Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Jogja Jadi Kota Sinema, Upaya Mendidik Selera Penonton di Tengah Gempuran Film Horor dan Perselingkuhan yang Kosong Nilai

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Agustus 2024
A A
Jogja Jadi Kota Sinema, Upaya Mendidik Selera Penonton di Tengah Gempuran Film Horor dan Perselingkuhan yang Kosong Nilai MOJOK.CO

Ilustrasi - Jogja Kota Sinema, wacana dari festival film menjadi identitas baru. (Aly Reza/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jogja Kota Sinema sebagai bagian dari rangkaian Kotabaru Heritage Film Festival 2024 menjadi momentum untuk saling bertukar gagasan dan keresahan perihal industri film tanah air. Bagaimana industri film kita sering kali hanya bicara soal uang yang, di saat bersamaan, mengenyampingkan nilai. Alhasil, dalam contoh yang paling konkret dan aktual, film-film kita hari-hari ini cenderung didominasi tema horor dan perselingkuhan.

***

Iklan

2024 ini adalah tahun kedua Kotabaru Heritage Festival dihelat oleh Dinas Kebudayaan Kota Jogja. Berlangsung pada 9, 10, dan 11 Agustus 2024 di SMAN 3 Yogyakarta, Gondokusuman, Kota Jogja.

Saya memang mengincar datang di hari kedua, Sabtu (10/8/2024) karena ada ruang public lecture cukup menarik bertajuk “Jogja Kota Sinema: Integrasi Warisan Budaya dan Ruang Publik”. Foto sutradara kawakan, Garin Nugroho, terpampang di poster sebagai pengisi. Saya pun menuju lokasi pada pukul 14.30 WIB, setengah jam sebelum public lecture berlangsung.

Nostalgia film lawas dan berkenalan dengan film heritage di Jogja

Secara umum, Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) sebenarnya merupakan festival untuk film-film bertema heritage, yang secara khusus dan spesifik menonjolkan unsur warisan budaya dalam cerita dan visualnya.

Ada berbagai film dengan tema tersebut yang diputar sejak hari pertama (dan dijadwalkan berlangsung hingga hari terakhir). Judul-judulnya mungkin jarang terdengar oleh penonton film arus utama.

Selain itu, KHFF juga menghadirkan film-film lawas legendaris yang diputar di sebuah layar tancap besar di Lapangan Widoro Kandang (lapangan SMAN 3 Yogyakarta) bertajuk “Layar Kobar”. Terlebih yang berlatar belakang Jogja. Di antara film lawas yang ditayangkan: 1.) Cintaku di Kampus Biru (1976) karya Ami Prijono. Sebuah film romansa mahasiswa di sebuah kampus Jogja. 2.) Kejarlah Daku Kau Ku Tangkap (1986) karya Chaerul Umam. Juga bertema romansa, dan 3.) Serangan Fajar (1982) karya Arifin C Noer. Yakni film berlatar 1945-1947 tentang perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

Jogja Kota Sinema di Festival Film KHFF, Keresahan Film Indonesia yang Isinya Cuma Horor dan Perselingkuhan MOJOK.CO
Pameran Arsip Sinema di lobi Grha Padmanaba. (Aly Reza/Mojok.co)

Di lapangan itu pula penuh dengan tenant Pasar Kobar by Pasar Kangen. Sore saat saya tiba di sana, Pasar Kobar yang menjual aneka jajanan tradisional sudah ramai didatangi pembeli.

Tapi saya memutuskan langsung menuju ke Grha Padmanaba, venue pemutaran film heritage sekaligsu public lecture “Jogja Kota Sinema” bersama Garin Nugroho.

Deretan arsip perfilman tanah air tersaji di lobi Grha Padmanaba yang disulap menjadi ruang pameran Sinema Berlabuh di Jogja. Mulai dari poster film lawas, foto-foto bioskop di Jogja zaman dulu, hingga naskah skenario film tempo dulu.

Jogja layak jadi Kota Sinema

Ada puluhan peserta yang menghadiri public lecture “Jogja Kota Sinema”. Pelajar, mahasiswa, hingga pera sineas muda Jogja.

