Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Begini Rasanya Kesurupan: Tubuh Diambil Alih Macan, Tapi dalam Medis Disebut Cuma ‘Mekanisme Caper’ dan Gangguan Psikologis

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 Mei 2024
A A
Begini Rasanya Kesurupan: Tubuh Diambil Alih Macan, yang dalam Medis Disebut ‘Mekanisme Caper’ dan Gangguan Psikologis.MOJOK.CO

Ilustrasi Begini Rasanya Kesurupan: Tubuh Diambil Alih Macan, yang dalam Medis Disebut ‘Mekanisme Caper’ dan Gangguan Psikologis (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sejak kecil, Ali Imron (25) sudah pernah “berubah” menjadi apa saja. Saat marah, ia bakal mengaum-aum laiknya macan. Ketika bahagia nggak ketulungan, dia bisa tertawa tanpa henti dengan suara menyerupai nenek lampir. Atau, ketika sedang tak beruntung, Imron cuma bakal kejang sambil bicara ngelantur. Orang tua, tetangga, dan banyak orang lainnya, menyebut fenomena yang Imron alami itu dengan istilah “kesurupan”.

Imron tak ingat betul sejak kapan ia mulai sering kesurupan. Tapi yang pasti, gara-gara kerap “kemasukan” makhluk gaib, ia jadi harus pindah sekolah sana-sini sejak SD. Kata guru-gurunya, banyak teman sekelasnya yang ketakutan saat dia tiba-tiba menjelma jadi macan.

“Selama SD tiga kali pindah sekolah karena diprotes. Makanya aku cuma sekolah sampai lulus SD saja karena males saja pindah-pindah,” ujar lelaki asal Wonogiri ini, menceritakan pengalamannya kepada Mojok, Minggu (12/5/2024). 

Seandainya Imron menuntaskan pendidikannya, paling tidak kini dia sudah menyandang gelar sarjana. Sayangnya, karena sering “berubah wujud” tadi, tak banyak opsi pekerjaan yang bisa ia pilih sekarang. Kini, ia bekerja sebagai tukang kayu di industri mebel rumahan milik saudaranya. Sudah lima tahun lebih dia menggeluti profesi yang jobdesk-nya bikin meja, kursi, lemari, dan sejenisnya itu.

Rasanya kesurupan, masih sadar tapi nggak bisa mengendalikan tubuh

Imron tak bisa menjelaskan secara pasti dari mana ia “bertemu” dengan Si Macan, nenek lampir, atau makhluk lain yang sering merasuki jiwanya. Yang jelas, mereka kerap datang kapan saja. Sampai sekarang pun, kata Imron, kalau makhluk-makhluk itu iseng, ia bisa saja tiba-tiba berubah wujud jadi salah satu dari mereka.

“Nggak ada alasan, sering tiba-tiba masuk saja. Belum lama ini sudah sempat ndadi [kesurupan],” ujarnya.

Meski dipandang aneh oleh sebagian orang, sebenarnya Imron tak mengalami masalah apapun ketika kesurupan. Memang, saat awal-awal kesurupan ia masih sering ketakutan lantaran itu menjadi hal yang amat baru. Rasa capek yang berlebihan pun juga sangat kerap ia rasakan setelah kelar kesurupan.

“Otot pada kaku, kaki tengprongkol [ngilu di betis], ngos-ngosan kringetan. Capek nggak karuan lah.”

Namun, lama kelamaan Imron makin terbiasa. Rasa ngilu, ngos-ngosan, capek, sudah tak ia rasakan lagi. Kalau kata dia, ibarat orang olahraga, “awal-awal capek, tapi kalau sudah terbiasa bakal santai saja.”

Kata Imron juga, rasanya kesurupan juga tak sengeri yang dibayangkan orang-orang. Ia menepis anggapan kalau kesurupan itu sama artinya dengan “direnggut jiwanya”. Menurutnya, fenomena kesurupan yang ia alami cuma semacam “dipinjam” tubuhnya secara fisik. Sedangkan jiwanya masih utuh.

“Jadi tuh kita masih bisa melihat sekitar. Masih bisa melihat orang-orang. Bedanya kita nggak bisa ngomong, nggak bisa gerak, karena tubuh kita dah diambil alih sama makhluk lain. Ya aslinya kita gerak kemana-mana, entah loncat-loncat, tapi kita nggak bisa ngerasain. Baru kerasa capeknya pas makhluknya sudah keluar,” jelasnya.

Gangguan saraf yang menjadi mekanisme caper seseorang

Nyaris semua fenomena kesurupan dapat dijelaskan secara medis. Ahli Bedah Saraf RS Mayapada Tangerang Roslan Yusni Hasan, menjelaskan dalam dunia medis kesurupan diartikan sebagai Dissociative Trance Disorder (DTD) atau gangguan trans-disosiasi. 

