Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Indonesia Perlu Belajar pada Korea, Maksimalkan Teknologi agar Budaya Kita “Menjangkiti” Dunia

Alya Putri Agustina oleh Alya Putri Agustina
24 September 2024
A A
Kata Sabrang, Indonesia perlu belajar pada Korea soal pengembangan kebudayaan MOJOK.CO

Ilustrasi - Kata Sabrang, Indonesia perlu belajar pada Korea soal pengembangan kebudayaan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Puthut EA, Hilmar Faird, dan Sabrang saling bertukar pikiran, bagaimana teknologi harusnya menjadi instrumen untuk membawa kebudayaan menjadi lebih berdaya saing di level dunia.

***

Teknologi adalah kunci utama yang dapat membawa kebudayaan Indonesia hidup dengan baik di masyarakatnya, sebuah bekal untuk tahap lebih lanjut: berkompetisi.

Kurang lebih begitulah yang Sabrang ungkapkan ketika ditanyai Puthut EA ihwal apa yang sebenarnya menjadi problem absennya kebudayaan Indonesia dalam kompetisi internasional, tak semeriah Korea (misalnya)?

Sabrang berangkat dari definisi budaya menurut kacamatanya. Untuk menjelaskan definisi yang ia miliki atas budaya, Sabrang menerangkan beberapa analogi dari suatu fenomena.

“Ketika kita melihat film yang menayangkan (adegan) orang jatuh dari tangga tetapi tidak sampai mati, itu yang membuat kita tertawa, terkejut, atau tersedih (bereaksi) bukan pada kejadiannya, tapi pada background musiknya,” tutur Sabrang dalam Putcast Live On Stage, Rabu (18/9/2024) di Pendapa Dalem Jayadipuran.

“Atau contoh lain, ketika ada (adegan) pahlawan akan masuk, pasti setting musik yang mereka tampilkan sedemikian rupa lebih dulu membuat kita bereaksi (musik-musik patriotis yang membikin kagum),” jelas Sabrang di hadapan 400-an lebih peserta yang menyimak.

Bertumpu dari definisi tersebut, Sabrang menyatakan bahwa ia melihat budaya sebagai suatu fenomena yang memiliki dua layer: konteks setting dan makna dari apa yang ditampilkan. Ia menggarisbawahi bahwa konteks setting merupakan komponen yang sangat penting. Sebab ia menentukan makna dari apa yang ditampilkan.

“Budaya adalah konteks di mana para manusianya bisa berekspresi. Oleh karena ini, dalam suatu kumpulan masyarakat, budaya adalah sesuatu yang emergence (niscaya/ muncul dengan sendirinya),” kata Sabrang dalam Putcast Live On Stage bertajuk “Tabur Rasa Jalan Kebudayaan” tersebut.

Indonesia perlu belajar pada Korea 

Ekspresi budaya muncul dari setting yang lahir dari interaksi manusianya. Budaya dan komunal manusia memiliki keterikatan hubungan yang saling memengaruhi: manusia menghasilkan budaya, budaya menghasilkan setting untuk manusianya.

“Islam sulit sekali masuk Jawa—memerlukan waktu 800 tahun—sebab ia (Jawa) sudah punya setting-nya sendiri dan tak bisa disodori setting baru (kebudayaan islam),” papar Sabrang mencontohkan.

“Akhirnya, Islam berhasil masuk ketika pembawaanya menyesuaikan setting yang ada. Orang Jawa suka nembang, pertunjukkan, makanan. Islam masuk melalui setting yang sama, dengan makna yang berbeda,” terangnya.

Proses ini menghasilkan pergeseran budaya sekaligus embrio dari pembentukkan setting baru. Kata Sabrang, hal ini lah yang saat ini sedang dilakukan Korea.

Kata Sabrang, Indonesia perlu belajar pada Korea soal maksimalkan teknologi pada kebudayaan MOJOK.CO
Putcast Live On Stage, Rabu (18/9/2024) di Pendapa Dalem Jayadipuran. (Mojok.co)

Korea memanfaatkan teknologi yang mampu menjadi media distribusi budaya semaksimal mungkin. Mereka berupaya membangun setting melalui penyebaran data yang amat besar dan dilakukan lintas negara.

Iklan

“Sekarang kalau kita lihat ada orang-orang joget sedikit dengan karakter tertentu gitu, kita langsung otomatis ngerti ini Korea (budaya K-Pop), karena mereka telah berhasil membangun setting,” ucap Sabrang.

