Nū bakal membawa pertunjukan musik live coding ke festival Gaung Gumaung 2026 di Yogyakarta, menawarkan eksperimen sonik dari kode pemrograman.
***
Bagi Nū, layar komputer adalah segalanya. Di kamarnya di Melbourne, Australia, seniman suara keturunan Etiopia-Australia ini rutin menatap layar, menyusun baris demi baris kode pemrograman untuk menciptakan sebuah “dunia baru”.
Lewat ketikan jarinya, Nū membangun TECHNIFRO-185–sebuah planet fiktif di dunia maya yang menjadi tempatnya lari dari kenyataan. Di ruang virtual buatan ini, Nū menyalurkan berbagai perasaannya, mulai dari kenangan masa lalu, proses menyembuhkan diri, hingga rasa sedih yang mendalam.
“Melepaskan perasaan-perasaan itu di suatu tempat yang bukan di bumi, sangat membantuku,” ujar Nū, dikutip dari Mixmag.
Meracik musik menggunakan coding
Untuk membuat musik di “planet” tersebut, Nū tidak memakai alat musik biasa seperti piano, gitar, atau synthesizer. Ia justru menjadikan kode pemrograman (coding) sebagai alat musik utamanya.
Dengan bantuan aplikasi khusus seperti Sonic Pi dan Strudel, ia merangkai nada-nada yang unik dan naik-turun, lalu menggabungkannya dengan nyanyian yang ia ciptakan secara spontan.
Cara kerjanya cukup unik. Nū biasanya mengatur tangga nada tertentu di komputernya, lalu menyuruh komputer memilih nada secara acak dalam waktu yang berbeda-beda untuk memanjangkan lagunya.
Hasilnya adalah musik yang terdengar kaya dan penuh warna, lengkap dengan paduan suara berbagai bahasa, termasuk bahasa Amharic yang menjadi identitas budaya asalnya.
Dari Berlin hingga New York, kini bakal tampil di Gaung Gumaung 2026
Karya dari dunia imajinasinya ini sudah membawa Nū tampil di banyak panggung dunia. Musiknya pernah terdengar di Berlin, New York, London, Malaysia, hingga Cina.
Pada awal tahun 2026, ia bahkan diminta membuat musik latar untuk film pendek berjudul A Being, Of Course garapan sutradara Kalu Oji, yang tayang di gedung pertunjukan bergengsi, Sydney Opera House.
Kini, Nū bersiap membawa pengalaman musikalnya itu kepada masyarakat Yogyakarta. Ia dijadwalkan menjadi salah satu penampil utama dalam acara tahunan musik elektronik edisi kedua, Gaung Gumaung 2026, yang akan digelar pada 7 hingga 13 September 2026.
Di Yogyakarta nanti, Nū akan tampil bersama musisi-musisi lokal. Salah satunya Rangga Purnama Jati, lulusan musikologi ISI Yogyakarta yang rutin bereksperimen dengan musik komputer lewat program Max MSP.
View this post on Instagram
Beda dengan AI
Pertunjukan musik dari ketikan kode yang dibawakan Nū dan Rangga sering kali membuat orang awam penasaran, tapi juga rentan memicu salah paham. Apalagi di tengah ramainya tren teknologi kecerdasan buatan (AI) saat ini.
Banyak orang mengira musik komputer semacam ini dibuat secara otomatis oleh AI.
Padahal, para pemusik di bidang ini menegaskan bahwa live coding (memprogram musik secara langsung) sangat berbeda dengan AI.
Andreas Siagian dari Gaung menjelaskan, dalam live coding, tidak ada sistem robot pintar atau mesin dari luar yang otomatis membuat lagu hanya dari satu kalimat perintah (prompt). Semuanya dikerjakan secara manual, di dalam komputer mereka sendiri, dan dimainkan secara langsung saat itu juga di atas panggung.
Musisinya mengetik sendiri semua struktur lagu satu per satu. Mulai dari mengambil potongan suara yang ada di harddisk laptop mereka, mengatur tempo ketukan (BPM), hingga mengulang melodi tanpa menyuruh mesin untuk berpikir.
“Kebebasan inilah yang membuat musik mereka terasa lebih cair, apa adanya, dan tidak kaku seperti musik pop pada umumnya yang beredar di pasaran,” ujarnya saat ditemui Mojok, Selasa (1/9/2026).
Semangat kebebasan berkreasi inilah yang menjadi fondasi festival Gaung Gumaung 2026. Festival ini didirikan pada 2024 oleh tiga produser dan penggerak seni dari Yogyakarta—Ari Wulu, Andreas Siagian, dan Wok The Rock.
Sekarang, tim kurator GAUNG juga dibantu oleh musisi Leilani Hermiasih (Frau) dan seniman visual Uma Gumma untuk menyusun program acara yang lebih segar.

Gaung Gumaung 2026 menampilkan 40 seniman selama lima hari di sembilan tempat berbeda
Bekerja sama dengan 18 kelompok seni, festival ini menampilkan lebih dari 40 seniman di sembilan tempat yang berbeda. Sepanjang 7 sampai 11 September, acara akan berpusat di Gaung Diskotek di Langgeng Art Foundation.
Tempat ini menjadi ruang publik gratis yang menyediakan pameran alat musik buatan lokal, toko album fisik, ruang dengar musik, sampai kelas belajar membuat efek gitar.
Selama sepekan, kemeriahan acara juga akan menyebar ke banyak titik. Ada acara kumpul musisi hiphop bareng Jumat Gombrong di kawasan Malioboro, panggung musik di kampung Wijilan bersama Tuesday Louder, konser musik bising (noise) di dalam bus kota yang melaju bersama Jogja Noise Bombing, hingga pertunjukan perpaduan musik klasik dan elektronik bersama Art Music Today.
Puncak acaranya akan ditutup dengan kegiatan berkemah bernama Klub Menepi #9 pada 12 sampai 13 September 2026. Lokasinya ada di hutan bambu lereng Gunung Merapi, yang dulunya merupakan bekas tambang pasir tapi sudah dihijaukan kembali oleh warga setempat.
Selain menikmati musik elektronik untuk berdansa hingga pagi, pengunjung juga diajak menanam pohon sorgum dan gayam bersama warga Kelompok Tani Hutan (KTH), jalan-jalan menyusuri alam, serta mengobrol langsung soal menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
Sebagian besar acara di festival Gaung Gumaung 2026 ini bisa dinikmati secara gratis. Panitia hanya menjual tiket berbayar untuk dua program khusus. Pertama, acara Noise on the Bus yang tiketnya dijual Rp15.000 secara tunai. Kedua, acara kemah Klub Menepi #9 di lereng Merapi, dengan harga tiket mulai dari Rp100.000, tergantung dari jenis paket tenda yang dipilih oleh pengunjung.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan