bisa mengakalinya dengan memasang terpal.

Terjerumus menjadi PSK

Indrawati hanya lulusan SD. Dia sudah menikah sejak usia 12 tahun. Orang tuanya menjodohkan dia dengan orang dewasa. Dia tak bisa mengelak saat itu. Sesuai doktrin Jawa, anak harus patuh terhadap orang tua. 

Iklan

“Usia segitu saya bahkan nggak tau namanya pacaran. Baru tau, mens itu apa, tapi kan ibu harus nurut sama orang tua. Ibu nggak pernah seneng (menikah),” kata dia. 

Suami Indrawati kemudian selingkuh, dia jadi jarang pulang ke rumah. Indrawati mengalah, sebab tahu, istri kedua dari suaminya sedang mengandung. 

Indrawati harus memutar otak untuk menghidupi lima orang anaknya. Dia mulai merantau di berbagai kota, hingga akhirnya mengadu nasib di Surabaya. 

Salah satu pedagang warung di Kembang Kuning Surabaya. MOJOK.CO
Salah satu pedagang warung di Kembang Kuning Surabaya. (Mojok.co/Aisyah A. Wakang)

“Saya pergi ke Dolly, tapi saat saya datang tempat itu sudah tutup,” kata pedagang warung di Makam Kembang Kuning Surabaya itu.

Melalui kenalannya di sana, Indrawati terjerumus menjadi seorang PSK. Yang ada di dalam benaknya saat itu hanyalah mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Waktu iku sing penting aku isok nyekolahno anak-anaku, Mbak, (Waktu itu yang penting saya bisa memasukkan sekolah anak-anak saya),” ucapnya.

Indrawati merasa bertanggung jawab sebagai ibu. Dia rela menerjang segala rintangan demi anak-anaknya. 

Tak perlu bayar sewa bikin warung di Makam Kembang Kuning

Indrawati memutuskan berhenti menjadi PSK. Anak-anaknya yang sudah dewasa menasihatinya agar mencari pekerjaan yang lebih baik. Dia pun ingin berubah.

“Yo bukane ibu iki sok suci, wong ibu iki yo bekase wong nggak jelas. Ibu yo guduk wong apik kok, nggak onok manusia sing sempurna. Tapi yo iki mau, ibu pingin berubah, (Bukannya ibu sok suci, tapi ibu juga pernah kerja yang tidak jelas. Ibu juga bukan orang baik kok, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi ya itu tadi, ibu ingin berubah),” ujarnya.

Sembari bekerja serabutan, dia juga membuka warung di Kembang Kuning Surabaya saat malam. Mayoritas anak-anaknya juga sudah berkeluarga. Dia selalu menyempatkan waktu untuk bertemu mereka di hari Minggu.

Barang dagangan penjual warung bersandingan dengan makam. MOJOK.CO
Barang dagangan penjual warung bersandingan dengan makam. (Mojok.co/Aisyah Amira Wakang)

Indrawati mengaku senang-senang saja berjualan di Makam Kembang Kuning Surabaya, sebab tidak harus membayar sewa. Dia juga mengaku tidak pernah digusur satpol PP karena sudah ada kesepakatan.

“Kalau satpol PP tidak mengobrak warung, Nak. Asal ibu tidak ikut kerja sebagai PSK. Satpol PP ngobraknya PSK, kalau warung ini punya jadwal sendiri,” ucapnya.

Berjualan sambil merawat Makam Kembang Kuning

Sejak kecil, tongkrongan Indrawati memang di makam. Dia mengaku tidak punya pengalaman seram, seperti melihat hantu. Kematian baginya adalah takdir dari Sang Kuasa. 

“Ibu malah wedi ambek menungso, opo mane menungso mendem. Wah, ibu bakal mlayu disik. Pentung, lading, tak cepakno, (Ibu justru takut dengan manusia mabuk, wah, ibu bakal lari duluan. Alat pentungan, pisau sudah siap),” ucapnya sambil tertawa.

Indrawati bukannya tidak takut berjualan di atas makam. Bukan karena suasananya yang horor, tapi takut pamali mengganggu orang yang sudah mati.

salah satu makam yang disulap menjadi dapur. MOJOK.CO
salah satu makam yang disulap menjadi dapur. (Mojok.co/Aisyah A. Wakang)

Menurut dia, budaya orang Islam Jawa dan Kristen Tionghoa berbeda. Andaikan makam-makam di Kembang Kuning Surabaya milik orang Jawa, tentu dia tidak berani.

Meski begitu, agar tidak kualat, dia sering mendoakan jasad mereka. Indrawati juga membersihkan makam-makam di sekitar warungnya.

Keluarga atau kerabat yang datang biasanya meminta perawatan makam tiap satu tahun sekali. Indrawati biasanya dapat upah sebanyak Rp150 ribu hingga Rp200 ribu atas jasanya.

“Yang pelit banget ya ada, namanya manusia. Kuburan ini bahkan ada izinnya dari kepolisian,” kata dia.

Makam Kristen Tionghoa sendiri terbilang mahal. Indrawati menunjukkan salah satu makam yang sudah dia sulap menjadi “dapur”. Dia bilang harga pusara makam itu sekitar Rp7 juta, belum dengan biaya sewa tanah. Sungguh jauh dengan pendapatannya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jejak Perempuan Kembang Kuning Surabaya: Para Perempuan Malam yang Mengadu Nasib di Atas Kijing Kuburan

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 1 November 2024 oleh

Tags: kota pahlawanmakam kembang kuningProstitusiSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO
Esai

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO
Eksplor

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.