Atas kesuksesannya memanfaatkan teknologi, hari ini Korea seolah ada di mana-mana. Korea jadi gelombang budaya yang menjangkiti banyak negara lain, yang bahkan mampu keluar dari lingkup asia: Amerika, Eropa, pun Australia. Begitu masif, serupa bom amat besar yang jangkauan ledakannya begitu luas.

Ketika Indonesia absen dalam memanfaatkan teknologinya, maka tak ayal ruang kosong itu akan dengan mudah diambil oleh orang-orang yang mendominasinya (budaya asing, dalam hal ini kebudayaan Korea).

“Karena ini, masuk akal kalau generasi muda sekarang di-setting dengan budaya luar, karena kita sendiri nggak bisa menyuguhkan banyak sumber di hal-hal yang dicari oleh mereka,” tegas Sabrang.

Peran teknologi dalam pembentukan setting 

Setting tidak lahir dari ekspresi budaya, tapi dari emergence, atau yang juga Sabrang sebut sebagai rasan-rasan. Dari obrolan ke obrolan, lamunan ke lamunan: proses pencarian ide sebelum penciptaan suatu karya.

Maka dari itu, kunci dari memaksimalkan setting adalah memaksimalkan akses informasi. Pemaksimalan akses informasi menjembatani kebudayaan untuk dapat tumbuh subur.

“Misalkan orang lagi nonton wayang lalu bertanya, Prabu Dewanata itu siapa sih? Maka dia akan melakukan riset—melihat Google,” terang Sabrang.

“Fakta psikologi sekarang mengatakan, atensi span kita hanyalah 8 detik. Tapi, problem kita adalah informasi tidak tersedia just in time,” imbuhnya.

Pola-pola seperti ini, di mana pertanyaan-pertanyaan kecil tak mampu terjawab dalam waktu yang singkat, merupakan bentuk “lost opportunity” dari usaha penciptaan setting. Sebab, pertanyaan awal mengundang pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Pertanyaan lanjutan menciptakan suatu setting yang menjadi akar pembentukan suatu karya.

Kegagalan menjawab pertanyaan awal mengakibatkan orang tak lagi mau mengajukan pertanyaan lanjutan. Emergence itu tersendat, bahkan mandek.

“Karya hanya akan muncul ketika setting itu sudah jadi. Ketika terjadi banyak obrolan dan diskusi maka akan muncul karya, muncul gagasan, dan seterusnya,” tegas vokalis band Letto itu.

Database kebudayaan jadi PR Indonesia

Sederhananya, PR Indonesia adalah menyediakan ruang-ruang obrolan itu muncul, dan satu-satunya cara adalah dengan menyediakan kemudahan akses informasi tadi. Ketika ada masyarakat yang bertanya, informasi tersedia secara langsung, secepat mungkin!

Untuk menjawabnya, Sabrang  mengharapkan peran pemerintah agar dapat hadir dengan menyuguhkan database kebudayaan sebanyak-banyaknya kepada publik.

“Hal-hal seperti ini nggak bisa diserahkan kepada masyarakat, tetapi pemerintah. Bukan saya memaksa pemerintah, tapi memang pemerintah lah yang punya sumber daya atas itu, yang punya power untuk menghimpun data kebudayaan dari seluruh wilayah Indonesia,” tekan putra budayawan kondang Emha Ainun Nadjib tersebut.

Problem pendataan dalam aspek  kebudayaan

Problem kebudayaan yang dilempar Sabrang tersebut, hari itu juga langsung sampai di telingan Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Hilmar Farid, yang juga tergabung dalam forum.

“Setuju sekali, ya, bahwa ini merupakan Pekerjaan Rumah yang sangat besar direktorat kebudayaan. Dalam amanat Undang-Undang, ini disebut sebagai sistem pendataan kebudayaan terpadu, yang seharusnya menjadi repository dari semua catatan atas berbagai aspek kebudayaan; pemikiran, praktik, dan seterusnya,” sambut Dirjen Kebudayaan Indonesia yang menjabat sejak 2015 itu.

Hilmar menjelaskan bahwa saat ini, data-data itu sebenarnya telah terkumpulkan dalam data pokok kebudayaan, di mana akumulasi informasi dari berbagai data terhimpun.