Ia merupakan gangguan yang menunjukkan adanya kehilangan sementara aspek penghayatan akan identitas diri dan kesadaran terhadap lingkungannya. Imbasnya, dalam beberapa kejadian seseorang bakal berperilaku seakan-akan “dikuasai” oleh kepribadian lain, kekuatan gaib, malaikat atau “kekuatan lain”.

Alih-alih benar-benar kerasukan makhluk lain, dalam bahasa dokter yang akrab disapa Ryu Hasan itu, kesurupan sebenarnya adalah “mekanisme caper” seseorang.

Iklan
Begini Rasanya Kesurupan: Tubuh Diambil Alih Macan, yang dalam Medis Disebut ‘Mekanisme Caper’ dan Gangguan Psikologis.MOJOK.CO
Ryu Hasan menjelaskan pemaparannya terkait kesurupan sebagai “mekanisme caper” seseorang (tangkapan layar Youtube Ask The Expert)

“Pada dasarnya kesurupan adalah kondisi neurologis [konstelasi psikologis] di otak manusia, merupakan cara mendapatkan keuntungan [gain] untuk lepas dari tekanan mental yang tak disadari,” kata Ryu. “Itu sebabnya kesurupan tidak pernah terjadi pada saat orang sedang sendirian di kamar, selalu terjadi di depan orang lain,” sambungnya, memperjelas.

Biasanya, dalam kondisi kesurupan seseorang dapat melakukan gerakan-gerakan yang terjadi secara otomatis, tanpa ada beban mental, dan tercetus dengan bebas. Hal ini bikin otak menjadi rileks, melampaui tekanan mental yang ia rasakan–entah karena minder atau kurang percaya diri.

“Setelah fase itu dilewati, biasanya fisik orang yang habis kesurupan merasa lelah, tapi mental mereka mendapat kepuasan akibat rilis oksitosin. Ini disebut ‘primary gain’, otak emosi manusia mendapatkan keuntungan dengan perilaku kesurupan,” jelasnya.

“Selain kepuasan mental karena banjirnya oksitosin dalam sirkuit-sirkuit di otaknya, pelaku kesurupan bakal mendapat ‘secondary gain’, yakni diperhatikan orang lain,” sambungnya.

Menurutnya Ryu Hasan ada banyak faktor penyebut DTD atau awam sebut kesurupan tadi. Bisa faktor sosial, psikologis, bahkan spiritual. Dengan pemeriksaan yang teliti faktor-faktor penyebabnya bisa diketahui. Mengingat dalam keadaan kesurupan ada orang yang masih menyadari sepenuhnya–seperti Imron, ada yang menyadari sebagian, dan tak sedikit juga yang tak menyadari sama sekali.

Fenomena kesurupan pernah jadi disertasi, dan memang murni gangguan psikologis

Senada dengan Ryu Hasan, memang ada penjelasan masuk akal soal kesurupan. Alih-alih kemasukan siluman macan, Mak Lampir, atau makhluk astral lain, kesurupan merupakan tindakan psikologis yang ada kajian ilmiahnya.

Hal tersebut dijelaskan oleh Dosen psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Siswanto, dalam disertasinya berjudul “Konstruksi Keyakinan Agama Personal pada Individu yang Pernah Mengalami Gangguan Kesurupan“.

Begini Rasanya Kesurupan: Tubuh Diambil Alih Macan, yang dalam Medis Disebut ‘Mekanisme Caper’ dan Gangguan Psikologis.MOJOK.CO
Siswanto, memaparkan penjelasannya terkait fenomana kesurupan dalam kacamata psikologis (dok. Universitas Ciputra)

Dosen yang juga menulis buku berjudul Psikologi Kesehatan Mental: Awas Kesurupan! (2015) itu menjelaskan, penyebab utama kesurupan bukan demit, melainkan stres sosial dan mental yang ditekan ke alam bawah sadar. Sehingga, memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Kepercayaan mistis yang masih langgeng di masyarakat Indonesia, pada akhirnya bikin kesurupan menemui penjelasan irasional pula. Alhasil, penanganan terhadap para korban pun jadi kurang sehat. Padahal, berdasarkan pengalaman Siswanto menangani banyak korban kesurupan, banyak yang sembuh dengan metode ilmiah.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Kali Jagir Wonokromo, Tempat Orang Miskin Menghibur Diri hingga Mangkhiri Nyawa karena Tak Kuat Hidup di Surabaya yang Bikin Sengsara

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2024 oleh

Tags: fenomena kesurupankerasukankesurupankesurupan dalam dunia medisneurologipsikologiryu hasan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO
Seni

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran Ryu Hasan MOJOK.CO
Esai

Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran dr. Ryu Hasan

3 Juli 2025
Belajar Bahasa Inggris Cocok untuk Atlet Brain Rot kayak Kamu MOJOK.CO
Esai

Belajar Bahasa Inggris Adalah Tahap Awal untuk Memanusiakan Diri bagi Atlet Brain Rot seperti Saya

10 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.