“Jogja punya ekosistem pembentuk untuk ditahbiskan sebagai kota sinema,” tutur Direktur KHFF, Siska Raharja dalam kesempatan tersebut.

Menurut Siska, Jogja punya banyak modal untuk kemudian memiliki identitas sebagai Kota Sinema. Antara lain:

Pertama, modal sosial. Jejaring sineas di Jogja sangat kuat, baik ke sesama sineas, relasi luar, maupun relasi akar rumput. Kedua, modal alam, warisan budaya, dan ruang publik. Tiga unsur tersebut tentu sangat menunjang perfilman di Jogja apalagi jika misinya adalah untuk memperbanyak film dengan tema spesifik warisan budaya (heritage). Ketiga, modal intelektual. Di mana Jogja memiliki kampus dan komunitas-komunitas dengan konsentrasi di bidang perfilman.

Jogja Kota Sinema di Festival Film KHFF, Keresahan Film Indonesia yang Isinya Cuma Horor dan Perselingkuhan MOJOK.CO
Poster film lawas dalam Festival KHFF 2024 Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

KHFF merangkum data perjalanan pendidikan perfilman di Jogja. Ringkasnya, sejak 1950-an, di Jogja sudah tumbuh sekolah-sekolah film yang turut memainkan peran dalam pertumbuhan sinema Indonesia. Pada medio tersebut, berdiri Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Dari ASDRAFI lahir nama-nama seperti Teguh Karya, Arifin C Noer, Putu Wijaya, WS Rendra, Anwar AN, Amri Yahya, Koesno Sudjarwadi, Maruli Sitompul, Motinggo Busye, Chaerul Umam, Hendra Cipta, Alex Suprapto Yudho, Sri Harjanto Sahid, dan Masrom Bara.

Saat ASDRAFI tak beraktivitas lagi, pada 1981 lahir Akademi Teater dan Film Indonesia (ATFI). Hingga kemudian lahir Indonesia School of Arts GRK ASDRAFI (InSAGA) pada 2021 atas inisiasi dari para alumni ASDRAFI.

Belum lagi sederet kampus yang memiliki konsentrasi studi di bidang film. Mulai dari Institut Seni Indonesia (ISI), Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM), Jogja Film Achademy (JFA), hingga Sekolah Tinggi Multimedia “MMTC”.

“Terlebih kita sekarang punya modal keempat. Modal ekonomi dan kebijakan. Karena ada Dana Keistimewaan untuk mendukung para filmmaker di Jogja,” terang Siska.

Iklan

Apalagi Jogja sering mengadakan festival-festival film. Sebut saja misalnya Jogja-Netac Asian Film Festival (JAFF).

Upaya mendidik selera penonton

Garin Nugroho pun sepakat dengan Siska, bahwa Jogja memang sudah layak untuk menyandang status Kota Sinema. Namun, ia tidak memungkiri kalau butuh proses panjang untuk kemudian mewujudkan Jogja Kota Sinema, terlebih jika proyeksinya adalah mengintegrasi warisan budaya dan ruang publik sebagai unsur utama dalam sebuah film.

Karena mayoritas peserta yang hadir memiliki keresahan yang sama; warisan budaya dan ruang publik kerap kali justru diasosiasikan oleh para sineas atau filmmaker dengan aspek mistis.

Coba saja perhatikan beberapa film horor Indonesia yang beredar dari tahun ke tahun. Salah satu yang kerap muncul adalah menghadirkan sebuah warisan budaya—misalnya budaya Jawa—sebagai sesuatu yang lekat dengan setan. Gamelan alat untuk memanggil setan. Visualisasi penari sebagai sosok demit. Wayang kulit justru menjadi ritual berenergi mistis.

Jogja Kota Sinema di Festival Film KHFF, Keresahan Film Indonesia yang Isinya Cuma Horor dan Perselingkuhan MOJOK.CO
Garin Nugroho dan Siska Raharja dalam public lecture “Jogja Kota Sinema”. (Aly Reza/Mojok.co)

Begitu juga dengan misalnya ada bangunan kuno bersejarah. Kemudian dibuat menjadi pusat teror makhluk halus. Kenapa tidak disuguhkan saja murni sebagai sebuah warisan budaya?

“Karena budaya kita sekarang budaya massa, budaya viral. Orang bikin film hanya karena ngejar uang dan viralnya. Nilai atau values-nya diabaikan,” ungkap Garin tak bisa menyembunyikan keheranannya.

“Lihat saja film-film Indonesia baru-baru ini. Temanya perselingkuhan semua. Tapi nggak ada values apa-apa yang didapat. Cuma menyajikan pertengkaran-pertengkaran,” sambungnya.

Beda misalnya dengan drama Korea. Oke, temanya perselingkuhan. Tapi sering kali ada sisipan-sisipan nilai yang lain. Penonton bisa mengambil atau belajar tentang hukum. Misalnya di dalam drama ada dokter, maka ada pemahaman baru juga seputar hal medis. Tidak seperti film atau drama Indonesia yang kalau ada dokter, tugasnya di scene tersebut ya mentok cuma ngecek detak jantung, seolah-olah operasi, lalu berakhir dengan kalimat “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin”. Penonton tidak mendapat pemahaman apapun atas profesi dokter dan penanganan medis.

Belajar dari festival film India

“Tapi kan memang penonton kita sukanya seperti itu, Mas? Lebih suka film-film yang nggak ada nilai,” celetuk seorang peserta.

“Loh, tapi kan selera itu bisa dididik. Itulah kenapa festival ini (KHFF) butuh proses panjang untuk kemudian bisa membuat penonton mulai terbiasa dengan film-film berbobot,” timpal Garin.

Garin menyontohkan, ia pernah menjadi juri dalam sebuah festival film di Heyderabad, India. Dari festival itu muncul sebuah film tema anak-anal dari Iran, hanya saja dengan cara pengemasan non budaya massa. Tentu tidak ada satu pun anak-anak India yang tertarik.

Namun, bertahun-tahun kemudian, setelah selera penonton dididik secara perlahan-lahan, nyatanya film tersebut pun akhirnya mendapat pasar yang cukup besar.

“Ya itulah kenapa festival ini dikemasnya nggak serius-serius dulu. Ada Pasar Kobar-nya. Ada hiburan musiknya. Oke, saat ini mungkin orang datang karena ada Pasar Kobar sebagai daya tarik. Tapi lama-lama nanti terbentuk bahwa orang yang datang ya memang pengin menikmati film heritage,” ucap Siska menambahi keterangan Garin.

Jogja terbuat dari tontonan

“Sejarah Jogja ini sejarah tontonan,” kata Garin mempertebal optimisme bahwa Jogja memang layak menjadi Kota Sinema.

Sebab, sejak awal era kolonial (awal 1900-an) hingga menjelang 1945, di Jogja sudah berdiri setidaknya 18 bioskop yang didirikan oleh pebisnis-pebisnis Barat. Beberapa di antaranya, Royal, Rex, Flora, Al Hambra, Capitol. Luxor, dan Asta. Al Hambra tercatat sebagai bioskop tertua di Jogja karena berdiri pada 1916.

Pasca kemerdekaan, jaringan bioskop di Jogja kemudian mulai dijalankan pebisnis lokal. Ada Bioskop Soboharsono, Permata, Widya, Ratih, Rahayu, Presiden, Galaxy, Senopati, Mataram, Arjuna, Istana, Regent, Empire, Mitra/Palace, Golden, Yogya Thaetre, dan Royal Theatre.

Kini bioskop-bioskop tersebut memang sudah berubah bentuk atau bahkan hilang tanpa bekas. Tapi, iklim tontonan (menonton bioskop) di Jogja hingga kini masih sangat kuat. Di Jogja bahkan ada Empire XXI, sebuah gedung yang khusus untuk nonton film. Ada banyak studio di dalamnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Gedung Singa Surabaya, Gedung Tua Sejak 1903 yang Simpan Simbol Mesir Kuno dan Kenangan Orang Belanda Selama 123 Tahun

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2024 oleh

Tags: festival filmFilmfilm festivalfilm indonesiaGarin NugrohoJogjajogja kota sinemakhffkotabaru heritage film festival
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius MOJOK.CO

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius

17 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.