Putcast Live On Stage, Rabu (18/9/2024) di Pendapa Dalem Jayadipuran
Hilmar Farid dalam Putcast Live On Stage, Rabu (18/9/2024) di Pendapa Dalem Jayadipuran. (Mojok.co)

“Tapi yang menjadi problem adalah, ini merupakan himpunan data yang bisa dibilang belum aksesibel,” ucapnya.

Ia sendiri mengakui bahwa database informasi belum bisa langsung disuguhkan kepada masyarakat yang bertanya, sebagaimana apa yang disinggung Sabrang tadi.

Hilmar mengungkap, salah satu persoalannya adalah tidak semua yang melakukan praktik pengumpulan data lapangan adalah orang-orang yang berhubungan dengan publik. Sehingga, mereka tak merasa punya kewajiban untuk mengomunikasikan atau mempublikasikan hasil temuannya itu.

“Orang-orang yang mengomunikasikan bekerja dalam unit yang berbeda dari orang-orang yang mengumpulkan, sehingga nggak ketemu,” kata Hilmar.

Digitalisasi warisan budaya yang jauh dari lengkap

Hilmar menyetujui teknologi punya peran vital dalam penerusan informasi budaya dan sejarah dalam berbagai tingkat. Seperti dalam pengkomunikasian himpunan naskah kuno—dalam berbagai bahasa kuno—yang ada di Indonesia, misalnya.

Naskah kuno adalah sumber data yang dapat jadi acuan penting dalam melihat budaya dan sejarah. Mengingat, ia adalah himpunan pengetahuan yang terakumulasi sejak tulisan dan kertas mulai muncul.

Digitalisasi naskah kuno ini semakin urgent untuk dilakukan. Sebab, pegiat Filologi—ilmu pengkaji naskah kuno—semakin jarang dijumpai peminatnya.

“Sayangnya, ini adalah hal yang belum kita mulai sekarang. Padahal misalnya ini digunakan, percepatan akumulasi pengetahuan baru juga akan luar biasa,” ucapnya.

 Putcast Live On Stage, Rabu (18/9/2024) di Pendapa Dalem Jayadipuran
400-an lebih peserta menyimak diskusi Puthut EA, Sabrang, dan Hilmar Faird di Putcast Live On Stage. (Mojok.co)

Indonesia berbeda dengan Belanda. Kata Hilmar, investasi atas digitalisasi di Belanda telah jauh lebih mapan.

“Jujur, investasi ke arah sini (digitalisasi) masih sangat kecil di Indonesia. Di Belanda, mereka telah memulai digitalisasi koran-koran lamanya, mulai sekitar abad 18 sampai saat ini,” cerita Hilmar.

Namun, Hilmar juga mengungkap bahwa digitalisasi bukannya sama sekali belum dilakukan oleh Indonesia. Kita punya, tapi jauh dari lengkap. Di Borobudur misalnya, saat ini ada proyek bernama “Borobudurpedia” yang memfasilitasi akses informasi atas Borobudur.

“Inisiatif seperti ini, (digitalisasi seperti Borobudurpedia), saya setuju banget harusnya dibuat jauh lebih sistematis dan jauh lebih besar,” tutur Hilmar.

“Makanya, seyogianya investasi untuk membuka akses himpunan data budaya yang sangat banyak ini jadi hal yang harus diprioritaskan sebagai PR besar kita,” imbuhnya.

Terakhir, Hilmar berharap  bisa menjalin kolaborasi antara orang-orang yang ahli dalam bidang pendayagunaan teknologi. Sehingga ke depan, dapat ditemukan perangkat-perangkat yang dapat membantu proses percepatan pengumpulan akumulasi pengetahuan.

Penulis: Alya Putri Agustina
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Geliat Sambilegi Kidul Sleman, Kebun Singup Disulap Pertamina Jadi Sasana Jemparingan yang Untungkan Warga

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 25 September 2024 oleh

Tags: dirjen kebudayaanhilmar faridkebudayaanpilihan redaksiPutcastsabrang
Alya Putri Agustina

Alya Putri Agustina

Artikel Terkait

Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO
Urban

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO
Catatan

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO
Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Penjelasan Kemendiktisaintek soal pengubahan program studi (prodi) Teknik menjadi Rekayasa MOJOK.CO

Mengubah Nomenklatur Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Apa Tujuannya?

16 Mei 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.